Politik Internasional

Mengapa Serangan Udara Pasukan Koalisi di Timur Tengah Memakan Lebih Banyak Korban Sipil di 2017

Dibanding angkat 2016, warga sipil yang tewas karena serangan udara meningkat 42 persen.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Inggris

Awal pekan ini, Action on Armed Violence merilis sebuah laporan yang menunjukan rincian lompatan mengejutkan dari korban sipil akibat deretan ledakan pada tahun 2017—dimana lebih dari 15.000 orang terbunuh, yang meningkat 42 persen dari tahun 2016. Laporan tersebut menyarankan bahwa kenaikan ini utamanya disebabkan oleh serangan udara, terutama di Irak, Suriah, dan Yaman—sehingga saya kembali menghubungi Chris Woods, pria di balik Airwars, sebuah kelompok pemantau independen yang melacak korban sipil dalam perang di Negara Islam (IS), yang pertama kali kami ajak bicara pada tahun 2016.

Iklan

Saya ingin mendapatkan gagasan yang lebih baik mengenai faktor-faktor yang membuat tahun 2017 sebagai tahun yang sangat mematikan bagi warga sipil, dan apa yang telah dilakukan koalisi pimpinan AS telah untuk membendung kematian ini—jika ada.

Wawancara ini telah diedit agar jadi lebih singkat

VICE: Pertama-tama, apakah temuan mengkhawatirkan dari laporan AOAV sama jumlahnya dengan apa yang Anda lihat dalam kasus korban sipil pada tahun 2017?
Chris Woods: Fokus kami saat ini hanya pada Irak dan Suriah, dan hanya di dua tempat itu saja, 2017 merupakan tahun yang mengerikan bagi sipil. Angkat kematian warga sipil di sana melonjak drastis. Menurut penelusuran kami, musababnya adalah aksi militer yang dilancarkan pasukan internasional. Temuan ini kurang lebih sama dengan kabar-kabar buruk yang dilaporkan oleh LSM dan lembaga internasional lain.

Apa faktor utama yang mendorong lonjakan kematian warga sipil?
Yang kami lihat sangat kuat di tahun 2017 adalah korelasi antara intensitas pemboman dan akibatnya bagi warga sipil. Jadi, secara terus terang, semakin banyak bom dan rudal yang dijatuhkan di daerah tertentu, semakin besar risikonya bagi warga sipil. Itu terdengar gamblang, tapi sebenarnya cukup sulit mendapatkan data yang mendukung itu. Kita punya banyak itu di tahun 2017.

Jadi sebenarnya ada banyak serangan udara secara keseluruhan, tapi apa faktor lain yang menyebabkan kenaikan korban sipil yang mengkhawatirkan ini?
Isu terbesar yang kami lihat di tahun 2017—terutama jika kita melihat koalisi pimpinan AS—adalahbahwa perang tersebut bergerak sangat jauh ke kota-kota. Itu, lebih dari faktor tunggal lainnya, mengakibatkan lebih banyak lagi kematian dan kejadian yang memakan korban jiwa. Kami melihat pola yang serupa di penghujung tahun 2016, ketika Rusia dan rezim Assad membombardir Aleppo timur. Ada korelasi yang sangat kuat antara serangan terhadap kota dan jumlah korban sipil yang besar. Dan kalau boleh terus terang, tak peduli siapa yang melancarkan serangan, dampaknya bagi warga sipil selalu mengerikan.

Iklan

Ada perubahan apa sehingga di tahun 2017 lebih banyak serangan udara? Ada perubahan strategi kah?
Salah satu kritik yang disampaikan oleh administrasi Trump kepada Barack Obama adalah karena dia terlalu berhati-hati dalam perangnya terhadap ISIS. Tapi ada alasan untuk kehati-hatiannya itu, yaitu tentang membatasi bahaya sipil sebanyak mungkin. Kami melihat jumlah korban sipil yang di bawah pemerinthan Obama jauh lebih daripada era Trump. Satu momen di mana itu bergeser sedikit adalah dalam pertempuran untuk Mosul timur, yang dimulai pada bulan November 2016.

