Musik Baru

Upaya Band Bekasi Morscode Menghadapi Kesepian

Single "Calm Down" dari band debutan ini membahas pengalaman menghadapi masa-masa sulit, serta upaya bangkit dari keterpurukan.
17.4.17

Kamu bakal ngapain jika kampung halaman sudah tak bikin kamu kerasan?

Itu adalah pertanyaan yang mengganjal bagi Yudhistira Hendy. Setelah menamatkan kuliahnya di Melbourne, Australia, Yudhistira memutuskan kembali ke Bekasi. Malang tak dapat ditolak. Setibanya di kampung halaman, sang ibu berpulang. Sebuah kematian yang tampaknya justru makin menyesakkan baginya ketika dia berada di Bekasi.

Yudhistira mengatakan dia kembali merenungkan hidupnya sebelum kembali ke Bekasi—sebuah hidup yang dihantui kemacetan, keraguan pada diri sendiri, dan rasa bahwa dia tak pernah bisa bergaul—dan dirundung depresi. Dan semua ini terasa makin menyakitkan lantaran dia harus hidup di kampung halamannya tanpa sang Ibu. satu-satunya pelita, kata Yudhistira, adalah musik yang digubahnya. Pria itu lantas mencurahkan segala duka alam sebuah lagu berjudul "Calm Down"—sebuah komposisi dream pop bertabur distorsi yang terdengar menenangkan sekaligus menegangkan. Yudhistira mengaku bahwa sering menghabiskan waktunya mendengarkan lagu itu berulang-ulang, tenggelam dalam liriknya sampai merasa baikan.

Iklan

Belakangan lagu itu beralih rupa menjadi sebuah band bernama Morscode dan video musik lagu itu jadi bukti karya salah satu unit shoegaze paling menjanjikan saat ini. Marcel Thee dari VICE Indonesia ngobrol bersama Yudhistira membahas pedihnya harus menyesuaikan diri dalam hidup yang kini justru terasa lebih asing.

VICE Indonesia: Kamu bilang ibumu meninggal tak lama sebelum kembali ke Bekasi. Itu pasti masa-masa yang berat bagimu.
Yudhistira Hendy: Begitulah, gue engga cuma harus beradaptasi kembali. Ibu gue baru saja meninggal, 11 bulan sebelum gue balik. Beliau meninggal di tahun terakhir gue kuliah. Waktu itu, gue pikir gue belum begitu sadar kalau ibu benar-benar sudah engga ada. Sepertinya otak gue menipu gue bahwa Ibu masih di rumah dan nunggu gue balik. Kami berdua cuma lama engga ngobrol saja. Tapi, ketika gue akhirnya kembali tinggal di rumah yang sama, rumah yang sudah gue tinggali selama 18 tahun, aku mulai gelisah dan menyesal. Akhirnya, gue cuma bisa berandai-andai di dalam hati gue.

Apa yang kamu pikirkan waktu itu?
Saat itu gue akhirnya sadar kalau kematian itu benar-benar ada. Bahwa kalau seseorang meninggal, dia bakal pergi selamanya. Tinggal di rumah bikin ini jadi lebih menyesakkan. Sebenarnya, gue engga mau tinggal di sana lagi tapi pilihan yang gue punya terbatas. Gue pengen balik ke Melbourne tapi ngapain juga balik ke sana.

Gue ragu menceritakan ini ke orang lain karena yang gue bayangin mereka paling cuma ngomong "semuanya bakal baik-baik saja," "coba lo tidur dulu, paling besok lo baikkan" dan semacamnya. Daripada curhat ke orang lain, gue lebih memilih mencurahkan emosi gue dalam bentuk lagi. "Calm Down" kini jadi pengingat bahwa apapun yang gue rasain waktu itu pada akhirnya bakal hilang juga. Menurut gue sih, lebih baik ngedengerin diri sendiri dari pada orang lain. Jadi, setelah demonya gue rekam lewat GarageBand, hasilnya gue simpen di ponsel. Gue sering setel lagunya berulang-ulang, tiap hari sampai gue benar-benar merasa lebih baik.

Iklan

Ada yang kamu rindukan dari Australia?
Di Melbourne, gue selalu merasa nyaman di lingkungan gue. Di sini, gue termasuk jadi kaum minoritas habis. Gue keturunan Tionghoa dan muslim. Kombinasi yang jarang banget di sini. Jadi, gue engga merasa jadi bagian kelompok tertentu sampai gue pindah ke Melbourne. Di sana, gue ketemu berbagai macam orang dengan latar belakang dan etnis yang berbeda-beda. Di sana, perbedaan sangat dihargai.

