FYI.

This story is over 5 years old.

Kencan Pertama

Pengalamanku Kencan Dengan Wanita Idola Semua Manusia: Natalie Imbruglia

Aku berhasil mengencani penyanyi tembang hit “Torn” yang juga merupakan sosok wanita idamanku sejak lama. Hehehe, jangan iri ya.

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.

Aku harus bertarung untuk bisa berada di sini, duduk sendirian di sebuah meja dibelakang sebuah restoran kosong kawasan Manhattan, New York, menunggu teman kencanku malam itu: Natalia Imbruglia. Aku tidak harus bertarung melawan manajernya, yang justru lumayan ramah mengatur pertemuan kami. Masalahnya ketika kesempatan untuk ngobrol dengan Natalie Imbruglia muncul, banyak jurnalis musik berumur jadi norak. Mereka saling bersaing demi kesempatan ngobrol satu lawan satu dengan perempuan idaman umat manusia itu. Terus aku sendiri gimana? Aku kayaknya bakal jadi yang paling norak dari semua manusia norak tadi.

Iklan

Aku baru 15 tahun ketika video klip "Torn" dirilis. Aku langsung jatuh cinta bukan kepalang dengan sosok penyanyinya. Kejadiannya 1998, periode kalian masih terbiasa nonton Baywatch dan menonton buah dada raksasa Pamela Anderson menyeruak keluar kostum mini penjaga pantai dalam slow motion. Namun bagi remaja romantis yang menyedihkan sepertiku, Natalie menjadi lambang seks yang berbeda. Dia terlihat malu-malu dan tomboy di video, seakan tidak tahu harus melangkah kemana. Potongan rambut tajam serendah dagu terus menutupi matanya. Dia mengenakan celana gombrong dan sebuah hoodie yang terlalu besar, ujung lengannya menutupi kepalan tangannya yang kecil. Ini adalah tipe perempuan yang anda ingin jadikan pacar dan melakukan hal-hal cheesy khas pasangan bersama dengannya, seperti berjalan kaki bareng selama berjam-jam ngobrol ngalor ngidul.

Natalie Imbruglia terlihat seperti tipe perempuan yang terlalu malu untuk mengatakan dia menyukaimu dan karenanya, menyuruh temannya menarik dirimu dan berbisik, "Natalie bilang kamu lucu lho." Kini aku menunggu dirinya hadir di restoran. Empat kata terus terulang dalam kepalaku malam itu: Jangan. Bikin. Malu. Njing.

Aku sempat kepikiran mengenakan jas, tapi terus gak jadi setelah coba ngaca di rumah dan sadar betapa gilanya penampilanku terlihat mengenakan jas ke acara kencan makan pagi dalam cuaca panas. Aku juga sempat berpikir membawa bunga, tapi membatalkannya ketika membayangkan melihat bunga tersebut dibuang ke tong sampah di luar restoran tidak lama setelah kencan berakhir.

Iklan

Aku tetap ingin terlihat elegan, jadi aku googling "restoran mewah untuk kencan di Manhattan." Aku menelpon restoran pertama yang muncul dan membuat reservasi untuk dua orang dengan manajernya. "Oh, by the way," ujarku lewat telepon, "Kalau bisa meja yang agak mojok yah, soalnya…ini semacam kencan." "Wah bagus," katanya.

"Iya, ini bagus. Jadi iya, mungkin meja yang lucu, mungkin kayak booth gitu, soalnya ini sudah pasti kencan."

"Oke, iya kencan, tadi udah disebut."

"Ok, mau memastikan aja semua jelas bahwa ini acara kencan," kataku kembali mengulang secara sia-sia. Kemudian dia mengaku harus mengangkat telepon lain biarpun aku tidak mendengar bunyi dering apa-apa.

Aku duduk di meja, menenggak air putih penuh cemas. Tiba-tiba seseorang memasuki restoran, tapi bukan Natalie. Ternyata itu manajer humasnya. "Natalie sedang otw ke sini dan dia agak deg-degan katanya," ujarnya. Hore! Belum-belum kami sudah punya satu kesamaan! "Dia sudah beberapa tahun tidak mempromosikan apa-apa di Amerika Serikat, oh iya jadi inget, nih." Dia memasukkan tangannya ke dalam tas dan memberiku CD terbaru Natalie, Male, sebuah album berisikan lagu-lagu cover yang awalnya dinyanyikan oleh musisi lelaki, rilisan pertamanya dalam enam tahun. Ini mengingatkan saya bahwa pertemuan ini mungkin tidak seromantis yang kukira. Dia keluar menjemput Natalie dan aku kembali menunggu. Sama seperti banyak hubungan romantis sukses lainnya, aku menyiapkan diri dengan cara membaca press release tentang teman kencan saya.

Iklan

Kemudian wanita pujaanku itu masuk.

