Berita Dunia

Pemerintah Korut Bantah Rekrut Siti Aisyah Untuk Habisi Kim Jong-nam

Sebaliknya, dalam pernyataan pers perdana, Pyongyang menuding Malaysia berkomplot dengan Korsel memfitnah mereka dalam kasus pembunuhan tersebut.
24.2.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Setelah lebih dari sepekan tidak berkomentar, Pemerintah Korea Utara akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi mengenai kasus tersebunuhnya Kim Jong-nam di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur Malaysia. Pyongyang justru menyalahkan Malaysia atas tewasnya kakak tiri Diktator Kim Jong-un itu.

Melalui penyataan yang dilansir kantor berita resmi pemerintah Korut, KNCA, juru bicara pemerintah Korut menuduh pemerintah Malaysia kongkalikong dengan pemerintah Korea Selatan untuk menyebarkan teori konspirasi bahwa Kim Jong-un berada di balik pembunuhan kakak tirinya sepuluh hari lalu.

Iklan

"Yang paling bertanggung jawab atas tewasnya Kim Jong-nam adalah pemerintah Malaysia, karena ada warga negara Republik Rakyat Korea Utara yang dibunuh di wilayah mereka," ujar sang juru bicara. Pernyataan resmi pemerintah Korut bahkan tak menyebut nama Kim Jong-nam. Putra pertama Kim Jong-il tersebut hanya disebut sebagai salah satu penduduk Korut yang memiliki paspor diplomatik.

Sikap resmi Pyongyang ini disusun oleh Komite Hukum Korea Utara, salah satu lembaga di bawah naungan Parlemen Korut. Di dalam pernyataan tersebut, dicantumkan pula teori konspirasi yang menyudutkan Malaysia. Disebutkan awalnya pihak berwenang Malaysia awalnya memberitahu seorang pejabat Korea Utara bahwa Jong-nam meninggal karena serangan jantung. Mendadak, menurut pejabat Korut, otoritas Malaysia menarik kembali pernyataan awal,

Pyongyang menyuguhkan sebuah teori konspirasi yang menuduh pihak berwenang Malaysia dan Korea Selatan bekerja sama dengan Amerika Serikat menyebarkan rumor bahwa agen rahasia Korea Utara menyewa dua orang perempuan meracuni Kim Jong-nam. Salah satu pelaku adalah Warga Negara Indonesia bernama Siti Aisyah, asal Serang, Banten. Sampai saat ini, pihak kepolisian Malaysia telah menahan empat tersangka, salah satunya warga Korut. sementara tujuh tersangka lainnya masih buron sampai sekarang. Satu pejabat Kedutaan Korut yang hendak dimintai keterangan masih buron. "Yang perlu diperhatikan adalah tindakan pemerintah Malaysia  yang merugikan pemerintah Korut dilakukan bersamaan dengan propaganda anti-Korut yang dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan," demikian kutipan yang tertera dalam pernyatan resmi Pyongyang. Korut menuduh Malaysia—yang secara historis sebenenyar salah satu mitra dagang utama Korut di Asia Tenggara— telah "bersikap kurang bersahabat" dan membeberkan "keterangan yang tidak konsisten" menyangkut apa sebetulnya dialami Kim Jong-nam. Pyongyang turut menyalahkan Kepolisian Malaysia karena melakukan otopsi tanpa izin terhadap seorang pemegang paspor diplomatis. Sampai berita ini diturunkan, pemerintah Malaysia belum menanggapi tuduhan Pyongyang. Dua hari lalu Kuala Lumpur telah memanggil pulang Duta Besar Malaysia untuk Korea Utara. Tindakan itu merupakan balasan diplomatis setelah Duta Besar Korea Utara untuk Malaysia, Kang Chol, menuduh pihak berwenang Malaysia "mencoba menyembunyikan sesuatu" dan "bekerja sama dengan pihak-pihak yang memusuhi Korut." Menteri Luar Negeri Malasia Malaysia Datuk Seri Anifah Aman menilai Kang Chol "sangat menyinggung". Anifah menambahkan bahwa investigasi terhadap tewasnya putra sulung Kim Jong-il "dilakukan secara menyeluruh tanpa tekanan pihak manapun." Sejauh ini Pemerintah Malaysia masih menolak permintaan pemerintah Korut untuk mengembalikan jenazah Kim Jong-nam. Berikut adalah ringkasan segala detail kejadian menyangkut penyelidikan tewasnya Kim Jong-nam:

