Ilusi Optik

Foto Ini Tak Punya Piksel Sama Sekali, Tapi Kenapa Stroberinya Masih Terlihat Merah Ya?

Peneliti kerja otak ternyata punya jawabannya. Teori ini menjelaskan alasan netizen dulu pernah debat soal baju warna biru atau putih di Internet.
Strawberry bisa tetap terlihat merah di foto tanpa piksel
Foto dari akun Akiyoshi Kitaoka.

Masih ingat sama postingan viral The Dress? Itu lho, foto viral yang pernah memecah belah internet. Ada yang mengatakan warna gaun dalam foto biru, sementara banyak pula yang keukeuh bilang warna busana tersebut sebenarnya hitam, emas, atau malah putih.

Setelah tubir internet gara-gara The Dress lewat, kini muncul lagi foto yang berpeluang bikin netizen kembali gontok-gontokan. Ini dia gambarnya:

Foto tersebut diciptakan oleh Akiyoshi Kitaoka, profesor psikologi di Ritsumeikan University, Jepang, yang banyak mempelajari ilusi optik (cek deh laman Twitter Kitaoka. Isinya bakal bikin kamu terkagum-kagum).

Iklan

Seperti yang kalian lihat dalam twit di atas, foto tersebut nyata-nyata tak punya piksel merah sedikitpun di dalamnya. Kendati banyak pengguna Twitter berusaha menyanggah fakta ini, seorang pengguna Twitter lain menunjukkan piksel yang kita sangka merah sebenarnya berwarna kelabu (dan agak kehijauan).

Kenapa netizen terkesan melihat satu warna yang sama? Alasannya teknik yang digunakan untuk menghasilkan foto ini menyerupai metode pembuatan The Dress. Nama tekniknya color contancy. Teknik tersebut memanipuasi cara otak mengoreksi warna dari obyek di sekitarnya, ketika diberi filter cahaya berbeda-beda.

Setiap kali kamu melihat benda-benda yang ada di sekitar, cahaya yang masuk ke matamu terdiri beragam gelombang berbeda datang dari pigmen obyek yang kita pandang, plus cahaya yang menyinarinya.

"Bayangkan kamu berjalan di bawah langit berwarna biru. Nah, warna biru itu 'mencemari' segala sesuatu yang kamu lihat," kata Bevil Conway, pakar persepsi visual perception dari National Eye Institute kepada Motherboard. "Jika kamu memandang apel warna merah di bawah langit berwarna biru, matamu akan lebih banyak menerima gelombang warna biru dibanding merah. Sebaliknya, bila kamu melihat apel itu di dalam ruangan dan di bawah lampu pijar, warnanya terkesan berbeda. Padahal, pigmennya tetap sama. Yang membedakan cuma konten spektral dari cahayanya. Spektrum warna ditangkap matamu—hasil pantulan dari obyek—lah yang berbeda."

Iklan

Karena semua kontaminasi warna dari sumber cahaya tak sepenuhnya berguna (misalnya, akan sangat memusingkan jika pisang yang matang terlihat berwarna kuning di pagi hari tapi kembal kelihatan hijau di siang hari), otak perlahan mengembangkan cara untuk mengoreksi warna-warna yang kita lihat. Akibatnya, manusia melihat warna yang sama terlepas dari bagaimana cahaya menyinari sebuah obyek

"Di foto ini, seseroang telah dengan cerdik melakukan manipulasi sehingga obyek kita pandang memantulkan warna-warna kelabu, sedangkan otak kita menganggap sumber cahaya dari foto ini berwarna biru," ungkap Conway. "Jadi, otakmu kira-kira bilang begini ‘sumber cahaya yang menyinari stroberi yang sedang kita pandangi ini punya komponen warna biru, makanya saya akan mengurangi warna biru dari tiap piksel.’ Nah, jika piksel abu-abu dihilangkan elemen birunya, hasilnya adalah merah."

Lebih jaih Conway menjelaskan ilusi ini muncul karena kita mengenali obyeknya. Stroberi sering kita asosiasikan sama warna merah. Akibatnya, otak kita sudah terlebih dulu terkondisikan untuk mencari pigmen warna merah.

Color constancy adalah salah satu penjelasan kenapa terjadi kericuhan tentang warna The Dress. Karena sumber cahayanya relatif kurang jelas, otak siapapun melakukan koreksi. Akibatnya terjadi intepretasi warna yang berbeda-beda.

Baiklah, sains sudah bisa memberi jawaban soal keanehan mata kita. Tapi kami rasanya manusia bakal terus jadi korban ilusi optik macam ini. Tak mengapa. Perbedaan ini bikin internet ribut, sementara kita semua tahu tubir di internet selalu sedap buat ditonton. Jadi, biarin aja deh, hehehe.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard