News

Penjara Seumur Hidup Pungkasi Karir El Chapo, Bos Kartel Narkoba Paling Berbahaya Sedunia

Keputusan tim juri di AS itu mengejutkan. Sayang, tak ada tanda-tanda aktivitas kartel Sinaloa dan kartel Meksiko lainnya bakal mengendur walau sosok gembong narkoba besar ini meringkuk di bui.
13 Februari 2019, 6:30am
El Chapo bos Kartel Narkoba Sinaloa divonis penjara seumur hidup
Dokumen jaksa dan kepolisian AS saat bos kartel narkoba Joaquin El Chapo Guzman diekstradisi dari Meksiko.

Setelah melewati drama dan intrik panjang selama hampir tiga bulan, epos persidangan bos kartel narkoba Joaquín “El Chapo” Guzmán berakhir Selasa (12/2) sore waktu setempat, di Pengadilan Negeri New York. Juri sepakat memvonis pemimpin Kartel Sinaloa di Meksiko itu bersalah atas sepuluh dakwaan yang diajukan Jaksa Amerika Serikat.

Juri peradilan Chapo—terdiri dari delapan perempuan dan laki-laki, berembuk selama enam hari sebelum menjatuhkan vonis pada lelaki 61 tahun itu. El Chapo, julukan yang secara harfiah berati 'si pendek', diyakini bersalah melakukan berbagai tindak pidana, mulai dari penyelundupan narkoba, pembunuhan terencana, pencucian uang, dan kepemilikan senjata api ilegal. Atas serangkaian kesalahan yang dia perbuat, El Chapo harus menjalani hukuman seumur hidup di penjara federal AS tanpa diberi kesempatan menerima pembebasan bersyarat.

El Chapo hadir di sidang vonis mengenakan setelan hitam dengan kemeja kelabu dan dasi hitam. Menurut saksi yang hadir dalam sidang tertutup itu kepada VICE, pandangan mata El Chapo kosong sebelum vonis terhadap dirinya dibacakan. Setelah dipastikan dapat hukuman penjara seumur hidup, El Chapo nampak kaget mengetahui beratnya hukuman yang dia terima. Mantan buronan paling berbahaya di dunia itu—dalam daftar FBI dulu dia hanya setingkat di bawah Abu Bakar Al Baghdadi sang petinggi ISIS—lantas dibawa keluar ruang sidang oleh lebih dari lima penjaga.

Saat digiring keluar ruang sidang, Chapo sempat bertatapan dengan istrinya Emma Coronel, yang duduk di kursi samping mengenakan jaket hijau jeruk nipis. Chapo menganggukkan kepala. Sang istri membalasnya dengan mengangkat ibu jari, sambil menahan air mata.

Dalam jumpa pers di luar gedung pengadilan setelah vonis dibacakan, Jaksa Richard Donoghue mengatakan vonis yang dijatuhkan pada Chapo adalah wujud nyata kemenangan keluarga-keluarga di Amerika. "Banyak dari keluarga ini yang kehilangan anggota keluarganya karena kecanduan narkoba," ujarnya.

Pengacara El Chapo, Jeffrey Lichtman, memberi keterangan pers terpisah di luar pengadilan. "Kami sudah bertarung habis-habisan. Kami bertarung seperti orang gila. Kami kerahkan segalanya di medan perang persidangan."

Lichtman lekas menambahkan, "tentu saja, [El Chapo] akan mengajukan banding."

Kendati proses pengambilan keputusan yang dilakukan juri sempat molor, hasil vonis pengadilan El Chapo tetap sesuai harapan publik. Dalam pernyataan penutupnya, Jaksa Andrea Goldbarg mengantarkan presentasi PowerPoint berdurasi tujuh jam, disusun dari "tumpukan bukti-bukti yang memberatkan" Chapo. Jaksa menyusun kronologi kebangkitan Chapo dari awalnya cuma "bocah ingusan dari keluarga miskin pedalaman Meksiko" sampai menjadi "salah satu pemimpin kartel Sinaloa paling berpengaruh."

Saksi memberatkan gembong narkoba kakap itu termasuk 14 bekas anak buah dan rekan kerja yang dulunya dekat dengan Chapo. Mereka mengkhianatinya setelah ditawari imbalan keringanan hukuman untuk kasus masing-masing. Para dewan juri—yang namanya dirahasiakan karena khawatir akan diancam atau dibunuh dalam aksi balasan anggota kartel Meksiko—mendengarkan ratusan rekaman panggilan telepon dan membaca ribuan pesan singkat yang berhasil disadap. Chapo, dalam sadapan telepon itu, secara terang-terangan membicarakan soal bisnis narkobanya.