Sekitar enam minggu memasuki kampanye itu, orang Amerika dan Irak mengambil stok. Ini adalah kampanye yang sangat sulit bagi pasukan darat Irak—beberapa pihak menewaskan korban di pasukan khusus Irak setinggi satu dari tiga orang. Itu adalah jumlah korban yang sangat tinggi untuk pasukan elit. Alasan korban tewas begitu tinggi adalah karena mereka masuk dan membersihkan rumah secara langsung. Salah satu alasan yang diberikan orang Irak adalah karena harus melakukan itu. Terlalu sulit untuk melakukan serangan udara. Pada pekan-pekan terakhir pemerintahan Obama, peraturannya diubah, yang berarti lebih mudah untuk melakukan serangan udara. Potensi korban segera bergeser, dari semula pasukan Irak jadi warga sipil.

Ketika Trump masuk, kami melihat kelanjutan yang signifikan dari itu. Kondisi tidak menjadi lebih baik di bawah Trump untuk warga sipil, justru keadaan jauh lebih buruk. Salah satu alasannya adalah intensitas pemboman. Kami melihat sebuah kampanye pengeboman yang benar-benar dahsyat oleh AS dan sekutu-sekutunya di Mosul dan Raqqa pada tahun 2017. Antara kedua kota tersebut, koalisi sendiri menjatuhkan 50 ribu amunisi. Satu bom atau rudal dijatuhkan ke Raqqa setiap 12 menit rata-rata, selama durasi pertempuran empat bulan tersebut.

Iklan

Bisakahah Anda menceritakan lebih banyak tentang senjata yang digunakan dan bagaimana dampaknya terhadap korban sipil?
Ketika Rusia dan rezim Assad mengebom Aleppo pada akhir 2016, kami berasumsi bahwa alasan utama atas banyaknya korban sipil adalah karena mereka menggunakan bom bodoh (bom tanpa alat kendali). Kami benar-benar telah mengubah pemodelan kami sejak saat itu, berdasarkan pada apa yang telah kami lihat dengan koalisi di tempat-tempat seperti Raqqa dan Mosul. Alasannya adalah bahwa bahkan ketika Anda menggunakan bom presisi di kota, beneran deh, dampaknya untuk warga sipil sama saja dengan bom bodoh. Anda tidak bisa mengontrol kerusakan akibat bom.

Kami melihat sedikit perbedaan antara serangan Rusia dan koalisi ketika kita berbicara pengeboman kota-kota. Ini adalah masalah besar yang kita hadapi dengan adanya pergeseran ke peperangan perkotaan—ini benar-benar membawa kita pada batasan manfaat apa pun yang mungkin kita miliki dalam hal melindungi warga sipil dengan menggunakan amunisi presisi.

Jadi, seluruh kisah militer pasca Perang Teluk Barat tentang "serangan presisi" secara efektif sudah tidak berlaku saat serangan tersebut ditujukan?
Betul. Satu contoh paling jelas dari itu adalah pada bulan Maret 2017, ketika AS melakukan serangan udara yang sangat tepat pada pejuang IS, menjatuhkan dua bom seberat 500 pon di atap rumah di daerah Mosul yang disebut Al Jadidah. Mereka tidak tahu, bahwa ada lebih dari 100 warga sipil yang berlindung di ruang bawah tanah gedung itu, yang semuanya meninggal saat gedung tersebut ambruk. Jadi itu adalah serangan yang sangat tepat, tapi ketepatan sama sekali tidak membantu di situ—justru, presisi adalah bagian dari masalahnya; Absennya kecerdasan lah yang menyebabkan kematian tersebut.

Iklan

Pertama kali kami berbicara, Anda mengatakan terdapat perbedaan besar dalam hal tingkat transparansi dan pertanggungjawaban anggota koalisi. Apakah jumlah korban tewas warga sipil yang terus bertambah telah memaksa perbaikan di area itu?
Adalah sebuah kejutan bagi kami bahwa betapa sedikitnya transparansi dan akuntabilitas yang kami dapatkan dari sebagian besar anggota koalisi, termasuk negara-negara seperti Belanda, Perancis, dan Kanada—negara yang mungkin Anda harapkan lebih baik dari mereka. Mungkin kejutan besar lainnya adalah bahwa Amerika Serikat telah, sejauh ini, menjadi negara yang paling bertanggung jawab dalam perang tersebut. Memang, pertanggungjawaban telah meningkat secara signifikan untuk sebagian besar tahun pertama masa jabatan Trump. Itu bertentangan dengan ekspektasi dan meruapakan hal yang sangat positif. AS mengakui peristiwa korban sipil di Al Jadidah. Seandainya serangan tersebut akibat salah satu sekutu AS, kita mungkin belum akan pernah mendapatkan pengakuan formal atas kerugian itu.

