Ini Bukan Foto, Melainkan Lukisan Hiperrealis Karya Seniman Nigeria
Lukisan

Ini Bukan Foto, Melainkan Lukisan Hiperrealis Karya Seniman Nigeria

Stanley Ariza membuat gambar luar biasa hidup yang bisa menipu mata. Hiperalisme sedang jadi tren di negara asalnya.
31.3.17

Artikel ini pertama kali tayang di The Creators Project.

Para seniman hiperrealis mencoba mereplikasi realita, atau setidaknya berupaya menipu mata manusia. Karenanya banyak karya-karya mereka mengksplorasi penggunaan warna yang meriah. Misalnya saja adegan-adegan melamun feminin dan erotis milik Soey Milk, atau potret-potret kabur dan amat halus milik Manuela Landroyo. Berbeda dari kecenderungan itu, seniman asal Nigeria Arinze Stanley memiliki pendekatan lain. Gambar-gambarnya, selalu dirancang hitam putih, dibuat hanya dengan pensil grafit dan arang. Hasilnya, lukisan Stanley tampak sepeerti potret manusia oleh fotografer klasik. Seperti lukisan-lukisan hiperrealita topeng khrom milik Kip Omolade, detail pada lukisan Arinze amat mengagumkan dan indah, membingkai banyak wajah dan kepribadian luar biasa kawan-kawannya yang menjadi obyek foto. Hebatnya lagi sebagian ilustrasinya yang belum selesai akan memicu sensasi sama mendebarkannya setelah lukisannya selesai. Stanley berasal dari Provinsi Imo di sisi timur Nigeria, namun menghabiskan hampir seumur hidupnya di Ibu Kota Lagos. Dia sudah memiliki ketertarikan menggambar sejak kecil. Orang-orang mungkin mengira dia sempat mengenyam pendidikan seni rupa atau semacamnya. Padahal, dia sama sekali tak pernah belajar seni secara formal.

"Saya selalu mengekspresikan diri sendiri melalui gambar-gambar. Hal ini bermula sejak dulu sekali, meski saya tidak pernah mendapatkan pelatihan seni apapun," ujar Stanley saat diwawancarai The Creators Project. "Saya berhasil melatih berkah Tuhan dalam seni menggambar. Saya selalu suka membuat gambar-gambar realistis, namun passion saya menjadi semakin kuat di tahun 2012 ketika saya menemukan seniman-seniman hiperrealis seperti Kelvin Okafor, Joel Rea dan Emanuele Dascanio."

Apa yang disukai Stanley mengenai Okafor, Rea dan Dascanio adalah tingkat kedisiplinan yang mereka tunjukkan dalam melakoni proses kreatif. Dia juga amat tertarik dengan bagaimana para seniman hiperralis mampu mengartikulasikan pesan-pesan kuat melalui seni menggunakan apa yang disebut Stanley sebagai "media sederhana" yang terdiri dari pensil dan cat.

"Saya menggunakan alat gambar sesederhana mungkin dari pensil arang hingga pensil grafit," ujar Stanley soal instrumen-instrumen dalam kotak perkakasnya. "Saya bereksperimentasi dengan banyak sekali teknik seperti penggarisan silang dan goresan cakar ayam, tapi biasanya segala hal itu mengalir begitu saja di atas kertas." "Terkadang seakan-akan saya tidak berkuasa atas pensil saya," ujarnya. "Rasanya semacam transfer energi: seringkali saya merasa seperti mentransfer energi kepada kertas kosong melalui pensil-pensil saya dan hal itu menjadi karya seni."

Stanley tidak yakin berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tiap-tiap karya karena dia suka lupa waktu selama proses kreatif. Dia sekadar memperkirakan bila sebuah karya yang detailnya mendekati foto membutuhkan waktu pengerjaan 200 hingga 300 jam.

Sebagaimana nampak dalam gambar-gambarnya, Stanley gemar menonjolkan segala hal tentang keberadaan Afrika. Lebih dari itu, gambar-gambarnya adalah kesempatan mengeksplor dan mempertontonkan nilai-nilai dan "emosi dalam yang tidak terjamah" dari kemanusiaan secara umum. Idealnya, Stanley ingin terhubung dengan orang-orang, menciptakan ikatan "seniman-penonton" ketika karya-karyanya ditampilkan. Dia ingin mata penonton tertuju pada detail-detail dalam gambar namun juga dapat merasakan ekspresi unik tiap subyek, yang mencakup spektrum emosi seperti refleksi, kepedulian, keletihan, humor, dan keterkejutan.

Stanley sudah menggelar pameran perdana tahun lalu di Omenka Gallery Ibu Kota Lagos. Dia tampil bersama sembilan seniman lain yang sama-sama mendalami seni rupa aliran realis. Pameran itu adalah salah satu dari banyak tanda bahwa perlehatan kesenian Nigeria tidak hanya sehat, tetapi juga membuncah di tingkat lokal, regional, maupun internasional.

"Kesenian di Nigeria sedang berkembang pesat dan mulai menarik perhatian global," kata Stanley. "Satu hal yang amat saya sukai dari kesenian Nigeria adalah tingkat keberagaman di kesenian. Ada banyak jenis kesenian di sini dari kontemporer hingga lokal, dan lain-lain. Meski saya bilang bahwa kesenian berkembang di Nigeria, saya masih merasa ada banyak hal yang belum terjamah."