Kenapa Film-Film Bertema Natal Selalu Jelek Kualitasnya?
Cuplikan film 'National Lampoon's Christmas Vacation'.
natal

Kenapa Film-Film Bertema Natal Selalu Jelek Kualitasnya?

Seringnya sentimentil berlebihan, kacrut, dan ceritanya enggak masuk akal. 'Home Alone' pengecualian lah (walaupun sebetulnya ya ga bagus-bagus amat).

Kritikus film New York Times Glenn Kenny pernah menulis bahwa sudah tak terhitung film bertema Natal, namun kebanyakan kualitasnya "tidak begitu bagus." Film-film macam itu biasanya disiarkan di televisi selama Desember atau dirilis di bioskop tiap akhir tahun kalender. Bahkan dari film yang dianggap bermutu bagus untuk momen Natal, selalu saja ada kekurangan fundamental di dalamnya. Seperti yang ditulis Kenny, "film liburan Natal klasik hampir tidak pernah sama mutunya dengan film klasik lain."

Iklan

Kenny tidak sendirian. Mayoritas kritikus sering menyikapi kurang menyenangkan kepada semangat liburan dari film Natal. Bahkan banyak film yang dianggap klasik sekarang, mendapat ulasan campuran atau negatif saat rilis. Kenny mengemukakan film klasik Natal yang dulunya tergambarkan sebagai film "yang secara konvensional dicintai" adalah sebuah eufemisme untuk "diremehkan secara luas dari segi mutunya." It's A Wonderful Life dan A Christmas Story dianggap sebagai kegagalan artistik dan memiliki kinerja buruk di box office; Judul yang lebih baru seperti Scrooged and Love, Actually sangat populer di kalangan penggemar sinema tapi saat pertama kali dirilis dominan memperoleh ulasan negatif. Film-film Natal Hollywood yang tayang tahun lalu macam Almost Christmas, Office Christmas Party, Bad Santa 2, Collateral Beauty, dan Why Him? juga menemui takdir mengalami nasib yang sama: langsung menuju tumpukan sampah dari sejarah sinema.

Terlepas dari citra buruk tersebut, sebenarnya gegabah jika kita langsung mencap film-film Natal sebagai sampah. Jika diamati lebih detail, film Natal sebetulnya menggambarkan harapan dari masyarakat (Barat). Ketegangan antara harapan utopia—seperti rumah, perapian, dan persahabatan.

Flm liburan untuk Natal pertama kali lahir pada pertengahan 1940-an, diawali keluarnya klasik seperti Holiday Inn, It's A Wonderful Life, Christmas in Connecticut, dan Miracle on the 34 th Street. Pada awal fenomena film liburan, trauma nasional kolektif Perang Dunia II memberikan bayangan yang panjang dan terarah atas pesan optimis film-film tersebut (yang berasal dari A Christmas Carol diadaptasi dari novel karya Charles Dickens) tentang niat baik terhadap semua. Adaptasi itu berbeda dari novel awalnya, terutama karena lebih fokus pada keinginan idealis untuk kebaikan dan keutuhan, sementara cerita Dickens lebih suram. It’s a Wonderful Life adalah contoh film Natal yang formulanya masih dipakai hingga sekarang. Topik utamanya tentang kesucian keluarga dan kebutuhan mendesak bagi komunitas yang lebih erat.

Iklan

Film Natal sering terasa buruk karena film-film tersebut selalu sentimental saat membahas hal-hal sentimental.

Demikian pula, Miracle on the 34 th Street mengangkat tema tentang masalah penyakit jiwa, kontras dengan sosok Sinterklas sebagai toko utama—karakter mistik sekuler khas Natal di Barat yang dapat mengobati kekosongan jiwa konsumerisme Amerika sesudah Perang Dunia II dan kehilangan harapan. Alih-alih tanpa henti mengabaikan kerumitan kehidupan, film Natal yang sukses secara artistik mengakui dan menegosiasikannya sebelum memberlakukan resolusi ajaib kepada dilema yang mereka tunjukan. Terdapat dalam resolusi di mana kita menemukan sumber penghinaan film-film liburan, dan sumber dari kecenderungan mereka menuju kesampahan: hubungan mereka dengan sentimentalitas.

Pertanyaannya bukan "kenapa sih sedikit sekali film Natal yang bagus," tapi lebih tepatnya, apa yang mengarah pada persepsi kalau film Natal jeleknya enggak ketulungan ? Bukan berarti film Natal selalu buruk. Alasannya lebih karena film-film Natal terlalu sentimental tentang mengalami sentimentalitas. Yang sepertinya membedakan film Natal kontemporer dari "klasik" adalah ketidakseimbangan antara tingkat keparahan dan sentimen di satu sisi, dan ekspektasi terhadap genre di sisi lain. Penonton film Natal mengantisipasi ending yang terasa menyenangkan. Dampaknya, film-film Natal selalu terasa manipulatif (karena harus berakhir bahagia), basi, dan tidak terasa otentik.

