Natal 2017

Sinterklas Penghibur Tukang Belanja Jakarta

Kelompok intoleran kerap mengancam sweeping pegawai diminta pakai atribut sinterklas. Kami mewawancarai pekerja di mal yang tetap berani mengenakan kostum tersebut.
26 Desember 2017, 4:24am
Semua foto oleh penulis.

Sejak pertengahan Desember di hotel dan pusat-pusat perbelanjaan Ibu Kota, pemandangan pohon fir (asli atau plastik) raksasa lengkap dengan hiasan meriah dan para pramuniaga beratribut Natal pasti akan nampak di sana-sini. Sebagai orang yang belum pernah merayakannya (karena KTP saya ditulis dengan agama lain), citra Natal yang melibatkan Sinterklas seperti muncul di film-film, hanya bisa saya dapat pas nyari diskon akhir tahun di shopping mall.

Bagi penduduk negara tropis, sinterklas bertambah eksotik karena berasal dari kutub utara. Sinterklas mal adalah hal biasa di berbagai negara, namun inisiatif pengelola pusat belanja di Indonesia tetap patut diapresiasi. Berkat orang-orang yang berkostum sinterklas, anak-anak sedikit mencicipi atmosfer musim dingin yang sedang dialami negeri bumi utara.

Hanya saja pemakaian atribut Natal ini sempat dipermasalahkan tahun lalu hingga menjadi isu skala nasional. Gara-garanya, salah satu ormas keagamaan mengancam akan melakukan sweeping jika ada perusahaan yang memaksa staff-nya mengenakan atribut Natal yang tidak sesuai dengan keimanannya. Ancaman itu muncul setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram bagi umat non-Nasrani mengenakan aksesoris khas momen liburan Natal seperti topi merah Sinterklas.

Bagaimana dengan tahun ini? Meski enggak seheboh tahun lalu, ormas keagamaan tersebut tetap mengancam sweeping perusahaan yang melakukan pemaksaan. Tapi menurut pemimpin ormas yang sama, mereka hanya akan bertindak jika polisi bergeming dalam menindaklanjuti laporan dari masyarakat.

Kebetulan, menjelang liburan Natal tahun baru, saya punya banyak waktu luang buat ke mal. Di mal-mal Jaksel dan Jakarta Pusat, ternyata mudah menemukan sosok tambun bergaya Sinterklas menghibur anak-anak dan membagi-bagikan permen. Apakah mereka masih merasakan tekanan karena harus memakai topi Santa atau bahkan kostum lengkap tahun ini?

Berikut obrolan VICE bersama mereka yang bersedia memakai atribut sinterklas untuk menghibur para tukang belanja pemburu diskon akhir tahun:

Lukmanul Hakim, Waiter

VICE Indonesia: Udah berapa lama bekerja dan memakai topi Santa?
Hakim: Baru dua tahun bekerja di sini. Kalau memasuki Natal begini biasanya dua minggu menjelang Natal memakai aksesoris.

Ada paksaan dari manajemen? Gimana rasanya memakai atribut kayak gini sepanjang shift?
Enggak ada paksaan. Ini dari pusat cuma dikirim dua topi dan tiga bando buat para pramusaji, banyak yang enggak memakai juga. Jadi ini inisiatif sendiri. Kebetulan saya kan berada di depan menyambut tamu. Ya biasa saja rasanya.

Sempet ada ancaman sweeping dari ormas beberapa waktu lalu. Ada perasaan takut?
Sedikit khawatir sih ada. Tapi ya ini enggak pengaruh ke kerjaan. Ini kan cuma hiasan saja.

Dion Budi, Disewa Sebagai Sinterklas

Kenapa tertarik jadi sinterklas di mal?
Karena sampai sekarang gue masih percaya kalau Santa Klaus itu ada. Jadi ya kenapa enggak meniru beliau.

Capek gak jadi Santa Klaus sehari penuh?
Enggak begitu. Kan enggak seharian juga. Paling cuma beberapa jam. Lagi pula lumayan juga fee-nya hehe.

Santa Klaus muncul kalau pas hujan salju, tapi di sini enggak ada salju. Trus lo masih percaya?
Ya namanya kan yakin. Bisa aja Santa muncul pas hujannya air.

Daniel Waworuntu, Full Time Sinterklas

Sudah berapa lama jadi Sinterklas untuk mal?
Sejak 2002. Waktu itu gue bekerja di rekanan salah satu mal di Jakarta Pusat. Kemudian gue menawarkan diri jadi Santa Klaus, ternyata masuk dan mereka cocok. Konsumen juga suka. Dari situ gue kerja sama sampai sekarang. Pas masuk November itu biasanya udah ada panggilan. Gue juga sering diundang buat acara-acara kantor.

Kenapa merasa cocok pakai kostum Sinterklas?
Enggak tau. Kayaknya orang-orang udah cocok aja ngeliat gue. Dari tinggi dan bentuk badan mungkin udah Santa banget.

Kalau sudah jadi Sinterklas tuh apa yang dilakukan?
Tergantung konsep acaranya. Ada yang emang khusus buat foto-foto bareng sama anak. Ada yang keliling mal buat bagi-bagi cokelat.

Pernah bikin bocah nangis gara-gara mereka takut sama kostum Santa?
Seinget gue belum pernah.

Fee jadi Santa kayaknya lumayan nih makanya kamu berani kerja kayak gini full time?
Gue dibayar per hari. Lumayan lah bayarannya. Gue sampai punya kostum sendiri sama segala aksesorisnya kayak kantong hadiah, jenggot, kaca mata. Semua impor dari luar negeri. Kostum ini di badan enggak panas. Kalau pakai kostum lokal, baru sebentar dipakai aja keringet segede jagung udah ngucur.

Pernah ngerasa takut sama sweeping ormas yang anti perayaan Natal?
Enggak sih. Biasa aja.