Bagaimana peran Inggris dalam hal ini?
Inggris adalah masalah nyata, seperti Perancis. Di antara mereka, mereka telah melakukan lebih dari 3.000 serangan. Pada tahun 2017, sebagian besar serangan tersebut terjadi di daerah perkotaan. Selama pertempuran Mosul, Michael Fallon mengeluarkan sebuah pernyataan yang membesarkan bahwa pesawat-pesawat Inggris telah menghancurkan 750 sasaran di Mosul, kedua setelah Amerika Serikat. Namun, Inggris mengklaim tidak ada korban sipil dari serangannya. AP baru-baru ini merilis sebuah laporan yang menunjukkan bahwa sebanyak 10.000 warga sipil meninggal di Mosul—setidaknya sepertiga dari mereka terbunuh oleh serangan udara atau artileri. Jadi, ada sesuatu yang sangat salah dengan pemantauan bahaya warga sipil yang dilakukan Inggris.

Iklan

Menariknya, Inggris adalah salah satu anggota koalisi yang paling transparan—mereka memberi lebih banyak informasi tentang apa yang mereka lakukan, di mana, dan kapan. Itu hal yang baik. Tapi transparansi tidak serta membuat Inggris jadi akuntabel. Kami telah mendorong penyelidikan independen yang lebih baik terhadap penilaian kerusakan pertempuran Inggris. Kami hanya berpikir mereka tidak melakukannya dengan benar—mereka, tampaknya, tidak mampu mendeteksi bahaya sipil.

Dari segi jumlah mentah korban, seberapa buruk tahun 2017?
Ini telah menjadi perang yang panjang dan panas. Kita berada di tahun keempat perang terhadap ISIS, dan ini masih belum berakhir. Lebih dari 100.000 amunisi telah dijatuhkan; telah terjadi lebih dari 30.000 serangan udara dan serangan artileri. Ini adalah perang yang sangat menegangkan. Ini telah melihat jumlah korban sipil tertinggi akibat tindakan Barat—dari AS dan Australia—sejak Vietnam. Bagi sekutu Inggris dan Eropa, mungkin jumlah korban sipil tertinggi dalam konflik yang mereka telah ikut terlibat secara langsung sejak Korea. Ini adalah tingkat bahaya sipil yang belum pernah kita lihat dari generasi ke generasi.

Melihat ke 2018, saya berasumsi ada prediksi penurunan korban sipil dengan akhir pertempuran yang efektif untuk benteng-benteng kunci IS di perkotaan?
Perang ini—terutama di Suriah—bersifat seperti siklus. Dan aksi koalisi di sana kini telah menurun. Tapi tindakan Rusia telah dipercepat. Ada 30 kejadian memakan korban jiwa yang diduga ulah Rusia pada minggu lalu. PBB melaporkan bahwa 70.000 orang Suriah sedang bergerak sekarang karena serangan Rusia dan Suriah. Jadi walaupun serangan koalisi mungkin akan turun untuk sementara, pihak yang dipimpin Rusia malah naik.

Kami juga khawatir bahwa pada 2017, ada beberapa preseden yang sangat mengkhawatirkan. Tidak ada keraguan bahwa perang bergerak kembali ke bagian dalam kota-kota dengan cara yang belum pernahterlihat selama beberapa dekade. Menurut PBB, serangan terhadap Mosul pada tahun 2017 merupakan serangan perkotaan terbesar sejak Perang Dunia II dan mengakibatkan ribuan kematian warga sipil.

Saya pikir kita menjadi terlalu berpuas diri pada pergeseran peperangan ini. Dan militer serta pemerintah kita tidak menanggapi ini dengan cukup serius. Tidak mungkin kita bisa melindungi warga sipil saat perang bergerak masuk ke dalam kota-kota. Namun, disinilah kita, dengan pemerintah kita melakukan pengeboman di Irak, Suriah, Libya, Yaman, dan Afghanistan dengan jumlah yangcukup banyak, setiap saat setiap hari.

Ini sama sekali bukan pertanda baik.