Natalie tidak terlihat spesial dari jauh, tapi pemikiran ini pudar semakin dia mendekat. Aku langsung sadar kenapa sutradara video "Torn" menghabiskan sebagian besar video merekam wajahnya secara close-up. Dia sangat cantik dari dekat. Tipe kecantikan yang membuatmu lupa dengan nama sendiri, dengan mata biru yang menusuk, dan tulang pipi tajam yang menusuk, bahkan ketika dia tidak sedang tersenyum. Rambutnya sudah lebih panjang semenjak era "Torn". Rambut coklatnya yang pernah tampil dalam produk L'Oreal jatuh di atas bahunya. Dia mengenakan gaun berwarna biru tua.

"Wah, itu mobil buat pesta ya?" aku nyeletuk sambil menunjuk ke mini-bus gelap yang diparkir di depan jendela. "Eh, Iya," jawabnya malu-malu. "Kalau sedang tur Amerika, saya diantar-antar menggunakan itu."

"Saya naik kereta tadi," sahutku cepat, "makanya saya keringetan banget." Duh, bego, kenapa juga gue ngomong begini?

Kami duduk dan melihat menu makanan. Dia bertanya apa yang akan kupesan. "Saya pengen omelet nih," kataku, terdengar blo'on. "Tapi kayaknya buat kencan, lebih bagus makan yang ringan kali ya. Ya bisa dibilang saya agak…" Astaga, Dan, jangan bikin guyonan "torn". "Saya agak…" Plis, jangan sebut. "Saya agak bingung." Fiuh, untung aja. Dia setuju dan kami memesan semangkuk buah bareng-bareng. Dia juga memesan teh peppermint.

Aku segera memanggil pramusaji. "Eh, Eric," saya tahu namanya karena saya tiba 40 menit lebih awal dan sempat ngobrol dengannya. "Ini teman kencan saya, Natalie Imbruglia. Kami akan makan ringan aja nih buat kencan. Boleh pesen semangkuk buah gak?" Dia bercanda dan mengatakan bahwa kami terlihat cocok sebagai pasangan. Kami berdua tertawa. Eric meninggalkan meja dan akhirnya saya dan Natalie bisa berduaan.

Iklan

"Mungkin kamu sudah sering denger dari banyak cowok seumuran saya, tapi dulu, hingga sekarang, saya masih naksir gila-gilaan sama kamu," saya langsung mengaku saja. "Pasti kamu udah sering dengar begituan."

"Masa?" jawabnya terkejut. "Enggak, gak sering. Ya gak ada sih yang main ngomong gitu aja langsung di hadapan saya. Mungkin aja ini benar, tapi saya jarang dengar langsung." Dia berbicara dengan lembut diiringi aksen Australia yang kuat. Aku ingin membahas video "Torn", karena setelah 17 tahun, sisi masokis dariku ingin mengenyahkan mitos tentang Natalie Imbruglia di dalam kepala. Aku ingin mendengar bahwa dia sekadar boneka label rekaman, sengaja dibentuk untuk menarik anak-anak alternatif rock 90-an naif sepertiku, bahwa tidak ada orang yang sesempurna bayangan kita. Tapi semakin dia banyak berbicara, aku justru semakin yakin dia tulus.

"Waktu itu, saya masih sangat insecure," katanya merujuk kepada umurnya yang baru 22 tahun ketika video itu dibuat. "Saat itu, industri musik punya banyak uang dan mereka memiliki banyak katalog penata gaya dan ahli make-up, anda tinggal milih aja. Terus saya ketakutan, 'Wah, saya akan dipaksa mengenakan gaun nih.' Saya ingat mengucapkan ini ke mereka, 'Saya ingin mengenakan pakaian sendiri, boleh gak?' Mereka tidak melawan, seakan-akan mereka mengira saya tahu sesuatu yang mereka tidak. Akhirnya saya muncul mengenakan pakaian sehari-hari: celana army dan sepatu trainers Buffalo. Masih inget gak sepatu Buffalo?

Iklan

Aku tidak terlalu ingat, tap aku tersenyum dan mengangguk, karena di saat ini aku sudah terbuai. Natalie Imbruglia yang begitu kucintai dari era MTV ternyata sama dengan Natalie Imbruglia yang sedang duduk di depanku. Dia otentik dan tulus, sama rapuhnya dengan dirinya di video "Torn", hanya sekarang lebih percaya diri dan nyaman menjadi dirinya sendiri.

Aku berusaha sebaik mungkin untuk terus bertanya dan melempar guyonan, dan sepertinya aku agak berhasil. "Kamu lucu banget!" ujarnya di satu titik. Ucapan ini segera kurekam dan sekarang menjadi voicemail message ponsel.

Kami sempat ngobrol tentang sulitnya berkencan ketika anda berumur 40 tahun dan dikenal semua orang. "Ya saya gak bisa main Tinder," katanya tertawa. Ketika ditanya soal tipe pria idaman, dia mengatakan bahwa dia menyukai lelaki yang lucu dan baik hati. Ini tentunya membuatku percaya diri, karena sesuai dengan kriterianya, aku juga seorang lelaki. "Teman saya mengatakan saya suka cowok cantik, tapi kayaknya enggak ah," ujarnya. "Yang penting kamu merasa terhubung dengan pasangan. Yang terpenting adalah menemukan seseorang yang akan merawatmu."

