Kesehatan Mental

Indikator Orang Depresi: Kadar Satu Unsur Kimia di Tubuhnya Lebih Rendah dari Normal

Bagi kalian yang buta kimia, artikel ini akan membahas banyak hal seputar unsur LAC.
12.9.18
Foto ilustrasi oleh Alex Alexander 

Penelitian baru menunjukkan depresi besar kemungkinan dipicu tingkat darah kandungan zat yang disebut asetil-L-karnitin (LAC). Ini julukan bagi asam amino yang muncul secara alami di dalam tubuh.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Prosiding National Academy of Sciences, orang-orang dengan gangguan depresi mayor (MDD) memiliki tingkat substansi yang lebih rendah daripada rekan sejawatnya yang secara mental sehat. Terlebih lagi, penelitian menunjukkan kekurangan pada LAC mencerminkan tingkat keparahan depresi pasien. Disimpulkan bila pasien dengan kadar LAC terendah memiliki gejala derepsi terburuk. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan penanda biologis baru untuk depresi—dan, boleh jadi, jalur baru untuk pengobatan.

Temuan itu tidak sepenuhnya tidak terduga. Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara defisiensi LAC dan depresi pada hewan pengerat. (Yah, "perilaku seperti depresi" lah, karena sulit untuk mendiagnosis depresi pada tikus.) Setelah diberikan suplemen LAC, kondisi mereka berubah dalam beberapa hari—sementara perawatan lainnya memakan dua hingga empat minggu. Itu juga berlaku untuk manusia: Perlu beberapa minggu untuk mengetahui apakah obat depresi berfungsi.

Untuk melihat apakah manusia yang depresi memiliki tingkat LAC yang sama rendahnya, peneliti merekrut laki-laki dan perempuan berusia 20 hingga 70 tahun yang telah dirawat di rumah sakit sekitaran New York karena depresi. Mereka menjalani tes darah. Riwayat medis mereka dikumpulkan; 28 pasien mengalami depresi sedang, sementara 43 mengalami depresi berat. Mereka dicocokkan dengan orang sehat dengan jenis kelamin dan usia yang sama.

Iklan

Membandingkan orang yang sehat dan depresi, para peneliti menemukan orang depresi memiliki tingkat LAC yang jauh lebih rendah. Ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan, dan tingkat terendah ditemukan di antara mereka dengan gejala terburuk—mereka yang paling resisten terhadap pengobatan, atau yang memiliki onset depresi paling awal. Eksposur anak terhadap kekerasan atau riwayat pelecehan, penelantaran, atau kemiskinan juga berkorelasi dengan tingkat LAC yang lebih rendah.

"Kami telah mengidentifikasi satu standar biologis yang penting untuk membantu indikasi seseorang mengalami gangguan depresi berat," demikian keterangan Natalie Rasgon, profesor psikiatri dan ilmu perilaku dari Stanford yang terlibat penelitian ini, saat diwawancarai Stanford Medicine. Menghubungkan defisiensi-LAC terhadap depresi dapat meningkatkan pemahaman kita tentang faktor-faktor biologis untuk depresi, serta menyarankan cara-cara baru untuk pengobatan.

"Temuan kami adalah makalah pertama yang mengatakan orang-orang dengan depresi klinis memiliki kadar molekol tertentu yang rendah," kata James Potash, profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Johns Hopkins University School of Medicine. "Pertanyaannya adalah: Dapatkah Anda menggunakan asetil-L-karnitin sebagai pengobatan untuk sekelompok orang dengan depresi?"

Potash, yang tidak terlibat dengan penelitian tersebut, melihat potensi di masa mendatang yang perlu dukungan data, terutama bila bentuknya adalah uji coba klinis acak. “Hipotesisnya yang kita punya sekarang seperti ini, sebagian orang—mereka yang telah diukur dan memiliki tingkat asetil-L-karnitin yang rendah dalam sistem mereka—akan menjadi orang yang paling tepat adanya perawatan preventif untuk menggenjut asetil-L-karnitinnya."

Sebetulnya, asetil-L-karnitin sudah tersedia sebagai suplemen makanan; itu telah dipasarkan sebagai suplemen gizi untuk berbagai penyakit kognitif, termasuk depresi dan penyakit Alzheimer. Tetapi, itu berarti sangat sedikit tentang potensinya sebagai pengobatan. Rasgon memperingatkan bahwa orang tidak sebaiknya langsung asal beli suplemen.

Banyak kasus sebelumnya di mana suplemen gizi tersedia secara luas di apotek misalnya, asam lemak omega-3 atau berbagai zat herbal—disebut-sebut sebagai obat depresi. "Padahal, setelah dikonsumsi baru orang sadar kalau semua itu tidak manjur," katanya. Berkat penelitian yang baru, acetyl-L-carnitine menunjukkan potensi nyata jauh lebih efektif dibanding zat lain. Hanya, butuh lebih banyak penelitian yang akan menunjukkan apakah zat ini kelak benar-benar manjur sebagai suplemen untuk menghindarkan orang dari depresi.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic