Senjata Pemusnah Massal

Beginilah Gambaran Rasanya Meninggal Akibat Keracunan Gas Saraf

Orang-orang Suriah lah yang paling tahu betapa biadabnya senjata ini ketika mereka dibombardir gas syaraf pada perang tahun lalu
3.10.18
Foto: Associated Press

Laporan-laporannya tragis, klip-klip videonya mengerikan, dan masih banyak yang belum terselesaikan; gas saraf telah digunakan lagi di Suriah. Paling tidak 58 orang, yang sebagian besarnya terdiri dari anak-anak, meninggal dunia kemarin dengan cara yang sangat kejam. Inilah kematian yang seharusnya tak seorang pun harus alami. Manusia menyadari brutalitas senjata kimia setelah penggunaannya dalam perang dunia pertama dengan cara melarang senjata-senjata tersebut dalam Protokol Geneva 1925. Saat Perang Dunia kedua moralitas kembali menang dan senjata kimia hanya digunakan sekali-sekali, misalnya oleh Angkatan Darat Jepang terhadap pasukan Cina. Pada tahun 1972, Konvensi Senjata Biologis Internasional melarang mengembangkan, produksi, dan penimbunan senjata kimia. Setelah pembunuhan massal tahun 1988 oleh Saddam Hussein yang menewaskan sekitar 5.000 nyawa, Konvensi Senjata Kimia 1993 mengkonfirmasi ulang ketentuan-ketentuan ini dan juga memerintahkan penghancuran semua senjata kimia. Penggunaan senjata kimia jelas dilarang hukum internasional, tapi sejarah telah menunjukkan bahwa moralitas manusia itu lemah.

Kematian akibat gas saraf adalah hukuman yang sungguh kejam dan biadab. Agen saraf digolongkan sebagai organofosfat dan dapat juga dianggap sebagai insektisida, atau humanisida, yang sangat ampuh dan letal. Agen saraf yang pertama diciptakan- tabun, sarin, dan soman- diciptakan saat perang dunia kedua oleh ilmuwan asal Jerman. Pada tahun 1952, Ilmuwan Inggris berhasil membuat VX atau “agen X beracun.” Meskipun secara kimia sangat mirip dengan insektisida organofosfat, agen-agen saraf baru ini digunakan dalam perang karena hanya dibutuhkan konsentrasi yang sangat rendah untuk membunuh manusia.

Agen saraf bekerja dengan cara mengaktifkan dan mengikat acetylcholinesterase, sebuah enzim yang terletak di antara dua ujung saraf. Fungsi enzim ini adalah memproses dan memecahkan neurotransmitter acetylcholine ini. Ketika acetylcholinesterase tidak aktif, acetylcholine terakumulasi di situs saraf, yang menyebabkan stimulasi yang berlebihan di otot. Fenomena ini menghasilkan dua gelombang yang letal.

Iklan

Pertama, acetylcholine mengaktifkan beberapa sekresi kelenjar dan proses-proses di usus. Acetylcholine yang berlebihan menyebabkan apa yang terlihat dalam video-video yang direkam langsung setelah serangan, termasuk produksi air liur yang berlebihan yang menyebabkan “berbusa dari mulut,” muntah-muntahan, buang air besar secara tidak sadar, konstruksi manik mata ekstrim, serta denyut jantung melambat yang membuat korban pingsan.

Kedua, acetylcholine juga digunakan untuk pengerutan otot. Dengan jumlah acetylcholine yang terlalu tinggi, dapat terjadi kontraksi otot tak sadar dan kekejangan yang sangat menyakitkan. Otot-otot menjadi terlalu terstimulasi hingga terjadi kelumpuhan total. Diafragma (otot utama yang digunakan untuk bernafas), tidak aman dari serangan seluruh tubuh ini, oleh sebab itu aksi bernafas menjadi lambat dan akhirnya berhenti. Otot di pangkal tenggorokan juga menjadi lumpuh, sehingga korban tidak mampu menelan atau mengosongkan air liur dari tenggorokan mereka. Kematian akibat gas saraf biasanya disebabkan oleh korban tersedak air liurnya sendiri, lalu kelumpuhan, yang biasanya terjadi saat korban masih sadar. Mengerikan, biadab, dan kriminal.

Gas Saraf juga bisa sampai ke otak. Bila ini terjadi sebelum korban mengalami sesak nafas dan kegagalan sistem pernafasan, maka korban tak akan merasakan sensasi tenggelam karena sudah terlebih dahulu koma. Namun, kadang, masuknya gas saraf ke otak bisa menyebabkan kejang-kejang yang susah dihentikan.

Iklan

Penanganan korban keracunan gas saraf dimulai dengan dekontaminasi, dengan menyemprot korban—yang lebih dulu diminta bertelanjang bulat—dengan air. Tahap ini mutlak harus dilakukan sebab jika tidak, proses penyebaran racun gas saraf akan terus berlangsung dan bisa membahayakan tenaga medis yang menangani korban.

Untungnya, penawar gas saraf sudah bisa diproduksi. Antidot ini bekerja dengan menghentikan dua gejala yang disebutkan sebelumnya. Suntikan antropin bisa memperlambat produksi air liur, muntah-muntah dan buang air besar serta aktivitas kelenjar dalam tubuh yang terpacu oleh gas saraf. Pralidoxime dapat digunakan untuk mengatasi kelumpuhan dan kontraksi otot. Namun, jika korban terpapar gas sarin, Pralidoxime harus segera dikonsumsi dalam rentang waktu lima sampai delapan menit untuk mencegah agen saraf mengikatkan diri pada enzim acetylcholinesterase. Umumnya, personel militer yang diturunkan ke medan perang dibekali dengan suntikan otomatis berisi dua penawar ini.

Malangnya, serangan gas saraf pada 2017 lalu bukanlah kali pertama senjata biologis digunakan di Suriah. Penyidik PBB menemukan bukti bahwa Rezim Al-Assad bertanggung jawab atas setidaknya tiga serangan gas klorin. Pada tahun 2013, tewasnya 800 penduduk sipil di Damaskus karena penggunaan gas sarin nyaris memancing Inggris dan Amerika Serikat menginvasi Suriah. Pejuang Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) juga dituding telah menggunakan gas mustard. Segera setelah pemboman di provinsi Idlib terjadi setahun lalu, laporan-laporan awal tentang insiden menunjukkan bahwa pihak yang bertanggung jawab atas serangan bengis tersebut adalah militer Suriah yang loyal pada Al-Assad atau Rusia.

Siapapun pelakunya, penggunaan gas saraf dalam peperangan adalah tindakan terkutuk. Namun, pertanyaannya tepat sama: apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah penggunaan gas saraf di masa depan?

Darragh O'Carroll, MD adalah dokter spesialis kasus gawat darurat di Hawaii.