Food

McDonald Menggugat Kota Florensia Rp258 Miliar Karena Dilarang Buka di Alun-Alun

Kota di Italia ini gagah berani menantang perang salah satu waralaba resto cepat saji terbesar sedunia.
Phoebe Hurst
London, GB
10.11.16

Kota Florensia di Italia kesohor karena banyak hal. Mulai dari katedral penuh ukiran gaya terracota, lukisan-lukisan Botticelli, anggur nikmat mudah ditemukan di segala penjuru, hingga arsitektur renaissance yang bikin kita terkagum-kagum.

Kini, ada satu hal lagi yang bakal bikin Florensia terkenal. Dia bakal dikenal sebagai kota yang dituntut berjuta-juta Euro oleh McDonald.

Seperti dilaporkan oleh BBC awal minggu ini, jaringan restoran cepat saji akan menuntut Florensia nyaris 18 juta euro (setara Rp 258 miliar) setelah dihalang-halangi membuka salah outlet di salah satu piazza bersejarah, Piazza del Duomo.

Iklan

Pada bulan Juni 2016, Rencana McDonald mendirikan salah satu outletnya di sebuah piazza Renaissance dianulir oleh Walikota Florensia. Keputusan diambil berdasarkan masukan panel teknis Pemkot yang bertugas melestarikan titik-titik bersejarah di kota itu.

Menanggapi keputusan Pemkot Florensia, McDonald terpaksa mengubah rencana mendirikan cabang restoran baru. Menurut juru bicara perusahaan, perubahan ini disesuaikan dengan panduan yang disediakan kota Florensia dan "bakal beroperasi dengan merujuk peraturan yang ada, bahkan McDonald menerima usulan untuk menyuguh produk lokal."

Walau begitu, jaringan waralaba asal Negeri Paman Sam itu mengklaim telah mengalami diskriminasi. McDonald selanjutnya menggugat perdata Pemkot Florensia, karena merasa berhak menerima ganti rugi lebih dari 17,8 juta Euro, yakni proyeksi keuntungan yang akan mereka dapat selama 18 tahun ke depan tapi gagal diperoleh akibat larangan pemkot.

Bayangkan, uang sebesar itu kira-kira setara Double Cheeseburger, sebanyak tiga kontainer.

Dalam sebuah pernyataan kepada BBC, pihak McDonald mengatakan "kami sepenuhnya setuju bahwa warisan budaya dan artistik serta kota-kota bersejarah di Italia harus dilindungi, begitu juga dengan toko-toko tradisional dan kecil. Namun, kami tak bisa begitu saja menerima peraturan diskriminatif yang menghancurkan inisiatif bisnis tertentu dan tidak menguntungkan siapapun."

Wali Kota Florence Dario Nardella punya pendapat berbeda. Menurut Dario, kotanya tak memiliki prasangka tertentu saat menampik rencana McDonald membuat cabang baru di kotanya. Dalam sebuah pertanyaan pada dewan kota awal tahun ini, dia tegas berkata, "Kita juga punya hak untuk berkata tidak."

Anda mungkin tak bisa berkata tidak pada Paket PaNas dengan ekstra sambal saat perut anda keroncongan menjelang subuh. Namun, sepertinya Florensia masih terus berkata tidak.