Sedikit keterangan buat pembaca awam: cara kerja pengadilan di Amerika berbeda dari sistem yang diadopsi Indonesia dari hukum Belanda. Di Tanah Air, majelis hakim berwenang menjatuhkan vonis. Sementara di AS, hakim hanya fasilitator jalannya sidang dan membacakan putusan juri. Sementara tim juri, terdiri dari 6 sampai 12 warga sipil terpilih, adalah yang menentukan apakah terdakwa bersalah, serta menentukan vonisnya.

Surat tulisan tangan dan buku besar Chapo, yang dihadirkan jaksa, menjelaskan secara rinci kegiatan bisnisnya sehari-hari. Kartel Sinaloa nyaris tiap hari mengirim ribuan ton kokain, heroin, sabu-sabu, dan ganja ke wilayah Amerika Serikat dan Kanada. Chapo mengobarkan perang berdarah terhadap kartel rival. Dalam persidangan ini, dia juga dituduh telah menyiksa dan mengeksekusi setidaknya tiga orang dengan tangannya sendiri.

Anggota tim juri menimbang bukti secara sistematis. Mereka fokus memakai pasal "Pidana Korporasi Jahat yang Melakukan Tindak Kriminal Berkelanjutan" (disingkat CCE) yang rumit. Amerika mempunyai aturan pidana tersendiri untuk menjerat organisasi kriminal lewat pasal tersebut.

Dakwaan dengan pasal khusus ini sukses menjerat 27 “pelanggaran” terpisah yang terkait dengan pengiriman obat-obatan terlarang dan pembunuhan. Juri sempat meminta jaksa meninjau kembali kesaksian dari setengah lusin saksi kunci, yang transkripnya mencapai ribuan halaman. Walau sempat dikhawatirkan juri akan takut dibunuh dan memberi hukuman ringan, nyatanya El Chapo dinyatakan bersalah. Hanya saja, juri memberi catatan kalau kasus pengiriman 19 ton kokain pada 2007, serta upaya penyelundupan 409 kilogram ganja pada 2012 ke Negeri Paman Sam tidak bisa dibuktikan ada kaitannya dengan bos Kartel Sinaloa.

Saat Hakim Brian Cogan membacakan putusan, tim pengacara El Chapo meminta juri untuk disurvei satu per satu guna mengonfirmasi hasilnya. Para dewan juri tak berani melakukan kontak mata dengan EL Chapo, tetapi mereka membenarkan semua putusan tersebut tanpa ragu. Cogan mengatakan anggota juri sebenarnya bisa saja menyingkirkan anonimitas dan berbicara kepada media, tapi hakim memperingatkan mereka agar tidak melakukannya. "Sekali kalian membuka identitas, kalian tidak akan bisa menutupnya kembali," katanya.

Cogan berterima kasih kepada juri karena mereka sudah sangat berhati-hati dalam pertimbangan penjatuhan vonis. "Apa yang telah kalian lakukan sangatlah luar biasa. Kalian membuatku bangga jadi warga negara Amerika."

Kuasa hukum El Chapo hanya memanggil satu saksi meringankan, yaitu seorang agen FBI yang memberikan kesaksian tak lebih dari 30 menit. Dalam pernyataan penutupnya, sang pengacara Lichtman mengatakan kliennya hanya kambing hitam dari Ismael “El Mayo” Zambada, bos kartel Sinaloa lain. Dia bahkan mengklaim orang yang berbicara di rekaman telepon sadapan jaksa adalah El Mayo. Saudara laki-laki dan putra tertua Mayo—yang sama-sama membuat kesepakatan dan bersaksi melawan Chapo—dianggap pengacara berkomplot dalam kasus ini.


Tonton dokumenter VICE yang memperoleh rekaman eksklusif momen penangkapan El Chapo setelah sukses dua kali kabur dari penjara dengan membangun terowongan:


"Rencana Mayo Zambada sangat brilian, bahkan bisa dibilang telah bekerja dengan sempurna selama berpuluh tahun lamanya meskipun Mayo sempat didakwa di Amerika," kata Lichtman. "Dia bekerja sama, menyogok, dan terus berhubungan dengan berbagai pejabat pemerintah. Dia bebas dari hukuman dengan melaporkan orang lain ke polisi. Bisnis kokainnya lancar jaya. Selamanya akan begitu terus."

El Chapo terkenal ke seluruh dunia, karena dua kali kabur dari penjara dengan keamanan tertinggi di Meksiko. Dia pernah bersembunyi dalam troli cucian dan melewati terowongan sepanjang satu kilo lebih. Itulah sebabnya pengadilan dibuka di bawah keamanan yang ketat. U.S. Marshal terus mengawal dewan juri saat memasuki dan keluar gedung pengadilan.

Chapo mengenakan jas dan tidak diborgol saat di ruang sidang. Akan tetapi, dia terus-menerus diapit pengawal. Akses Jembatan Brooklyn ditutup setiap kali dia dipindahkan dari penjara Manhattan. Di sana, Chapo ditahan di sel isolasi dengan persyaratan yang sangat membatasi sejak diekstradisi dari Meksiko pada Januari 2017.

