Buku-Buku Keren Buat Menemani Kalian Mudik Lebaran
BUKU

Buku-Buku Keren Buat Menemani Kalian Mudik Lebaran

Disusun berdasarkan saran tiga komunitas literasi dan satu toko buku independen. Berguna juga buat kalian yang tak mudik dan bingung mau ngapain selama liburan panjang lho!
24 Juni 2017, 1:35am

Pekan ini jutaan orang keluar dari kota-kota besar Indonesia, kembali ke kampung halaman. Mudik sebuah ziarah dalam skala nasional yang hanya sedikit punya bandingan di seluruh dunia. Tak peduli kalian naik mobil, kereta, kapal, atau pesawat, mudik tetap saja hectic. Setelah opor ayam dan salaman serta semua basa-basi bersama keluarga besar, pilihan kalian cuma dua: main atau ngendon di kamar saja.

Bagi yang punya banyak waktu luang di kampung halaman, buku rasanya bisa menjadi teman yang baik. Buku-buku juga bisa menjadi sahabat bagi kalian membunuh waktu selama perjalanan darat. Buku tidak perlu diisi baterai, tak membutuhkan sinyal atau wifi, serta bisa dinikmati kapanpun kalian mau. Kenikmatan hqq! Tentu saja kenikmatan ini hanya bisa dirasakan penumpang. Maaf ya para sopir se-Indonesia, kalian masih bisa baca kalau sudah sampai tujuan kok. :P

Karenanya, VICE Indonesia menyediakan daftar buku-buku yang bisa jadi teman asyik saat mudik. Kami meminta rekomendasi ini berdasarkan tiga komunitas literasi dan satu toko buku—dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya—yang sudah tidak diragukan lagi reputasinya dalam hal perbukuan.

Nah, bagaimana dengan yang tahun ini sedang tidak mudik? Percayalah, buku-buku di daftar ini juga bisa menemani kalian selama momen liburan panjang. Tanpa berpanjang-panjang lagi, berikut daftarnya:

C2O, Surabaya

Buku-buku ini kami pilih dengan pertimbangan sebagai berikut: (1) relatif mudah/asyik/ringan dibaca, cocok dibaca saat perjalanan mudik yang mungkin banyak distraksi; (2) relevan dengan hal-hal yang dilakukan menjelang mudik, seperti bertemu keluarga, menghadapi pertanyaan-pertanyaan "standar" dan juga pertanyaan introspeksi terhadap diri sendiri; (3) mencakup pilihan yang sebisa mungkin beragam, untuk lebih lengkapnya sila baca penjabaran kami yang lebih lengkap di tautan ini. Mengingat sangat tidak meratanya distribusi buku di Indonesia, kami masukkan juga dua judul yang dapat dibaca online. Rekomendasi judul ini kami lemparkan ke beberapa anggota, sukarelawan, dan pengurus C20. Selamat membaca!

Zadig - Voltaire

Pertama terbit dalam bahasa Prancis pada 1747. Versi bahasa Indonesia diterbitkan Penerbit Oak, 2015

Alkisah Zadig adalah seorang laki-laki bijak, kaya, dan baik hati. Seberapa pandainya atau baik hatinya, tetap ia tak bisa menghindar dari kondisi sekitarnya, yang mengombang-ambingkannya dalam nasib untung maupun buntung. Mulai dari jatuh cinta pada istri raja yang melindunginya; menikahi perempuan yang ingin memotong hidungnya — cerita-cerita dalam Zadig dengan latar belakang Babilonia Kuno mengingatkan kita pada cerita-cerita 1001 malam, atau Cerita-cerita Timur Marguerite Yourcenar. Sarat satir, penuh harapan dan cerita jenaka, juga sindiran yang mungkin sama menohoknya di zaman Voltaire maupun di zaman sekarang, Zadig sangat cocok dibacakan ketika kita berkumpul bersama keluarga, seperti kita menikmati stand-up comedy atau pantun. Terjemahan dan penyuntingan bahasa Indonesianya sangat bagus (jempol untuk penerjemah Widya M. Putra dan Dewi Kharisma Michellia selaku editor), dilengkapi catatan-catatan konteks zamannya. Oh iya, versi bahasa Inggris buku ini juga bisa diunduh gratis online dari Gutenberg, karena sudah masuk domain publik.

Musik Indonesia 1997-2001: Kebisingan & Keragaman Aliran Musik - Jeremy Wallach

Buku ini memotret dinamika musik Indonesia di tengah transisi global dari abad industri ke abad teknologi informasi, serta masa transisi politik dan sosial Indonesia dari 'mono chrome' menjadi 'multi chrome'. Jeremy Wallach mengabadikan berbagai pergerakan dunia musik nasional dalam kurun waktu tersebut. Mulai data penjualan rilisan fisik—kaset, CD, VCD, Laser Disc—lengkap dengan harganya; studio rekaman; pembuatan video klip; konser dangdut dan underground, hingga penjualan kopi kaset ilegal. Hal menarik lainnya adalah catatan beberapa perwujudan dunia musik yang kini telah 'almarhum' seperti majalah Newsmusik; penjual kaset keliling; dan Toko Kaset Aquarius. Buku ini membangkitkan memori pada masa mulai merantau dan tentu saja saat pertama kali merasakan mudik.

Raden Mandasia: Si Pencuri Daging Sapi - Yusi Avianto Pareanom

Kisah petualangan yang memicu fantasi. Seolah membawa pembacanya berjalan dari berbagai pelosok nusantara, hutan, laut, rumah judi, hingga ke Timur Tengah. Raden Mandasia adalah sidekick dari Sungu Lembu, sang tokoh utama. Berdua, walau berbeda misi, mereka berpetualang menuju Kerajaan Gerbang Agung. Novel action comedy yang memiliki momen tak terduga. Salah satunya adalah menemui Putri Tabassum, Sang Permata Gerbang Agung yang cerita tentang kecantikannya tersohor di berbagai penjuru negeri sejak Raden Mandasia masih balita. Walau dinamis dan memiliki banyak tokoh, alur ceritanya mudah dipahami. Berbagai 'distraksi' rutinitas harian tidak akan membuat kita membalik-balik halaman yang telah dibaca.

POST Bookshop, Jakarta

Record of a Night Too Brief – Hiromi Kawakami

Di kala libur, kamu mungkin akan membiarkan dirimu sedikit liar, atau malah, liar sekali. Hiwako berjalan ke tempat kerja dan tanpa sengaja menginjak seekor ular. Ular itu berubah menjadi perempuan lima puluhan tahun yang berkata pada Hiwako, "Kamu sih, menginjakku." Lantas, jelmaan ular itu berlalu. Sepulang kerja, Hiwako mendapati perempuan tadi ada di rumahnya. Kepada Hiwako, perempuan itu bertutur kata halus, memasakkannya makan malam, lalu berkata bahwa ia adalah ibunya. Cerita berjalan dan Hiwako menemukan ia bukan satu-satunya orang yang mengalami keganjilan ini. Buku karya Hiromi Kawakami ini berisi tiga novela dengan keliaran seperti itu. Cerita pertama yang menjadi judul buku, misalnya, menceritakan 19 mimpi fantastis narator (malam yang merengut, monyet pemarah yang mengejar-ngejar, gadis yang melebur saat dicium, dll) yang dengan cara aneh saling terhubung satu sama lain. Kami menyukai buku ini juga karena Kawakami menulis narasinya dengan sangat jernih (ingat betapa lembut cara bertutur Kawakami di bukunya yang lain "Strange Weather in Tokyo?). Cerita-cerita dengan imajinasi liar di sini seolah menggoda pembaca untuk melihat lebih dekat hal-hal fantastis dalam kehidupan sehari-hari yang kerap dijalani dengan cara yang biasa banget ini. Dan di masa libur, kamu mungkin punya banyak waktu untuk itu.

24 Jam Bersama Gaspar – Sabda Armandio

Karya kedua Sabda Armandio ini asyik, lucu, dan ditulis dengan apik. Sekilas terlihat ringan dan dengan tokoh yang diciptakan asal-asalan, tapi perlahan ia membuatmu berpikir, atau bahkan, ikut bersedih dan merasa kesepian. Gaspar mungkin akan mengingatkanmu pada teman masa remajamu yang bandel, pemberani, agak ugal-ugalan, yang sesungguhnya tak betul-betul kamu sukai. Namun, diam-diam, kamu ingin juga untuk sekali waktu menirunya, atau merasakan hidup dari kaca matanya. Ia pergi merampok toko emas untuk alasan melankolis bersama kelompok ganjil seperti gadis ahli sepak takraw, pemilik bengkel, nenek nyentrik, gadis yang sesekali seperti Margaret Thatcher yang kebanyakan mengonsumsi LSD, hingga motor bernama Cortazar yang kerasukan siluman cheetah. Kurang asyik apa coba? Oh, dan jika liburanmu cukup panjang dan kamu punya banyak waktu, sebaiknya membawa buku tambahan karena buku ini akan kamu selesaikan dengan cepat. Atau mungkin, kamu akan membacanya lagi segera sesudah tiba di halaman terakhir. Kami begitu. 24 Jam Bersama Gaspar, ya, seasyik itu.

My Documents – Alejandro Zambra

Sebelas cerita tentang para pembohong, para bandit, muda-mudi yang jatuh cinta di Chile sebelum dan sesudah kejatuhan Pinochet terkumpul di komputer Alejandro Zambra dalam sebuah folder berjudul My Documents. Saat kumpulan cerita itu diterbitkan, Zambra mengambil judul apa adanya, My Documents. Tentu ini bukan karena ia pemalas, atau kurang kreatif (Ini Zambra! Salah satu harapan utama kesusastraan Chile!), tapi kami pikir, kekuatan Zambra memang pada bagaimana ia mengolah cerita-cerita yang sekilas terlihat sangat biasa dan sehari-hari. Ada cerita percintaan dua orang yang dilihat dari hal-hal yang mereka lakukan pada komputer mereka (saat Max menerjemahkan puisi cinta di sana, saat Claudia yang baru selesai bercinta meneruskan malam dengan bermain Solitaire, atau saat komputer diberikan begitu saja pada anak Max dari hubungan lain setelah Max dan Claudia akhirnya berpisah). Di kisah lain, seorang lelaki menulis memoar dalam bentuk berbagai fragmen di komputernya, fragmen-fragmen yang diakhiri dengan kalimat yang membuat kami tercenung-cenung:

My father was a computer, my mother a typewriter. I was a blank page, and now I am a book.

We are Nowhere and It's Wow - Mikael Johani*

Baiklah, buku ini mungkin baru terbit sesudah libur lebaran nanti selesai. Tapi kami sudah terlanjur antusias untuk memulai pembicaraan tentangnya. Lagi pula, akan selalu ada akhir pekan panjang di mana puisi bagus akan membuat malammu menjadi lebih panjang, atau indah, atau liar, atau berputar-putar, bukan? Sebagian besar puisi ini ditulis Mikael Johani belasan tahun lalu, saat ia baru kembali ke Indonesia sesudah menghabiskan satu dekade di Australia, saat ia melihat Indonesianya dengan kaca mata baru. Ia bercerita tentang akar, pencarian akannya, juga kegelisahan (atau kebodo-amatan) saat semua terlihat samar-samar. Beberapa orang mungkin akan membicarakan keunggulan teknik Mikael dalam menulis puisi (atau mencelanya); bagaimana ia membuat penggambaran, atau metafora, atau kekayaan intertekstualitasnya, tapi kami menyukainya juga karena puisi-puisi yang ia tulis begitu jujur. Mungkin karena akar, pada masa itu, adalah sesuatu yang dekat di hatinya. Tentang puisi-puisinya Mikael berkata di salah satu bagian: … all gloves are off (pernah membayangkan Mikael si kritikus bermulut pedas itu menjadi sedikit rapuh?). Kami membaca puisi-puisi Mikael di pagi hari yang tenang dengan teh hangat dan musik pelan, dan kami menikmatinya. Di waktu lain, kami membacanya di siang yang panas dengan sebotol Jack Daniels, dan sekali lagi, kami di bawa ke sebuah tempat yang entah di sana, entah di sini, and it's wow.

*) disclaimer: penulis berafiliasi dengan toko buku ini.

Kineruku, Bandung

Foto dari arsip Kineruku.

Kaas (Keju) - Willem Elsschot

Willem Elsschot, 1933, edisi terjemahan Bahasa Indonesia oleh Penerbit Gramedia, 2010

