travel-world

Kena Jet Lag? Salahkan Bola Mata Kalian

Ilmuwan menemukan kunci penyebab rasa tak enak badan dan sulit tidur setelah kita terbang sekian jam. Ternyata gara-gara air di bola mata.
25 April 2017, 4:15am
Foto oleh Alejandro Moreno de Carlos/Stocksy.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Jet lag: bahkan atlet profesional mengalaminya. Bagi kalian yang keranjingan berpergian, obat jet lag bervariasi. Mulai dari mengenakan kacamata hitam di dalam ruangan, berjemur, meminum air mineral, hingga menegak melatonin. Permasalahan mendasarnya, tentu saja, adalah berpergian naik pesawat melewati zona waktu berbeda-beda dapat merusak ritme tubuh kita. Kita selalu berharap bisa nge-hack ritme tubuh, dan kini ada temuan baru yang memungkinkan kita melakukan itu lewat mata kita.

Para peneliti dari University of Edinburgh baru-baru ini menemukan sekelompok sel di retina—lapisan yang peka pada cahaya di bagian belakang bola mata—yang mengirim sinyal ke bagian otak yang mengatur siklus tidur dan bangun kita. Siklus-siklus ini, disebut ritme sirkadian, tersinkron dengan perubahan cahaya dan gelap dan siklus-siklus ini telah dipelajari secara mendalam, sehingga para ilmuwan menyarankan sekolah-sekolah mestinya dimulai tidak terlalu pagi karena remaja butuh tidur lebih lama.

Kita tahu banget bahwa merusak siklus-siklus tidur dan bangun enggak sekadar bikin kita jadi "senggol-bacok". Tapi jam biologis kita membantu mengatur tempratur tubuh, dan gangguan siklus seperti itu dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan termasuk kelainan jantung dan masalah lambung, menurut penulis penelitian. Orang-orang yang bekerja melawan ritme sirkadian mereka (seperti pekerja shift malam) boleh jadi terkena depresi dan menghadapi risiko kanker.

Bagian otak yang mengatur ritme-ritme ini disebut suprachiasmatic nucleus (SCN) dan meski para peneliti tahu bahwa retina mengirimkan sinyal perubahan cahaya di lingkungan kepada SCN—itulah mengapa melihat cahaya matahari lebih banyak dapat mempengaruhi jam biologis kita—mereka tidak paham persisinya bagaimana mekanisme tersebut bekerja.

Salah satu molekul yang digunakan SCN untuk melakukan pekerjaannya adalah vasopressin, hormon yang diproduksi oleh sel syaraf, dan penelitian ini menemukan untuk kali pertama bahwa retina memiliki kelompok sel syarafnya sendiri yang memproduksi vasopressin ketika terekspos cahaya dan sel-sel ini berkomunikasi langsung dengan SCN. Para peneliti mendapatkan temuan ini pada tikus-tikus dengan cara mengintervensi cara sinyal soal cahaya dikirim ke SCN mereka. Mereka menemukan bahwa sel retina yang memproduksi vasopressin secara langsung berkaitan dengan pengaturan ritme sirkadian.

Mengetahui letak sel tersebut dan bagaimana sel tersebut bekerja menawarkan wawasan baru menyoal jam biologis manusia. Hal ini juga memberikan cara-cara memperbaiki ritme sirkadian yang terganggu melalui mata—bayangkan ada obat tetes mata yang bisa mengobati jet lag!

Obat tetes mata yang mengalihkan vasopressin adalah sebuah kemungkinan, tapi sepertinya tidak mungkin diproduksi dalam waktu dekat. Untuk sementara waktu, ya lumayan lah kita bisa membagi kabar gembira ini dengan kawan-kawan "travelers".