Mengunjungi Lapangan Pertandingan Sepakbola Internasional Pertama yang Terlupakan
All photos by the author
Sepakbola

Mengunjungi Lapangan Pertandingan Sepakbola Internasional Pertama yang Terlupakan

Lebih dari 140 tahun lalu, laga sepakbola internasional pertama kali digelar di sebuah lapangan kriket di Skotlandia. Naaasnya, jika kalian berkunjung ke Hamilton Crescent sekarang, nyaris tak ada tanda-tanda pentingnya lapangan itu dalam hikayat sepakbol
10.6.18

Mudah sekali meromantisir sepakbola internasional. Tak bisa dipungkiri, momen-momen bersejarah dalam laga internasional tak terjadi saba hari. kita mungkin bisa jadi saksi kemenangan tim kesayangan kita dari minggu ke minggu, namun dibutuhkan keberuntungan untuk menyaksikan momen magis sebuah timnas negara tertentu—coba sidang pembaca ingat-ingat lagi momen-momen seperti gol Teddy Sheringham saat The Three Lions membenamkan timnas Belanda dengan skor 4-1 dalam Euro ’96, tendangan James McFadden dari jarak 27 meter yang menaklukan kiper Mickaël Landreau dan membawa Skotlandia menang 1-0 atas Perancis dalam kualifikasi Euro 2008, sepakan Gerry Armstrong yang menjebloskan bola ke gawang Spanyol yang bikin keki semua pendukung Spanyol pada tahun ’82 atau tendangan salto Widodo Cahyono Putra ke gawang Kuwait di Piala Asian Cup ’96. Momen-momen ini barangkali hanya terjadi sekali dalam 10 tahun. Akan tetapi, kejadian-kejadian ini pulalah yang menyelamatkan kita dari pertandingan-pertandingan liga yang menjemukan dan partai persahabatan yang jauh dari kata menarik.

Iklan

Berkat momen-momen ajaib di atas pulalah sebuah laga internasional bisa memenuhi potensi: menyatukan jutaan pasangan mata di seluruh penjuru dunia—sesuatu yang susah dilakukan oleh cabang olah raga lainnya.

Tiap cerita pasti punya awal. Sayangnya, sedikit yang tahu kenapa sebuah timnas negara akhirnya terbentuk dan memutuskan berlaga melawan timnas negara lain. Inggris sejak dulu kala sudah sesumbar sebagai negara penemu sepakbola—sebuah klaim sampai saat ini jarang diteliti dengan seksama. Sudah jadi semacam pengetahuan umum bahwa peraturan sepakbola modern dikodifikasi di sekolah neger Inggris. Sementara, Sheffield FC sebagai klub sepakbola tertua di dunia adalah fakta yang jarang diperdebatkan. Namun, terlepas dari semua klaim mentereng Inggris, Negeri Ratu Elizabeth tetap kecolongan.. Pasalnya, pertandingan internasional pertama dalam sejarah digelar malah digelar di negara tetangga Inggris, Skotlandia, tepatnya di sebuah lapangan klub cricket amatir di Glasgow. Ironisnya, fakta sepenting ini kerap kabur, masih kalah popuper dibanding tandukan Zidane pada Materazzi atau gol Tangan Tuhan Maradona.

Bahkan sampai hari ini, penduduk Glasgow masih tak mempercayai bahwa cricket—cabang olah raga yang secara tradisional dianggap kurang populer—punya sumbangsih penting dalam kancah sepakbola Internasional. Di antara deretan rumah petak di kawasan Partick—sebelum sebuah kota terpisah sebelum dicaplok Glasgow—Hamilton Crescent, markas West of Scotland Cricket Club bisa ditemukan. Di sinilah, pada 30 November 1872, pertandingan sepakbola internasional pertama kali diselenggarakan. Hari itu, timnas Skotlandia meladeni perlawanan timnas Inggris dengan skor akhir 0-0—skor kacamata terakhir antara kedua negara sampai 1970.

Jika kalian berkesempatan datang ke Hamilton Crescent, kalian akan kesusahan menemukan bukti bahwa inilah tempat yang menjadi cikal bakal FIFA dan Piala Dunia. Yang tampak hanyalah lapangan rumput luas yang kelilingi rumah petak sandstone di kawasan trendi di Glasgow. Tak ada neon bergambar Piala Jules Rimet atau mua Sepp Blatter di sana. Cuma ada papan skor cricket di satu pojok dan sebuah paviliun di mana pengunjung bisa membeli bir Guinnes dengan harga lumayan miring. Siapapun yang ingin menemukan Betlehem-nya sepakbola harus memanfaatkan daya imajinasinya. Satu-satunya penanda pentingnya lapangan itu dalam sejarah sepakbola global cuma sebentuk plakat kecil—yang diberikan Asosiasi Sepakbola Skotlandia—yang dipasang lumayan tinggi di satu dinding paviliun.

Iklan

Pengunjung tak diminta membayar tiket untuk bisa masuk ke Mekah-nya sepakbola modern ini. Penduduk sekitar Hamilton Crescent diperboleh masuk dan membawa anjing mereka ke dalam lapangan, kapanpun itu selama tak ada jadwal pertandingan cricket. Lapangan bersejarah ini bisa dengan mudah diakses dari pusat kota Glasgow dengan subway atau kereta. Ironisnya, tak satupun turis sepakbola ketika saya sampai di sana pada sebuah hari sabtu yang cerah di bulan Agustus. Pun, tak penggemar cricket berkeliaran di sana padahal hari itu West dijadwalkan bertemu Ayr dalam lanjutan liga Western District Cricket Union Skotlandia.

Saya berada di Hamilton Crescent untuk mencoba membayangkan seperti apa suasana pertandingan internasional sepakbola pertama di dunia. Selain itu, jika sempat, saya akan menyempatkan diri untuk mengungkap alasan kenapa orang Skotlandia tak begitu peduli cricket. West mulai bermarkas di Hamilton Crescent sejak didirikan pada 1862 oleh sejumlah pebisnis di kawaan itu. Awalnya, West pernah bermimpi menjadi Marylebone Cricket Club-nya Skotlandia dan All-England XI kerap diundang untuk bertanding di sana. Akan tetapi, optimisme itu berumur pendek. Pada 1891, sebuah tim yang dipimpin oleh pemain sekelas W. G. Grace mempecundangi Wes dengan catatan 1 inning dan 33 run.

Manajer West, Anthony Lewis, yang bergabung 24 tahun lalu dan pernah berperan sebagai pemain sekaligus pelatih, percaya bahwa cricket di Skotlandia sedang taj sehat. “Jujur saja, masa depan cricket dan klub-klub di Skotlandia itu terang benderang,” katanya. “Saat ini ada lebih banyak klub cricket yang terdaftar dari yang kamu bayangkan. Tapi, West, seperti klub lainnya, bergantung sepenuhnya pada niat baik dan sumbangsih sukarelawan untuk memastikan keberadaan klub dari satu generasi ke generasi selanjutnya.”

“Perkembangan dan kesuksesan klub tergantung pada kemampuan mereka mendapatkan pemain yunior yang memadai untuk bermain di level senior dan mengemban tanggung jawab menjalankan klub itu sendiri. Populasi Glasgow lumayan besar dan di antara penduduknya, ada pemain dan fan cricket yang berdedikasi.”

Iklan

Hari bersejarah pada 1872 pun belum dilupakan oleh West. “Itu fakta yang mencengangkan,” lanjut Lewis. “Pertandingan sepakbola terus dimainkan di sini setelah pertandingan itu. Beberapa tahun lalu, klub cricket kami juga menyambut beberapa klub sepakbola profesional untuk berlatih di sini, di antaranya Rangers, Partick Thistle dan St Mirren."

Menurt Lewis, Hamilton Crescent sudah mulai didatangi turis sepakbola dan suporter sepakbola yang ingin melihat lapangan di mana pertandingan internasional di dunia pertama kali digelar. Ironisnya, keberadaan Hamilton Crescent tak disinggung-singgung di laman Glasgow Marketing Bureau, ataupun homapage VisitScotland yang dibiayai pemerintah. Saat inim reputasi persepakbolaan Glasgow bergantung seluruhnya pada Old Firm—sebutan untuk Glasgow Rangers dan Glasgow Celtic.

Sampai 1967, Glasgow pernah memiliki enam klub sepakbola yang bermain di liga Skotlandia. Di tahun itulah, Third Lanark—klub asal Glasgow yang pernah berjaya memenangkan tiga trofi mayor—dinyatakan pailit. Sementara, Clyde pindah dan mengalami musim-musim buruk di kota baru Cumbernauld sejak 1995. Seandainya kita bisa sejenak melupakan keberadaan dua raksasa sepakbola di Glasgow—Rangers dan Celtic, maka yang tersisa tinggal Partick Thistle dan Queen's Park. Kendati yang pertama sedang banyak diberitakan beberapa bulan terakhir ini karena Kingsley, maskotnya yang unik, Queen’s Park-lah yang sesungguhnya memilii kaitan dengan sejarah Hamilton Crescent dan sejarah kelahiran sepakbola internasional.

