Realness

Imajinasi Tommy Melahirkan Tas Kombinasi Fashion dan Fiksi Ilmiah

Berkat pencarian ide original tiada henti, Tommy Ambiyo segera menjadi desainer tas garda depan Indonesia. Kepada VICE dan JD.ID, ia berbagi suka duka selama membesarkan brand miliknya: BYO.
28.9.18
Foto Tommy Ambiyo Tedji dari arsip pribadi di Instagram.

Bagi Tommy Ambiyo Tedji, tas adalah obsesi yang merasuk hingga alam bawah sadarnya. Sejak lama dia menyadari hanya ada dua kecintaan yang tak bisa ia lepaskan selama ini: tas dan fiksi ilmiah. Untuk perkara tas, sejak awal 2000-an dia sering mengamati hasil rancangan desainer ternama—mulai dari Delvaux, The Row, atau Alexander Wang. Ini sebentuk kecintaan yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata, tapi Tommy selalu punya tempat di hati buat berbagai jenis tas. Menurutnya, tas adalah obyek keseharian yang menarik, karena fungsinya adalah memperkuat karakter si pemakai.

Di saat bersamaan, Tommy senantiasa memperoleh asupan imajinasi menarik berkat pengalamannya rajin menonton film fiksi ilmiah dari masa kecilnya, mulai dari Jurassic Park hingga Independence Day. Dua inspirasi itu kemudian dia kawinkan ketika kuliah mengambil jurusan Desain Produk di Institut Teknologi Bandung. Selama kuliah, Tommy mempelajari hubungan antara suatu produk dengan penggunanya. Lambat laun, minatnya makin mengerucut mendalami fashion. Sebab, bagi Tommy, fashion merupakan hasil desain yang lebih mudah diekspresikan.

"Waktu itu 2010, pengin bikin sesuatu baru yang enggak pernah ada sebelumnya. Caranya menggabungkan dua hobi saya," ujarnya.

Iklan

Kombinasi dua gagasan itulah yang diwujudkan menjadi BYO; sebuah merek tas yang menyeruak di lanskap fashion Indonesia dalam waktu singkat berkat orisinalitas desainnya. Anak rohani Tommy ini lahir pada 2010 dengan gagasan di luar kelaziman, yakni dengan sebuah tas tyvek unik diberi nama ‘Ker+tas’ yang segera disambut hangat pasar.

BYO—terilhami nama tengah Tommy—sampai sekarang terus berusaha membangun karakter. Kesuksesan eksperimen tas tyvek di awal karir rupanya tak membuat Tommy puas. Ia kini bertransformasi menjadi salah satu desainer tas paling diperhitungkan di Indonesia, berkat keberanian mendobrak gagasan lazim. Berbagai terobosan orisinal itu membuat Tommy diganjar penghargaan, misalnya 'JFW Fashion Entrepreneur Award' yang dianugrahkan pada Jakarta Fashion Week 2017.

Siapa sangka pula, salah satu bahan bakar Tommy untuk terus berkarya karena ingin menaklukkan tudingan kalau desainer Tanah Air tidak bisa melahirkan gagasan orisinal. Dia pernah merasa dilecehkan pengemudi taksi aplikasi ketika tahu dia menjual tas rancangan sendiri. "Setelah tahu saya desainer tas, pertanyaan follow up berikutnya adalah 'oh nyontek dari mana desain tasnya?' terus saya jawab 'lah, kenapa harus nyontek?' orang itu bilang enggak mungkin kan bikin desain tas baru," kata Tommy menceritakan ulang momen tersebut sambil tersenyum getir.

Setelah delapan tahun terus berkreasi di bidang tas, Tommy bersedia berbagi cerita hidupnya kepada VICE dan JD.ID. Tommy menjelaskan perjalanan intelektualnya sampai akhirnya terjun ke bisnis tas, ambisinya sebagai desainer, membahas makna orisinalitas, dan menceritakan mimpi-mimpinya ke depan.