"Jadi, Natalie Imbruglia, kamu kan seleb. Mungkinkah kamu memacari orang yang bukan seleb?" tanyaku. "Misalnya, penulis musik gitu? Atau kayaknya ga bakal nyambung sama sekali? "Penulis musik? Wah pasti nyambung banget!" ujarnya. Mati lah gue. Ya owloh, gue bentar lagi mati dan obituari gue akan bertuliskan "Lelaki ini mati setelah cedera akibat terlalu banyak senyum ketika kencan dengan Natalie Imbruglia". Rasanya catatan obituari macam itu tidak terdengar seperti skenario yang buruk.

Iklan

Setelah beberapa saat, nuansa selebnya mulai pudar, dan Natalie tidak lagi terlihat jauh berbeda dengan beberapa perempuan yang pernah saya kencani. Dia memiliki tato bulu di dalam lengan kanannya, dan secara santai menyebutkan sisi spiritual dan kebiasannya bermeditasi. Dia berbicara tentang hobinya berakting dan menyanyi, dan betapa pentingnya mengikuti suara hati. Tentu saja pikiran saya kerap dibawa kembali ke Bumi ketika aku ingat biarpun dia menyangkal, kalau dia pernah digosipkan memiliki hubungan romantis dengan Pangeran Harry. Huft. Aku jelas bukan anggota Kerajaan Inggris.

"Saya perlu ke toilet…ada pintu belakang yang bisa dipake gak sih?" katanya sambil bercanda. Eh, barusan guyonan aja…kan? Ya owloh, dia benci sama gue. Dia pengen kabur dari kencan ini. Mungkin dia pikir Eric lebih lucu.

Kamar mandinya terletak di lantai bawah, dimana juga terletak sebuah ruangan bar kosong yang nyaman, penuh dengan botol-botol dekorasi di dinding. Saya tengah melihat-lihat ruangan ketika dia mengagetkan saya dari belakang.

"Ngeliatin apa?" tanyanya.

"Oh saya cuman mikir," ujar saya," ini bisa jadi tempat yang bagus buat pesta tunangan kita." Dia tertawa keras. "Iya bener juga," katanya. "Semoga tempatnya cukup buat semua teman saya ya."

"Iya," aku melanjutkan dengan polosnya. "Saya ngebayangin, buat undangannya mungkin kartu putih polos dengan hiasan minimalis." Dia tertawa lebih keras lagi.

Iklan

Saat jalan bareng, kami melihat photo booth di lantai dasar dan sepakat mengambil beberapa foto bersama. Saya menyingkap korden kotak dan terlihat hanya satu kursi tersedia. "Dan, ini trik biar saya duduk di pangkuan kamu ya?" candanya. "Enggak!" saya jawab ketakutan. "Masa saya yang duduk di pangkuanmu? Berat saya lebih dari 100 kilo lho." Kenapa juga informasi semacam ini dibeberin, dasar lo gendut bego!

Kami mengambil beberapa foto dan menertawakan hasilnya. Aku bilang kalau akan menyimpan satu lembar dan dia boleh menyimpan lembaran satunya supaya dia bisa terus mengingatku. "Pastinya, saya akan terus mengenangmu," katanya seiring saya memberikan lembaran foto, dan saya percaya dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Kembali di meja, kami berpamitan—dia memiliki jadwal yang sibuk seharian. Selagi dia disuruh buru-buru ke janji berikutnya, kami saling berpelukan dan dia memberiku ciuman di pipi. Dia mengatakan kencan kami menyenangkan. Dia pergi, dan aku terduduk dengan senyuman terbodoh di dunia terpampang di wajah.

"Gimana kencannya?" tanya Eric sambil menyodorkan tagihan. "Lumayan sih kayaknya," kubalas begitu sambil menyerahkan uang. Emang sukses kok. Aku berhasil ngobrol dengan perempuan cantik penuh talenta tanpa terlalu mempermalukan diri. Kalo menurut standarku, itu sih kencan yang sukses. Kemudian aku melihat ke bawah dan merasa perut bagaikan baru ditinju. Natalie meninggalkan lembaran foto kami berdua begitu saja di atas meja.

Hal ini langsung menyadarkan kembali semua panca inderaku. Betapa bodohnya kita bila percaya bahwa sosok idaman bakal sesempurna fantasi di dalam kepala. Betapa bodoh jika kalian berpikir manusia seperti Natalie Imbruglia benar-benar tertarik dengan seseorang sepertiku, kalau bukan karena ada agenda untuk promosi albumnya.

Aku duduk sendiri di meja beberapa menit, berusaha memproses perasaan sakit dalam hati ini. Kemudian pintu terbuka lebar dan seseorang terburu-buru menghampiri saya. Ternyata itu si manajer Natalie yang tadi ketemui. "Ya ampun, Natalie kesel banget—hampir fotonya ketinggalan!" ujarnya, sembari mengambil lembaran foto dari atas meja sebelum pergi lagi. "By the way," katanya, saya mulai panik sambil kegirangan, "kata Natalie, kamu lucu banget."

Dan Ozzi kini sudah bisa mati dengan tenang. Follow dia di Twitter .