Film India

Amitabh Bachchan, Aktor Legendaris India yang Menyatukan Keluarga Saya

Sosok pemersatu itu adalah orang yang bisa bikin kami ketawa dan menangis bareng-bareng.
Amitabh Bachchan (sumber foto: STRDEL/AFP/Getty Images)

Ada tiga hal yang selalu bikin India hidup: makanan, pertandingan cricket, dan film. Tanpa ketiganya, orang India bakal malas bangun dari tempat tidur. Apalagi keluar rumah dan hidup di negeri yang begitu akrab dengan kemiskinan, kerusuhan dan korupsi. Saya lahir di New Delhi, dibesarkan dalam keluarga yang tergila-gila film. Saking nyandunya kami pada film, kami punya tiga buah TV di rumah. Bukannya sombong atau pamer, tapi kami pasang semua TV bareng biar tak ada Perang Dunia III di antara kami. Dengan tiga pesawat TV, ayah dan paman bisa nonton siaran berita di TV hitam putih Devdas, yang lain menikmati drama musikal India dari dekade 80-an, sementara saya dan adik nonton siaran langsung pertandingan tenis Wimbledon. Hanya ada satu alasan kami akan nonton satu layar TV yang sama. Semua berkat satu pria yang selalu bisa mengikis perbedaan di antara kami: aktor legendaris Amitabh Bachchan. Dia bukan politisi apalagi seorang manusia suci, meski ada sebuah kuil yang dibikin khusus untuk memujanya. Setidaknya buat saya, Amitabh Banchchan sudah seperti bagian dari keluarga sendiri. Saya yakin ada banyak orang India lain berpikiran sama. Sebagai sosok yang sangat penting dalam sejarah perfilman India, karir Bachchan mulai melambung berkat sembilan film pertamanya. Dia diganjar penghargaan lewat film Anand yang tayang pada 1970. Sayangnya, ini bukanlah film yang langsung mengangkat popularitasnya. Tergantung pada siapa pertanyaan kamu diarahkan, tapi rata-rata pengamat film sepakat titik tolak popularitas Bachchan ada di film komedi laga Bombay to Goa yang rilis 1972, atau film yang popularitasnya merentang sepanjang tiga abad: Zanjeer yang beredar setahun setelahnya. Bachchan paling kentara menikmati ketenaran berkat Zanjeer. Dia kerap digambarkan sebagai "pemuda pemberang", tipikal anak muda yang berani berjuang untuk bertahan hidup saban hari di sebuah negeri yang penuh kenelangsaan dan ketidakberdayaan. Pemuda ini, jika diperlukan, akan melakukan perlawanan dalam kondisi-kondisi tertentu. Tipikal karakter Bachchan inilah yang kemudian menjadi simbol dan diidolakan banyak anak muda sezamannya. Kalian mungkin perlu tahu konteks sosialnya. India sepanjang dekade 70-an merupakan negara yang sedang kebanjiran lulusan universitas. Para sarjana muda ini berulang kali dijejali petuah orang tua, bahwa dengan pendidikan tinggi kau bakal jadi orang sukses di negara muda yang umurnya baru 30 tahun kala itu. Bukannya mengikuti anjuran orang tua, wejangan-wejangan ini diberaki ramai-ramai oleh anak muda. Tren menjadi anak muda yang melawan kemapanan dipicu oleh kacaunya pranata sosial India pada dekade tersebut. Banyak perempuan hamil tanpa dinikahi dan ditinggalkan begitu saja oleh pasangannya. Gadis-gadis muda jengah dengan pria-pria busuk yang rutin menggoda mereka. Lalu ada kuli-kuli pelabuhan yang bermimpi mengecap hidup yang glamor lengkap dengan segala intrik-intrik di sekitarnya. Orang-orang biasa, dengan segala kepenatan yang mereka telan tiap hari, jelas ingin dihibur, setidaknya selama 3,5 jam durasi film lah. Dengan latar belakang seperti itu, Bachchan menyeruak sebagai aktor muda yang beda dari koleganya. Okelah, dia memang berparas ganteng, lumayan lebih ganteng dari sesama aktor lain. Tapi, faktor pembeda utama adalah pilihan peran yang dia ambil. Lakon-lakon yang dipilih Bachchan kebanyakan sosok pemuda yang sebenarnya biasa saja, tapi akan berani melakukan apapun demi berjuang hidup sembari menjaga adat dan kehormatan keluarganya. Bagi jutaan warga India, Amitabh Bachchan adalah simbol dari hidup. Perlambang orang biasa yang rela melakukan apapun untuk menjaga keluarganya. Dulu, sewaktu saya masih kecil, kala ditanya film apa yang menyatukan keluarga, saya tak ragu langsung menyebut Sholay. Film yang beredar pertama kali pada 1975 itu sudah habis diulas melalui ribuan tulisan. Kadang, Sholay dianggap sebagai pelopor genre "film masala" atau "curry Western"—semacam genre koboi tembak-tembakan dengan setting India. Kategorisasi ini tak sepenuhnya ngaco. Masalahnya, penempelan dua embel-embel ini mereduksi dampak film tersebut pada India dan dunia secara luas. Sholay bukan sekadar film laga. Nyaris semua aspek dalam film tersebut masih bisa dinikmati sampai sekarang, tak pernah terasa ketinggalan zaman. Dialog, nyanyian, bahkan tarian dalam film itu masih relevan bahkan sampai hari ini. Bachchan, dalam Sholay, berperan sebagai Jai. Sosok penjahat bijak, yang bersama kawannya Veeru, direkrut seorang mantan polisi membalaskan dendam pada seorang perampok kambuhan. Sebelum menulis artikel ini, saya sengaja menonton Sholay. Ada selang sepuluh tahun sejak kali terakhir saya menikmati film tersebut. Seperti biasa, film ini segera menimbulkan perasaan hangat di dada saya. Sekedar kembali menontonnya saja sudah bisa membuat saya seperti ingin lari ke jalan dan menari, atau setidaknya mengirim semua orang ke kelas-kelas kursus bahasa Hindi agar semua bisa memahami dialog dalam film itu. Saya tak sedang bercanda. Tanpa pemahaman bahasa Hindi yang baik, saya khawatir ada detail-detail dalam dialog Bachchan yang hilang lewat proses penerjemahan. Dalam Sholay, suara Bachchan melayang bak bulu yang diminyaki. Kalimat pertama yang meluncur dari mulutnya dijamin menggugah pemuja ideologi anarkisme di luar sana: "Semua polisi bagiku sama bejatnya." Belakangan, saya makin rutin menyusuri filmografi Bachchan. Ada dua film, yang dulu terasa biasa saja, belakangan ternyata bikin saya terperangah. Saya sempat lama tidak menonton Abhiman (1973) sejak remaja. Jujur, saya lumayan jiper menonton ulang film itu. Cerita Abhiman adalah adaptasi dari kisah nyata gonjang-ganjing rumah tangga musisi legendaris Ravi Shankar dengan istri pertamanya Annapurna Devi. Abhiman menyoroti kecemburaan yang menelan Ravi Shankar, setelah tahu istrinya jauh lebih berbakat dalam bidang musik. Dorongan seksual serta konflik keduanya dalam kemelut rumah tangga digambarkan begitu jujur. Saya kaget bukan kepalang setelah melihatnya lagi sekarang. Bachchan memerankan sosok Ravi Shankar yang kerap bersungut-sungut dan dipasangkan dengan istrinya sendiri Jaya Bhaduri. Pilihan sutradara itu menambahkan lapisan menarik dalam film ini, karena akting keduanya terasa lebih natural dari biasanya, yang tak saya pahami sewaktu kecil.