Iklan

Karya berpengaruh filsuf Robert Solomon berjudul In Defense of Sentimentality memberikan cara yang berguna menyelidiki pemahaman kritis dan populer tentang film Natal. Solomon menyatakan sentimentalitas dipandang sebagai hal yang buruk, dengan mereka yang diberi label sebagai sentimentalis akan dicemooh sebagai munafik dan tukang tipu.

Mereka yang sengaja tertarik nonton film Natal dalam bawah sadarnya tahu sejak awal tujuannya menonton adalah mengeksploitasi perasaan nostalgia terhadap rumah dan perapian. Mereka menikmati film itu karena alasan-alasan sentimental.

Lebih dari itu, ada korelasi antara sentimentalitas dan selera buruk—karena ada asumsi merespons karya seni secara emosional hanyalah selera yang buruk. Karya sentimental, menurut pandangan Solomon, selalu dicap "hambar, murah, dangkal dan manipulatif." Itulah sebabnya film Natal dianggap karya murahan. Seperti yang sering ditemukan dengan penilaian estetika negatif tentang budaya populer, penonton dianggap sama-sama bersalah sebagai tim kreatif.

Penonton film natal, pastilah seorang sentimentalis, adalah seseorang yang tidak hanya menyukai rasa dari nangis yang enak tapi tergerakan oleh apa yang dirancang oleh konglomerat hiburan untuk membangkitkan respons semacam itu. Kaum sentimentalis menikmati manipulasi mereka sendiri, tanpa ironi, sinisme, atau kritik. Karena respons ini menyiratkan ketidaktahumaluan yang memanjakan diri sendiri dalam menikmati dimanipulasi, itu tidak hanya pantas ditolak pada estetika pada dasar estetika, tapi juga pada moral. Mereka yang sengaja tertarik nonton film Natal dalam bawah sadarnya tahu sejak awal tujuannya menonton adalah mengeksploitasi perasaan nostalgia terhadap rumah dan perapian. Mereka menikmati film itu karena alasan-alasan sentimental.

Iklan

Salah satu dari banyak karakteristik yang menentukan dari sebuah film yang buruk adalah manipulasi emosi yang terbuka. Ada perasaan menjengkelkan bahwa film Natal sekarang tidak memiliki keaslian dari film-film klasik—daripada secara diam-diam mengakui tantangan hidup, karya baru-baru ini hanya mengenalkan kesulitan demi mengusirnya melalui jalan menuju sentimentalitas itu sendiri.

Pembuat film Natal mungkin mengenalkan alat plot rumit atau membahayakan karakter, namun tujuannya cuma agar penonton meneteskan air mata. Sentimentalitas dan dramatisasi lebay macam itu yang diamati oleh Solomon. Penyuka film Natal dianggap menyerahkan diri kepada manipulasi emosi rendahan. Menyukai film Natal sama belaka seperti mengikhlaskan diri dimanipulasi Hollywood.

Di Home Alone ketika Pak Tua Marley (tokoh ini terinspirasi karakter A Christmas Carol) bergabung kembali dengan keluarganya berkat Kevin, kami tidak hanya menikmati tangisan indah pada resolusi magis yang gembira, tapi juga menghargai kenyataan bahwa film tersebut memungkinkan kami untuk menikmati tangisan yang indah, untuk menyadari kita akan emosi kita dan untuk berkubang di dalamnya. Perasaan ini dipandang tidak autentik. Salomon mengucapkan, "Tuduhan yang paling umum terhadap sentimentalitas adalah melibatkan emosi palsu" dan perpindahan—kita merasa digerakan bukan karena film di depan kita, tapi rasa kehilangan masa muda, koneksi, dan cinta keluarga.

Mungkin sebetulnya tidak mengherankan bila cerita Natal yang menggerakkan kita paling banyak adalah yang, pada akhirnya, berkisah tentang manusia kebanyakan. Karena pada momen liburan Natal, kita melepas emosi yang tertekan sepanjang tahun. Pelukan manis, dan pertolongan hangat dari film liburan klasik, oleh karenanya sulit ditolak. Sebab, sesuai kutipan Clark W. Griswold dalam National Lampoon’s Christmas Vacation yang abadi, manusia selalu ingin "dicintai secara konvensional."

Dr. Julian Cornell profesor bidang pembentukan selera dalam budaya pop Amerika, fokusnya adalah film-film genre Hollywood. Selama 15 tahun, ia telah mengajar di NYU dan Queens College. Sebelum mengajar, dia adalah seorang eksekutif pemrograman di HBO dari kurun 1993 sampai 2001.