Setiap karyawan mungkin pernah berangan-angan menjadi pebisnis dalam hidupnya, membayangkan hidup ongkang-kaki-bergelimang-harta dengan menjadi bos. Frans Laarmans yang polos, seorang kerani perusahaan galangan kapal di Antwerp, Belgia, gembira bukan main ketika tiba-tiba mendapati kesempatan menjadi pengusaha keju, makanan yang paling dibencinya. Segala hal kecil pun ia lakukan, mulai dari menimbang-nimbang nama perusahaan beserta singkatannya (ya, ia menghindari kata keju), memilih wallpaper berwibawa bagi ruang kantornya, membeli meja dan mesin tik bekas, hingga mencari agen dari pelosok negeri untuk membantu menjual keju-kejunya. Akhir cerita pun sudah bisa ditebak. Nihil. Kaas dengan gaya ceritanya yang deskriptif namun lempeng, singkat padat, sinis tapi lucu ini tak hanya bikin kita geleng-geleng, tapi juga berhasil menyadarkan kembali segala kemampuan senyum yang kita miliki, mulai dari yang pahit, manis, hingga yang paling sering muncul: miris. Diharapkan dengan membaca buku ini, handai taulan sekalian dapat melatih terlebih dahulu potensi senyum sebelum bertemu dan mendengarkan kisah sanak saudara dalam liburan kali ini.

Merantau ke Deli - Hamka

Terbit pertama 1941, cetakan VIII oleh Penerbit Pustaka Panjimas, 1982

Kisah dibuka dengan para buruh yang baru gajian, dan bagaimana mereka menyerah kepada godaan "menguapkan" perasan keringat itu demi hal yang "membahagiakan" mereka. Sebagian berbelanja baju dan makanan, sebagian lainnya berjudi. Gaji yang diterima pada pukul 5 bisa ludes dua jam kemudian. Hikayat ini ditulis Hamka pada 1939-1941, tapi seolah ditujukan bagi siapapun yang merasa pemasukannya tidak cukup. Sesungguhnya, cukup adalah kondisi yang diperjuangkan semua orang. Ada Poniem, perempuan Jawa yang dikawini laki-laki yang kemudian menjerumuskannya menjadi kuli kontrak di Deli. Leman, pemuda Minang, jatuh cinta kepada Poniem serta berjanji melindunginya. Keduanya lalu menikah. Perniagaan Leman berkembang berkat tambahan modal dari simpanan Poniem. Namun perjuangan mereka untuk merasa cukup belum usai. Kebanyakan kenalan Leman menganggap Poniem "orang lain" hanya karena tidak berasal dari Minang. Di benak Leman pun muncul keinginan menikahi perempuan sekampung yang bisa melahirkan anaknya. Ia bahkan mulai bertanya-tanya, "Bagaimana rasanya menikahi perawan?"

Meski menyedihkan, Hamka mengungkap jalan hidup tokohnya dengan biasa-biasa saja; tak kelewat dramatis sebagaimana beberapa pembuat film meletakkan musik megah pada adegan ketika penonton mesti terharu. Pada akhirnya, semua tokoh menerima konsekuensi dari perbuatan mereka sendiri. Mungkin keadilan tak selalu terjadi dalam hidup kita, termasuk liburan kali ini. Tapi bukankah buku kita belum kelar ditulis?

Innocent When You Dream, Tom Waits: The Collected Interviews - Mac Montandon (editor)

Edisi paperback oleh Orion Books, 2007

Seorang kawan yang bersuara merdu dan pandai bernyanyi pernah dengan tepat menggambarkan vokal Tom Waits: "mirip knalpot bocor", namun tetap mengagumkan. Si kawan tentu tak sendiri. Ada banyak pemuja Tom Waits di seantero bumi, hasil kombinasi maut dari pita suara sember, iringan blues/jazz/experimental yang lebih mirip organized noise ketimbang musik, yang terus-terusan merepet soal apesnya kehidupan untuk ditertawakan, serta kepribadian misterius yang kocak, gelap, dan sulit dimengerti. Sampai hari ini belum pernah ada buku otobiografi dari si kerongkongan kodok ini, sehingga kumpulan 38 naskah profil dan wawancara inilah yang paling mendekati: Tom Waits dalam kata-katanya sendiri. Mungkin memang dibutuhkan kisah hidup yang tak lazim untuk bisa menghasilkan musik ganjil sepekat itu, seperti masa kecil yang diisi dengan merakit radio transmisi sendiri (ayahnya ahli radio di militer) dan meyakini alien pernah menghubunginya lewat perangkat itu. Ia menceritakan itu ke Jim Jarmusch, kawannya seorang filmmaker, yang mewawancarainya di atas mobil tuanya yang perlente, dan berakhir dengan mobil itu terbakar.