Iklan

VICE: Halo, bisa diceritakan bagaimana awalnya kamu menggeluti desain tas?
Tommy Ambiyo: Saya menggeluti desain itu semenjak kuliah. Dulu saya kuliah di ITB, ambil desain produk. Niat waktu itu pengin mengasah skill tiga dimensi dan mempelajari relationship sebuah produk dengan penggunanya. Dari kuliah dulu saya memang selalu pengin jadi desainer, tapi belum tau jadi desainer apa. Selama belajar dari kuliah itulah kemudian saya research fungsi, ada masalah apa, solusinya apa. Terus baru saya sadar ternyata lebih tertarik dengan sesuatu yang dipakai, yang dikenakan gitu. Oleh karena itu setelah lulus, saya lebih memilih fashion. Alasannya karena fashion itu hasil desainnya lebih mudah diekspresikan, mudah kelihatan, daripada bidang desain lainnya.


Tonton wawancara VICE bersama Tommy dan Seeds Motion membahas makna originalitas di dunia fashion Indonesia:


Lantas kenapa tas dibanding produk fashion lainnya?
Dari awal emang saya suka banget sama tas. Kemudian saya juga suka banget sama science fiction. Waktu itu 2010, pengin bikin sesuatu baru yang enggak pernah ada, caranya menggabungkan dua hobi saya tadi. Muncul BYO. Terus aku mikirnya kalau tas orang pasti mau memakai. Misalkan baju, ada yang cuma di fashion show aja gitu atau cuma di catwalk doang orang makai bajunya. Not in real life.

Apa menurutmu kaitan antara fiksi ilmiah dan fashion?
Dulu pas kecil, gara-gara nonton jurassic park, Indepence Day, ngikutin Star Trek, Star Wars makin menua ternyata tetep suka. Apa yang saya suka dari science fiction bukan yang terlalu harfiah, lebih ke konsep aja. Yaitu a completely fictional universe. Gagasan macam itu yang membuat saya suka. Sebenarnya dulu sempat enggak bisa ngebayangin juga sih kalau fiksi ilmiah diimplementasikan ke dunia mode, akan seperti apa. The thing about science fiction itu kan ini cuma imajinasi kita. Tapi kalau dari segi looks ini bisa kelihatan banget. Misalnya kecenderungan orang menerjemahkan fashion ala fiksi ilmiah seperti dalam acara cosplay. Karena pendidikan desain industri selama empat tahun dan mengutamakan fungsi, jadi ketemu di tengah gitu. Imajinasi, fiksi, semua bergabung dengan fungsi. Di titik itulah BYO bertemu.

Seperti apa caramu menggabungkan fiksi ilmiah dan rancangan tas?
Saya bisa contohkan waktu bikin koleksi ALCHEMY, niatnya membuat sesuatu yang ada unsur science fiction yang kuat. Waktu itu lagi fase saya sempat enggak dapat-dapat tukang jahit, akhirnya saya berkeputusan membikin sistem sendiri, sebuah tas yang bisa terjadi tanpa harus dijahit. Saya mulai kerja sama dengan pengrajin, menghasilkan sesuatu yang bisa di bikin dengan dianyam, dengan cara tradisional, tapi desain akhirnya futuristik.

Bahan bakunya, dari hasil riset mengarah ke bahan industrial gitu. Kami cari PVC, waktu itu nyarinya sesuatu yang glossy, karena di kepala saya science fiction itu bernuansa glossy. Tentu ide tadi tidak bisa langsung diterapkan. Supaya bisa dipakai, PVC tadi dikasih lagi lining wool felt, bahan selimut yang dipotong lagi terus supaya kena kulit enak. Jadi kami mencari estetikanya juga dari bahan yang sebenarnya sangat industrial dan tidak komersil ini. Eksekusinya membutuhkan waktu satu tahun, eksplorasi dengan geometri, kemudian eksplorasi bentuk dan fungsi sampai akhirnya menjadi koleksi suatu tas.