Iklan

Sebaliknya, entah berapa kali saya sudah menonton Chupke Chupke (1975). Hebatnya, saya tak pernah bosan memantengi Bachchan saat berperan sebagai Sukumar Sinha, profesor sastra Inggris cerdas yang punya stok selera humor berlebih buat mengerjai kakak sepupu kawannya. Yang bikin film ini keren adalah keberhasilan sutradara mengungkap potensi humor dalam diri Bachchan. Bachachan adalah sosok humoris. Fakta ini sering dilupakan oleh banyak sutradara yang bekerja sama dengannya. Bachchan tak kalah lucu saat membintangi Piku (2015). Di film tersebut, dia memerankan sosok bapak sepuh asal Bengali, bernama Bhaskor Banerjee, dengan perutnya yang sedang begah. Dari premis sederhana macam itu, berbagai kekonyolan mengalir tanpa henti. Sulit mencari momen film lain yang menampilkan Bachachan sekocak Piku.

Bhashkor hidup bersama putrinya Piku (Deepika Padukone), arsitek yang urat kewarasannya hampir putus lantaran dipaksa mengurusi penyakit sang ayah. Untuk pertama kalinya, saya melihat gambaran diri saya dalam film Bachchan. Saya mirip Piku, kami sama-sama anak perempan keras kepala, dengan ayah yang juga keras kepala. Mata saya berkaca-kaca membayangkan percakapan di masa depan saya dengan ayah tentang warna air dan, ehem, frekuensi buang air besar. Entahlah, air mata itu mengalir karena galau atau gembira. Saya tak tahu. Yang jelas, film ini dengan semua humornya, justru berhasil menyentuh titik peka saya mengenai ikatan keluarga. Bachachan selalu sama sejak dulu. Selalu membuat saya dan keluarga merasa nyaman dalam ikatan yang sama.

Sutradara legendaris Prancis, François Truffaut, menjuluki Bachchan sebagai "one-man industry"; di sebuah negara yang penuh pemuda penganggur, dia dikenal sebagai "angry young man"; ibu-ibu di India menganggap Bachachan sebagai anak. Dialah bintang di atas bintang. Semua orang menyayangi dan mengaguminya. Bibi saya sampai tergagap dan tak bisa berkata apa-apa, ketika suatu kali bertemu Bachchan dalam premiere film di Ibu kota New Delhi. Amitabh Bachchan cuma tersenyum saat berpapasan dengan bibi. Kalau itu aktor lain, barangkali bibi saya akan bersikap biasa saja. Tapi tentu saja responsnya tak bisa biasa saja. Dia Amitabh Bachchan.

Imbasnya luar biasa. Semalaman, setelah pertemuan tersebut, bibi saya tidur dengan satu tangan menangkup di dadanya. Hatinya bahagia luar biasa. Saya tidak akan menyalahkan bibi yang bersikap teramat lebay. Saya yakin kalau suatu saat nati bertemu langsung Bachchan, saya juga akan tidur dengan cara yang sama.