ulasan penting

Ulasan Kursi Gamer Seharga Rp7,2 Juta, Pokoknya Nyaman Bener Bray

Kursi gaming Maxnomic Ergoceptor Pro adalah alasan sah menghambur-hamburkan uang jika kamu seorang gamer akut
7.8.18

Selama berbulan-bulan, kursi kantor bikin saya keki. Saya bekerja dari rumah dan bermain video game lewat PC. jadi, saya sering banget duduk di depan komputer. Sudah dua kali saya menyisihkan uang untuk membeli kursi gaming yang “keren.” dua kursi itu lumayan. $100 (setara Rp1,4 juta) sebijinya. Kesamaan kedua kursi itu bukan cuma masalah harga. Nasib keduanya juga sama. Rusak setelah saya duduki kurang dari enam bulan.

Iklan

Jangan salah sangka dulu ya. Badan saya biasa saja. Jauh dari kesan gembrot. Makanya, saya enggak pernah memberi beban yang tak bisa ditanggung oleh kursi kantor. Hanya saja, kursi-kursi ini memang didesain agar nyaman saat pertama kali diduduki, setelah itu kenyamanannya menguap sedikit demi sedikit. Parahnya, tiap kali saya bermain game online bersama teman-teman saya, kursi saya selalu berderik tiap kali saya geser. Bukan masalah sebenarnya bagi saya. Cuma begitu suara deritan itu tertangkap mikrofon headset saya dan sampai ke kuping teman-teman saya, mereka langsung geram dan cepat-cepat minta aku mengupgrade kursi kerja cum kursi gamingku sebelum berhenti menggunakan fitur voice chat.

Saya tahu yang saya dambakan. Saya mau kenyamanan. Saya mau kemewahan. Saya mau kursi gaming yang bisa menampung pantat berkeringat saya sampai 12 jam sehari. Ah pokoknya, saya pengin banget punya kursi gamer pro.

Kursi-kursi kerjaku yang lain—yang aku cadangkan—secara teori memag nyaman. Yang satu punya tempat duduk dari kulit yang konon didesain untuk kenyaman maksimal penggunakanya. Sayang, kursi ini gampang berderit. Plus, kalau dipakai lama, kursi ini bisa jadi biang kerok sakit pinggang. Yang kedua adalah kursi kerja dengan lekukan yang ergonomis. Desain memang disengaja seperti ini agar pekerja yang ngantuk di kantor tak jatuh dari tempat duduknya. Suatu hari kucing saya naik ke kursi ergonomis ini. Entah karena alasan apa, dia mencabik-cabik kursi itu. Alhasil, setelah enam bulan diduduki, kursi ini terasa seperti papan tripleks.

Iklan

Sebenarnya, kalau mau sehat sih, saya mesti beli treadmill. Tapi, ah bodo amat. Saya ini gamer. Saya enggak mungkin menghabisi Alliance di World of Warcraft sambil treadmill-an. Jangan berjalan di atas treadmill, saya malas berdiri kalau sudah asik menjelajah di No Man’s Sky dan nonton film dokumenter di waktu yang sama. Intinya, saya berhak duduk. Eh saya koreksi, saya berhak duduk dengan kursi gaming dengan derajat kemewahan yang pol.

Gamer dan streamer profesional jelas tahu apa yang saya maksud. Pria dan perempuan pemberani ini duduk berjam-jam di depan layar komputer dan men-streaming tiap gerakan mereka ke Twitch, cuma untuk menyediakan tonton menyegarkan bagi kita. Pengorbanan atau pekerjaan macam ini pasti membutuhkan kursi gaming yang nyaman—sama seperti yang saya cari. Terdapat banyak merek kursi gaming. Beberapa yang paling ternama adalah DXRacer, Maxnomic, OPseat. Tapi, asal kamu tahu, pada dasarnya semuanya sama. Kursi gamer itu lebih mirip kursi mobil daripada kursi kantor. Kursi gamer dibangun lebih kuat dan punya sayap yang menukik di kedua sisinya agar bokongmu nyaman duduk di atasanya. Gampangnya, kursi gamer adalah kursi mobil balap yang dipakai di lingkungan kerja.

Setelah melakukan riset seharian, saya menemukan kursi yang saya dambakan: Maxnomic Ergoceptor Pro. Tanpa menunggu lama, saya membelinya dengan harga $500 (sekitar Rp7,2 juta), menunggu beberapa hari dan begitu datang, saya langsung merakit kursi itu tanpa babibu.

Bisa dibilang ini adalah pembelanjaan Rp7,2 juta terbaik saya setelah sekian lama. Awalnya, kursi gamer kulit ini agak kurang nyaman dipakai, tapi begitu tubuhmu terbiasa, kamu tak berpaling ke lain kursi. Saat duduk di atasnya, kamu bisa berputar, memiringkan dan meluruskan badan ke belakang. Sandaran lengannya bisa dinaikan, diturunkan atau digeser ke samping. Sebuah bantal dipasang tepat di bawah pingggang saya. Sementara satu bantal lainnya, tepat berada di bagian bawah leher saya, memastikan otak gamer saya aman dan nyaman di tempatnya.

Saya bahkan rela membayar lebih untuk bordiran nick game saya di bagian atas kursi. Setelah membeli kursi ini, saya merasa sudah jauh berevolusi. Saya tak lagi diganggu oleh kursi-kursi kerja yang tak nyaman diduduki dan berisik. Masa depan adalah milik semua gamer dan, guna menyambutnya, tiap gamer semestinya punya singgasana mahal seperti kursi gamer saya untuk memastikan mereka nyaman mengarungi petualangan digital mereka.

Tubuh saya boleh saja menua dan perlahan rusak, tapi berkat kursi gamer seharga Rp7,2 juta, saya tak sedikitpun merasakannya.

Terima kasih kursi gamer mahal!