Iklan

The Spiders—julukan Queen’s Park—terbentuk pada 1867 dan merupakan klub paling sukses di Skotlandia di akhir era Victoria. Queen’slah yang menyanggupi tantangan yang diajukan Charles Alcock dari Asosiasi Sepakbola Skotlandia untuk membentuk tim guna menghadapi kesebelasan nasional Inggris. Pertandingan antara kedua negara di Skotlandia ini dilaksanakan setelah lima pertandingan yang mempertemukan timnas Inggris dengan kesebalasan dadakan yang terdiri dari penduduk Skotlandia yang tinggal di London. Keputusan membentuk kesebalasan dadakan ini mendapat kecaman dari klub-klub Skotlandia yang meraa tidak dilibatkan dalam seri pertandingan yang digelar di London antara 1870 hingga 1872.

Queen's kemudian menyusun tim yang akan turun dalam pertandingan yang bertepatan dengan perayaan St Andrew's Day, 1872, dan membayar sewa Hamilton Crescent seharga £1 lebih 10 shilling. Dua orang pemain asal Skotlandia yang bermain untuk klub Inggris diundang untuk memperkuat skuad bentukan Queen’s. Sayangnya, mereka tak bisa pulang ke Skotlandia. Akhirnya, timnas pertama Skotlandia seluruhnya terdiri dari 11 pemain Queen’s.

“Semua orang yang terlibat di Queen's Park umumnya bangga dengan tempat unik klub ini dalam sejarah sepakbola Skotlandia,” ujar manajer Queen’s Park, Christine Wright. “Memasok sebelas pemain untuk timnas Skotlandia pertama adalah sebuah capaian luar biasa. Fakta bahwa sebelas pemain tersebut bermain dalam pertandingan sepakbola internasional pertama membuat capaian ini jadi lebih spesial. Akan tetapi, walaupun kami bangga dengan sejarah klub kami, kami juga bangga dengan dampak konsisten Queen’s Park dalam sepakbola Skotlandia. Markas kami di Hampden masih dipilih mana kala timnas Skotlandia menjalani laga internasional.”

Pertandingan sepakbola internasional pertama awal dijadwalkan mulai pada pukul 2 siang. Kenyataannya, pertandingan harus ditunda selama 20 menit karena kabut. Penonton yang datang hari itu—diperkirakan jumlahnya melebihi 4.000 kepala—membayar karcis seharga 1 shilling. Jumlah ini sudah tergolong besar pada masanya saat sepakbola masih dimainkan di taman-taman publik. Hari itu, timnas Skotlandia turun dengan formasi menyerang 2-2-6 sementara The Three Lions—dengan ban kapten disandang oleh pemain bernama Cuthbert Ottaway—memilih formasi yang lebih nyentrik 1-1-8.

Lantaran konsep siaran langsung sepakbola di layar televisi baru lahir 90 tahun setelahnya, laporan tentang jalannya pertandingan hari itu hanya bisa ditemukan di majalah-majalah olah raga. Timnas Skotlandia lebih menguasai jalannya pertandingan. Satu gol yang mereka cetak dianulir wasit di babak pertama karena bola melambung melewati pita antara dua tiang gawang—crossbar atau tiang penghubung dua pilar gawang baru diwajibkan pada 1872. Meski berakhir dengan skor kacamata, fan dan pemain pulang hati gembira. Majalah Bell’s melaporkan bahwa pertandingan hari itu sebagai “laga paling menyenangkan, paling penuh semangat dan paling mengasikkan yang pernah dimainkan menurut peraturan Asosiasi sepakbola.”

Kembali lagi ke Hamilton Crescent, pertandingan cricket antara West melawan Ayr berlangsung penuh semangat, walau pemainnya yang turun di lapangan tak menunjukkan paras gembira. West berusaha menekan lawannya. Nahas, mereka kalah 30 run dari Ayr di akhir pertandingan. Saya bertanya kepada Lewis apakah menurutnya Hamilton Crescent dan Partick perlu mendapatkan pengakuan yang setimpal atas sumbangsihnya dalam sejarah sepakbola internasional, dia menjawab “Iya dong. Jika FIFA, FA atau SFA berniat membuka pembicaraan tentang perayaan Hamilton Crescent sebagai awal mula semua pertandingan internasional di dunia, kami akan menyiap berbagai macam opsi.”

Saya diam-diam mengamini jawaban Lewis. Rasanya tak ada perayaan yang lebih pantas untuk menghargai peran penting Hamilton Crescent, selain laga timnas Inggris kontra timnas Skotlandia—serupa seperti apa yang terjadi di sana lebih dari 140 tahun silam.