Iklan

Setelah menggeluti bisnis tas selama delapan tahun, apa benang merah yang Tommy lihat dari karakter industri fashion di Indonesia?
Untuk jadi desainer, fashion system di Indonesia emang dari dulu belum ada yang established. Paling ada fashion show, cuma enggak ada sistem seperti di Paris. Kalau Paris fashion show bisa rutin karena digelarnya untuk buyers, terus buyer ketemu membeli barang wholesale, baru kemudian jual via retail. Sementara di Indonesia bukan seperti itu sistemnya. Bahkan di masa yang selalu berubah ini, termasuk dengan Instagram—dengan mudahnya buka online store sendiri—semua sistem kayak di luar negeri kayaknya belum terbentuk juga sih. Jadi di Indonesia, pengalaman saya dari awal adalah menjual langsung lewat website. Ini malah seperti berkah karena pasar di luar negeri yang kita pikir mapan sebetulnya sedang goyah banget, karena desainer bisa menjual langsung ke konsumen. Sekarang di dunia fashion, sedang banyak pertanyaan soal apa arti retailer. Pas mulai BYO saya juga lumayan pede buka online store karena keterangan centimeter dan perbandingan dengan badan tidak usah dipakai ketika jualan tas, tidak seperti baju.

Selain itu, sebelum jadi desainer fashion, saya melihat dunia fashion lumayan elitis, kasarnya sempat mikir, “kayaknya aku kurang keren deh untuk bisa masuk situ.” Orang mungkin agak merasa intimidated by fashion karena yang di- endorse orang-orang terkenal dan fashionable semua. Makanya BYO ketika dimulai penginnya bikin produk untuk semua orang. Its for everyone, dan ketika orang memakai tas BYO they just to feel like themselves.

Apa yang membuat Tommy sampai sekarang berusaha melahirkan desain orisinal untuk tas-tas BYO?
Beberapa tahun terakhir ini saya sering naik taksi aplikasi, kadang-kadang small talk gitu sama pengemudinya. Sering banget pertanyaan pertama dari mereka "Kerjanya apa?" tiap kali saya jawab desainer tas, mereka membalas, "oh nyontek dari mana desain tasnya?" tentu saja jawab, "lah, kenapa harus nyontek?" Mereka merasa enggak mungkin bikin desain tas baru. Setelah saya bilang, ‘saya desainer pak’ baru deh mereka bilang, "oh gitu. Oke. Tapi nyonteknya darimana?" Kembali ke pertanyaan itu lagi.

Saya enggak pengin menggeneralisir orang Indonesia ya, cuma sayang aja banyak sekali orang yang masih berpikiran kalau mau bikin brand apa atau mendesain sesuatu harus nyontek. Pasti orang banyak yang bilang jadi orisinal udah enggak mungkin lagi ya. Sekilas ada betulnya, karena semua karya pasti ada inspirasi. Aku juga melewati fase mengidolakan seseorang desainer, dan karya yang kita hasilkan meng- copy dia. Cuma setelah melewati fase itu, pasti kita jenuh terinspirasi yang terlalu obvious. Akhirnya nemu jalan sendiri, nemu karakter sendiri, jadi originalitas itu suatu proses yang enggak gampang.

Apa rencanamu ke depan untuk pengembangan BYO?
Untuk BYO sih kita pengen terus berkarya ya. Lima tahun ke depan targetnya pengin merekrut banyak orang yang punya ambisi yang sama untuk bereksperimen, dan menghasilkan sesuatu yang baru di studio. Selain itu, dalam waktu satu-dua tahun ke depan kita pengin mengarah ke baju.


Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas

Realness adalah seri video dan wawancara, kolaborasi VICE X JD.ID, untuk mencari sosok asal Indonesia yang berani mengedepankan nilai orisinalitas di bidang profesionalnya masing-masing.