Kuliner Tiongkok

Robot Mulai Dipakai Mencicipi dan Memastikan Standar Rasa Masakan Cina

Robot di Tiongkok memiliki lidah, mata, dan hidung buatan agar akurat menentukan masakan mana yang paling enak dan "otentik", melebihi manusia.
Robot Mulai Dipakai Mencicipi dan Memastikan Standar Rasa Masakan Cina
Ilustrasi masakan khas Tiongkok via Shutterstock 

Ketika kalian mengaku suka makanan khas Cina (biasa disebut chinese food di Indonesia), hidangan seperti apa yang kalian maksud? Apakah yang manis-manis ala tradisi kuliner Kanton, atau masakan pedas dari Sichuan? Ada delapan jenis langgam masakan Cina, dan semuanya memiliki ciri khas masing-masing. Tergantung pada lokasi geografis, perubahan budaya, dan bahan-bahan yang tersedia. Kuliner Tiongkok sangat luar biasa, karena punya cita rasa yang berbeda di setiap daerah.

Iklan

Tapi, buat bisnis, keragaman itu merepotkan produksi bumbu massal dan hendak diakali. Industri makanan Cina sejak lama mencoba menstandardisasi produk makanan tertentu, seperti saus bawang dan cuka yang dipakai semua langgam kuliner Tiongkok, ke pasar domestik dan global. Para pengusaha melakukannnya agar dapat meningkatkan kualitas, efisiensi, dan laba. Supaya prosesnya menjadi lebih mudah, program yang didanai pemerintah tersebut menggunakan kecerdasan buatan.

Menurut laporan dari pemerintah pusat Tiongkok yang dirilis bulan lalu, lebih dari 10 produsen masakan tradisional Cina melaporkan keuntungan yang signifikan setelah bergabung dalam program pemerintah berdurasi tiga tahun. Di program tersebut, ada robot yang berfungsi sebagai pencicip makanan.

Cara kerjanya kira-kira begini: mesin yang dipasang di sepanjang titik jalur produksi makanan akan memastikan kalau produknya memiliki rasa, bau, dan penampilan yang sama. Mesin-mesin tersebut terhubung ke algoritma saraf yang menyerupai "otak", diikuti oleh serangkaian sensor yang meniru hidung, lidah, dan mata manusia.

Mesinnya bisa “melihat” dan “mencium” makanannya tanpa perlu merusak. Yang dibutuhkan hanyalah menempelkan lidah buatan untuk “mencicipinya”. Sejumlah pakar makanan telah melatih AI untuk meniru cara manusia bereaksi terhadap makanan. Dengan begini, mesinnya dapat beroperasi layaknya manusia dengan tingkat keakuratan setinggi 90 persen.

Iklan

Program ini terbukti efisien bagi banyak pabrik bumbu khas kuliner Tiongkok, dan menghasilkan keuntungan yang lebih besar sejak dimulai.

Robotnya saat ini terus dipakai mencicipi, membaui dan mengamati daging perut babi yang dimasak pakai metode 'curing', alias dipanggang dengan cuka beras hitam, mi kering, anggur kuning, dan teh. Produsen makanan memperoleh banyak pemasukan karenanya. China National Light Industry Council melaporkan kecerdasan buatan meningkatkan laba produsen hingga lebih dari 300 juta Yuan (setara Rp634 miliar) sejak 2015.

Pemerintah beranggapan menentukan rasa makanan dengan robot adalah isu sensitif, mengingat jenis hidangan Tiongkok sangat rumit. Sun Lin, direktur China Cuisine Association (komunitas koki terbesar di Cina), mengatakan rasa makanan sebaiknya tidak ditentukan oleh robot.

"Hidangan Tiongkok sangat unik," katanya saat diwawancarai South China Morning Post. "Saya rasa bumbu makanan ini akan sulit distandardisasi."

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.