Menurut gue sih, orang-orang harus merasakan hidup di luar negeri dan jadi minoritas barang sekali saja. Dengan begini, lo bisa sadar bahwa dunia engga selebar daun kelor. Pengalaman macam ini mengajarkan agar kita bisa menghargai orang lain;

Bagaimana semua perasaan ini tergambar dalam musik yang kamu buat?
Gue bikin "Calm Down" sebagai pengingat bahwa apapun yang gue rasain waktu lagu itu dibuat bakal lewat juga akhirnya. Itu sih inti lagunya. Jadi, gue engga fokus ke persoalan tertentu. Jadi kalau lo tanya tentang apa gue mau balik ke Melbourne, tapi beneran gue cuma mengekspresikan emosi gue secara umum saja.

Kamu merasakan kesulitan beradaptasi ulang pas balik ke Indoenesia? Ada yang bikin kamu kamu kangen Indonesia?
Wah banyak sekali yang harus disesuaikan lagi. Ritme beda banget di sini. Biasanya gue bangun pagi kira-kira jam setengah delapan pagi, bikin sarapan, menyeduh kopi, mandi selama yang gue mau tapi gue bisa masuk kelas pas jam sembilan.

Di Bekasi, engga bisa gitu. Selama dua tahun terakhir, gue biasa bangun pukul lima pagi. Itupun gue masih harus buru-buru biar engga kejebak macet. Rata-rata, gue ngabisin empat jam hidup gue di jalan dari Bekasi ke Jakarta serta sebaliknya. Ini kan engga sehat. Tapi ya gue seneng balik lagi ke Bekasi, ngobrol lagi sama keluarga, teman dan band gue.

Iklan

Menurut kamu keterasingan dan depresi adalah hal yang penting dalam musik? Semua lagu kamu isinya tentang cara mengatasi kesedihan dan kembali sebagai pemenang?
Gue pikr gue engga harus sedih buat bikin lagi. Gue pernah bikin lagu tentang emosi-emosi lainnya. Membuat karya seni, dalam kasus gue musik, adalah cara untuk mengekspresikan apapun mulai dari kritik politik dan cinta lo pada seseorang. Semuanya tergantung artisnya. Intinya sih, lo engga harus jadi sedih cuma buat bikin karya seni. Kalau iya ya, itu bakal jadi pretensius. Yang penting lo jujur aja.

Banyak band menulis lagu-lagu tentang perasaan ketika kamu tidak diakui. Mengapa menurutmu emosi-emosi seperti itu bersifat universal?
Saya rasa semua orang pernah merasa seperti itu dalam hidupnya, terutama ketika kamu masih remaja. Menurut saya pribadi, mendengarkan musik entah bagaimana menghubungkan saya dengan orang-orang lain yang sedang merasakan hal yang sama. Terkadang ketika saya mendengarkan sebuah lagu, saya akan membayangkan orang asing di sisi dunia yang lain sedang mendengarkan lagu yang sama, pada waktu bersamaan, dan memikirkan tentang bagaimana orang asing itu mengatasi situasi yang sama. Itu membuat saya merasa tidak terlalu kesepian.

Contohnya, band-band mana yang menangkap perasaan-perasaan seperti itu dengan apik?
Joy Division. Ketika saya mendengarkan lagu-lagu mereka, saya hampir bisa merasakan emosi-emosi Ian Curtis dan pergulatannya dengan penyakit mental. Emosi-emosi itu terkadang terasa begitu nyata.

Terkadang musik bisa jadi katarsis. Apa kamu merasa lebih baik setelah merekam EP ini?
Tentu saja. Lagu-lagu dan bentuk seni lainnya selalu menjadi cara yang baik untuk membantumu menjalani sesuatu. Kamu bisa menemukan banyak artikel di Google yang membicarakan tentang bagaimana menulis bisa membantumu mengatasi rasa kehilangan dan kesedihan, dan benar lho! Saya rasa dengan seni, kamu bisa mengekspresikan emosi-emosi yang kamu engga bisa ekspresikan lewat medium lain. Kamu bisa ngobrol dengan seseorang tentang masalah-masalahmu, tapi terkadang itu tidak cukup. Saya rasa menciptakan jenis seni apapun, bisa jadi lukisan, lagu, puisi, atau cerita, dapat membantumu melalui masa-masa paling sulit.