Musik dan jalan hidupnya sama-sama ajaib, meminjam kata-kata Frank Black dari The Pixies di halaman pengantar buku tentang senyum menyeringai Tom Waits di atas panggung, "mengesankan, juga agak menyeramkan." Ketika majalah Vanity Fair menyodorkan daftar klasik Proust Questionnaire, di pertanyaan "On what occasions do you lie?" jawaban Tom Waits adalah " Who needs an occasion?" Membaca lembar-lembar absurd buku ini bisa menenangkan jiwa-jiwa mudik nan resah; karena selihai apa pun kita bersiasat di liburan-sekadar-setor-muka yang berpotensi menjengkelkan ini, menjadi diri sendiri adalah justru muslihat terbaik yang bisa kita lakukan.

Radiobuku, Yogyakarta

Aki - Idrus

Aki adalah tipe novel yang habis dibaca sekali duduk. Namun jangan salah, walaupun hanya 68 halaman, di setiap lembar pembacanya akan mempertanyakan kembali untuk apa dirinya "ada", untuk apa ia bergelut dengan kehidupannya, dan mengapa manusia menyusun rencana-rencana. Eksistensialisme Nietzsche dikerangkai dan dipelintir sedemikian rupa oleh Idrus. Coba cermati kutipan dari halaman 22 berikut ini:

"Tuhan sudah mati
Sekarang Aki jadi Tuhan
Tapi Aki juga akan mati
Jadi semua tidak kekal
Tuhan tidak, Aki tidak, Aku tidak!"

Mohon jangan terburu-buru memaknai kalimat "Tuhan sudah mati"— Idrus bukan tipikal orang yang mudah berterus terang—berkontemplasilah. Sesudah Ramadan berakhir, di tengah suasana mudik, alangkah baiknya kita kembali merefleksikan diri. Benarkah selama ini ibadah kita murni atau hanya rutinitas tanpa arti? Kalau perlu pemaknaan kembali silakan lakukan. Di momen Lebaran ini, sudahkah kita mengkoreksi diri?

Bartleby (Si Juru Tulis) - Herman Melville

Pernahkah kalian bilang, "saya tidak mau"? Pasti pernah kan? Tapi apa jadinya kalau kalian selalu bilang, "saya tidak mau" untuk segala permintaan dengan wajah datar tanpa ekspresi? Itulah citra seorang Bartleby. "Bartleby Si Juru Tulis" adalah salah satu cerita dalam kumpulan Piazza Tales (1856)—karya pamungkas Herman Melville, sebelum ia 'gantung pena'—yang diterjemahkan Widya Mahardika Putra, pimpinan redaksi Penerbit Oak.

Bartleby adalah juru tulis baru kantor Asisten Pengadilan Eksekutif di New York. Baru hari ke tiga ia bekerja, si bos sudah mati kutu mendapat penolakannya. Bartleby selalu bilang tidak mau bila disuruh melakukan kerja yang bukan bagiannya, belakangan tanggung jawabnya pun ia tolak.

Buku ini dapat dibaca sekali duduk; bukan kategori buku yang menguras tenaga, tapi kesannya luar biasa. Tokoh utama dan sampingan sama-sama kuat karakternya; lugas dan satir. Coba kalian lakukan apa yang dilakukan Bartleby di hari lebaran nanti—"Mohon maaf lahir dan batin!" "Saya tidak mau!"—agar maaf tak jadi sekadar kata-kata.

Resep Membuat Jagat Raya - Abinaya Ghina Jamela

Saya sarankan begitu kalian membuka plastik pembungkus buku ini, langsung baca halaman terakhir. Tanyakan pada diri sendiri, di usia kalian saat ini apa saja yang telah kalian capai? Abinaya baru delapan tahun dan sudah menancapkan panjinya di belantara satra Indonesia. Berapa usia kalian sekarang? Hmm... (terdengar gerutuan insekyur).

Puisi-puisi Abinaya sederhana, jujur, dan apa adanya; bukan barisan kalimat yang menggetarkan, tapi menghanyutkan. Membaca Resep Membuat Jagat Raya membuat kita malu, betapa dunia bocah begitu kompleks dalam kesederhanaannya. Kita acap luput memaknai berbagai hal: bagaimana puasa menjadi rutinitas saja. Betapa Lebaran melulu hingar-bingar saja. Bagaimana mudik jadi sarana unjuk prestasi saja. Asah kembali tumpulnya nurani kita.

Apa adanya bukan berarti tanpa prasangka. Membaca apa yang Abinaya tulis sangat mungkin membuat kita berprasangka... bahwa kita belum dewasa.

Setiap bunda memasak tempe / aku suka mencurinya // (22).