  • Kim Jong-nam, putra sulung mantan pemimpin Kim Jong Il, tewas diracun di bandar udara Kuala Lumpur pada 13 Februari oleh dua tersangka perempuan. Jong-nam tewas setelah dibekap dengan sapu tangan serta diberi semprotan cairan diduga kuat berupa racun. Jong-nam menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan menuju rumah sakit, setelah sempat minta tolong kepada beberapa orang di bandara. Sampai saat ini, dua otopsi telah dilakukan—namun penyebab kematin Kim Jong-nam belum juga diumumkan oleh Malaysia.
  • Kim Jong-nam dulu tak pernah mengomentari rezim Korut. Namun, sesudah terlibat insiden memalukan di Jepang pada tahun 2001 silam, Jong-nam diasingkan. Sejak itulah dia rajin mengkritik ayah dan adik tirinya yang sekarang berkuasa. Selama 15 tahun terakhir, Jong-nam bermukim di Macau. Kim Jong-nam tewas meninggalkan tiga anak dari dua istri.
  • Kepolisian Malaysia telah menahan empat orang tersangka. Dua tersangka perempuan—satu berkewarganegaraan Vietnam dan satu lagi dari Indonesia. Orang lain yang ditangkap adalah pacar salah satu perempuan tersebut, dan seorang warga Korut. Kedutaan Besar Korea Utara telah meminta Siti Aisyah dan Doan Thi Huang dibebaskan karena dianggap tak bersalah. Dalam penyataaannya, Kedubes Korut menanyakan apakah ada sisa-sisa senyawa kimia di tangan mereka. "Bagaimana mungkin mereka masih hidup sampai sekarang?"
  • Salah satu tersangka perempuan mengaku bahwa dia hanya ikut serta dalam tayangan Prank. Kepala Kepolisian Malaysia Khalid Abu Bakar menampik pengakuan itu. Menurut Khalid, kedua perempuan itu tertangkap kamera CCTV dua kali berlatih melakukan serangan terhadap Kim Jong-nam di pusat perbelanjaan Kuala Lumpur. Kamera CCTV bandar udara Kuala Lumpur mendekati Kim Jong-nam dan salah satu mereka membekap muka Jong-nam.
  • Kepolisian Malaysia masih memburu tujuh tersangka sebagai bagian dari penyelidikan kematian Kim Jong-nam. Dua dari tujuh buronan tersebut adalah diplomat Korut bernama Hyon Kwan Song dan staff perusahaan penerbangan pemerintah Korut, Air Koryo. Keduanya dipercaya bersembunyi di Kedutaaan Besar Korut di Kuala Lumpur. Salah satu sumber dari Kepolisian Malaysia menyebut Hyon sebagai "dalang pembunuhan Kim Jong-nam." Empat tersangka lainnya ditengarai langsung terbang kembali setelah Kim Jong-nam dieksekusi.
  • Awal minggu ini, kamar mayat tampat jenazah Kim Jong-nam berusaha dibobol. Kepolisian Malaysia telah mengantongi nama pelaku namun belum memastikan apakah pelaku berasal dari Korea Utara.

Suasana aneh yang melingkupi tewasnya Kim Jong-nam menutupi masalah yang lebih besar yang dihadapi Korea Utara. Dengan menyangkal bertanggung jawab atas kematian Kim Jong-nam, Pyongyang beresiko mengasingkan salah satu mitra abadinya, Cina, yang melindungi Jong-nam selama 15 tahun. Belum lagi, dengan menyudutkan Malaysia—yang sebelumnya berhubungan hangat dengan Korut—daftar teman negara totalitarian tertutup itu semakin menyusut saja.