Di Sebuah Kios Kecil Kawasan Glodok, Dewa-Dewa Berkumpul
Beberapa patung di toko Koh Hongky. Semua foto oleh Yudistira Dilianzia.
Easy Riders

Di Sebuah Kios Kecil Kawasan Glodok, Dewa-Dewa Berkumpul

Toko kecil milik Koh Hongky ibarat gerbang menuju dunia para dewa penganut Kong Hu Cu di negara kita.
5.10.17

Ada sebuah kios mungil di pusat elektronik Glodok yang, secara harafiah, bisa kita sebut surga di bumi. Hongky Limatra, akrab dipanggil Koh Hongky, menjual patung dewa-dewa Kong Hu Cu, Budha, dan dari agama Hindu yang biasanya ditemukan di rumah-rumah peribadatan.

Glodok dikenal sebagai sentra penjualan barang elektronik, namun lantai pertama mall tersebut dipenuhi kios-kios mungil seperti milik Koh Hongky. Menariknya, kios Koh Hongky justru terletak di lantai dua. Terhimpit televisi, kamera pengawas, dan suku cadang komputer.

Koh Hongky menganut agama Kong Hu Cu, tapi dia mengaku bahagia betul karena bisa membantu orang-orang beribadah. Dia bilang, dia telah menjual patung-patung ini selama puluhan tahun. Dia lupa kapan awalnya, tapi kiosnya pindah ke Mall Glodok sejak pusat belanja ini mulai dibuka awal 2001.

"Kalau yang paling mahal ini patung Shakyamuni dari Buddha dan Dewa Chi Kung," jelas Hongky. "Kalau orang paling banyak cari Dewi Kwan Im dan Dewa Tu Ti Pa Kung yang merupakan Dewa Pemegang Bumi, dan Kwan Kong (Guan Yu) sang Jenderal jujur (dari agama Tridharma Budha, Tao, dan Konfusianisme)."

Patung-patung ini umumnya akan diletakkan di rumah-rumah peribadatan. Meski penganut Kong Hu Cu tak sedikit, sulit sekali menemukan dewa-dewa tersebut di pasaran. Diperkirakan 87 persen penduduk Indonesia menganut agama Islam—meski lima agama lainnya diakui oleh negara—sebuah fakta yang menjadikan kios-kios seperti milik Koh Hongky disayang pelanggan dari segala penjuru Indonesia.

Dan terkadang patung-patung ini memicu kontroversi. Di Tuban, Jawa Timur, baru-baru ini patung Dewa Guan Yu setinggi 30 meter, terpaksa ditutup dengan selembar kain setelah mendapatkan protes dari kelompok-kelompok Islamis setempat. Mereka menyebut patung tersebut simbol "kolonialisme Cina" dan penghinaan terhadap iman penduduk mayoritas.

Pelbagai kontroversi, termasuk serangan terhadap agamanya membuat Koh Hongky, yang berusia 70 tahun, menitikan air mata.

"Kwan Kong ini jenderal jujur ini," ucap Hongky sambil terisak. "Saya minta pemerintah agar bijaksana, karena itu patung Jenderal jujur. Sebetulnya dia enggak melanggar dan di dalam kawasan klenteng."

Insiden Tuban merupakan pengingat. Kendati Kong Hu Cu telah diakui resmi di Indonesia, negara ini masih perlu melatih toleransi beragama antar masyarakat.

"Ini kepercayaan masing-masing, agama tidak bisa dipaksa. Orang mesti kenal sejarah karena itu jenderal paling jujur," ujar Hongky di hadapanku terisak. "Peristiwa [Tuban] sangat membekas dan sakit."