Pengadilan menjelaskan bahwa El Chapo bisa melarikan diri dan terus menjalankan bisnis ilegalnya berkat korupsi yang merajalela. Saksi membenarkan adanya suap kepada semua tingkat penegakan hukum, pemerintah, dan militer di Meksiko. Seorang saksi mengatakan bahwa Chapo menyogok $100 juta (Rp1,4 triliun) kepada mantan presiden Meksiko Enrique Peña Nieto. Juru bicaranya membantahnya. Dia bilang tuduhan sang gembong narkoba itu, "salah, fitnah, dan tidak masuk akal."

Juri tidak diizinkan untuk mendengarkan beberapa tuduhan yang paling mengerikan. Atas permintaan VICE News dan New York Times, dokumen yang tidak disegel merujuk klaim dari seorang saksi bahwa Chapo telah membius dan memerkosa anak perempuan yang masih 13 tahun. Dia dituduh menyebut korbannya sebagai “vitamin” karena dia bisa “tetap hidup” setelah berhubungan seks dengan mereka. Saksi tersebut warga negara Kolombia bernama Alex Cifuentes. Dia bekerja sebagai sekretaris pribadi El Chapo.

Cifuentes membeberkan kalau bosnya sering membayar US$5.000 (setara Rp70 juta) kepada perempuan bernama “Comadre Maria”. Tujuannya untuk mengirimkan si perempuan ke tempat persembunyian di pegunungan. “Comadre Maria” ini tampaknya terlibat dalam kasus suap mantan Presiden Meksiko Peña Nieto.

Eduardo Balarezo, selaku anggota tim pengacara El Chapo, menyangkal tuduhan itu. Menurutnya, kesaksian Cifuentes “tidak bisa dibuktikan, dianggap terlalu berprasangka dan tidak dapat dipercaya untuk diterima dalam persidangan.” Pembela berulang kali menyerang tingkat kekredibilitasan kooperator dengan menyebutkan masa lalu mereka yang kotor dan menuduh mereka berbohong di bawah sumpah.

"Kami hadiri di sini bukan mencari keadilan, tapi semata-mata karena menghormati persidangan,” kata Lichtman dalam argumen penutupnya. "Pengadilan ini hanya untuk menangkap El Chapo, sambil melupakan keadilan, hukum, serta kewajiban etis dari penegak hukum. Itu semua tidak penting. Pemerintah AS hanya ingin memenjarakan Chapo sejak awal."

Sebagai tanggapan, jaksa penuntut Amanda Liskamm mengingatkan juri bahwa kesaksian mantan anak buah menguatkan bukti rekaman telepon, buku besar, dan bukti-bukti lainnya. Pengacara sempat mendesak juri agar tidak “percaya dengan mitos El Chapo,” tapi Liskamm balik menyatakan Chapo yang duduk di kursi pesakitan adalah penjahat sungguhan yang sangat kejam.

“Dia bukan tokoh mitos semata," kata jaksa ke hadapan tim juri. "Semua tindakan keji yang kami sampaikan benar-benar terjadi."

Jaksa penuntut kini berusaha menyita aset senilai US$14 miliar (setara Rp196 triliun) milik El Chapo. Jumlah itu total perkiraan pendapatannya dari pengiriman narkotika ke AS selama bertahun-tahun. Sejauh ini, mereka belum sukses melacak di mana saja uang atau aset gembong narkoba ini.

Chapo belum resmi dijatuhi hukuman, tetapi berhubung dia dihukum karena memimpin “Perusahaan yang Melakukan Tindak Kriminal Secara Berkelanjutan”, maka hukum federal tidak mengizinkan Chapo diberi kesempatan bebas bersyarat. Dia kemungkinan menghabiskan sisa hidupnya di Lapas ADX Florence, penjara dengan keamanan tertinggi Colorado yang dijuluki sebagai "Alcatraz Zaman Modern".

Osiel Cárdenes Guillén, mantan pemimpin kartel paling berpengaruh di Meksiko, juga pernah dikurung di penjara itersebut. Beberapa terpidana teroris, mata-mata dan pemimpin geng brutal, pemimpin kelompok rasis kulith putih Aryan Brotherhood, dan banyak penjara kakap lain ikut mendekam di sana. Narapidana ditahan di sel isolasi yang terpisah satu sama lain dan dibatasi kontaknya dari dunia luar.

Belum pernah ada narapidana bisa kabur dari penjara di Colorado itu. Masalahnya, di dunia ini, tak ada yang selihai dan secerdik Chapo untuk membangun terowongan sebagai rute kabur dari penjara. Kita lihat saja, apakah manusia berbahaya itu kali ini akan sungguh-sungguh menghabiskan sisa umurnya dalam penjara.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News