Psikologi

Individu Psikopat Narsistik Cenderung Kuliah Jurusan Bisnis dan Ekonomi

Penelitian ini berdasarkan survei yang digelar di Amerika Serikat dan Denmark. Bagaimana dengan negara lain ya?
8.5.17

Setelah lobi mati-matian oleh Presiden Donald Trump dan Wakil Presiden Mike Pence di DPR, undang-undang layanan kesehatan yang sangat merugikan warga baru saja disahkan oleh Parlemen Amerika Serikat. Di masa lalu, Trump kerap kali menyombongkan kemampuannya bernegosiasi (biarpun ini dipertanyakan ketika dia gagal mencabut Affordable Care Act dua bulan yang lalu). Di 2015, Trump menceritakan strateginya bernegosiasi pada Business Insider. "Semua itu prinsipnya memberi dan mengambil," katanya. "Tapi harus lebih banyak mengambil. Karena anda tidak boleh terlalu banyak memberi, harus lebih banyak mengambil."

Iklan

Pernyataan yang kelewat jujur tersebut menimbulkan pertanyaan: Apakah Trump memang dari dulu juru negosiasi narsistik, atau ini akibat pengaruh lingkungan sosial kalangan pengusaha?

Sebuah penelitian baru dirilis bulan lalu di Jurnal Personality and Individual Differences mengindikasikan bahwa dunia korporat tidak mengubah orang baik menjadi rakus, manipulatif dan sinis—mereka sudah seperti itu sebelum terjun ke industri.

Para peneliti sudah lama mendokumentasikan dampak dari narsisisme, psikopat, dan Machiavellianisme di lingkungan kerja. Psikopat "memiliki tingkat tanggung jawab korporat yang lebih rendah" dan pengidap Machiavellisme cenderung "berfokus bagaimana cara menjaga kekuasaan menggunakan perilaku manipulatif." Sementara narsisisme diasosiasikan dengan tindakan-tindakan yang tidak etis.

Karena menyadari karakteristik tipikal pengusaha dan pengacara bisnis, para peneliti di Denmark ingin mencari tahu apabila orang-orang "berkepribadian bermasalah" sengaja memilih jurusan-jurusan bisnis dan ekonomi. Untuk menemukan jawabannya, mereka menganalisa apakah pilihan jurusan akademis seseorang berkorelasi dengan kepribadian mereka.

Penelitian ini menggelar jajak pendapat terhadap 487 mahasiswa tahun pertama di University Danish yang mengambil jurusan psikologi, ekonomi/bisnis, hukum, ilmu politik. Para peserta diminta mengisi tes kepribadian standar yang akan menilai berdasarkan perihal lima kategori kepribadian (Ekstraversi, Kesetujuan, Keterbukaan, Ketelitian, dan Neurotisme) dan juga tendensi narsisisme dan psikopat. (Di sebuah penelitian sebelumnya, Anna Vedel, kepala tim penelitian ini, menyimpulkan murid dari jurusan hukum, bisnis dan ekonomi cenderung lebih sulit setuju dibanding jurusan lainnya.) Ternyata murid-murid jurusan ekonomi/bisnis dianggap sebagai yang "paling kelam," tulis kepala penelitian. Mereka semua meraih nilai tinggi dalam aspek narsisisme dibanding murid psikologi dan ilmu politik. Murid jurusan hukum juga lebih skornya lebih tinggi dalam aspek psikopat dibanding murid psikologi, tapi ternyata tidak setinggi mereka-mereka yang ingin menggeluti dunia bisnis dan ekonomi.

Ketika dikategorikan berdasarkan gender, ditemukan kesimpulan bila peserta laki-laki meraih skor lebih tinggi dalam hal narsisisme dibanding perempuan. Sementara perempuan mencetak angka lebih tinggi di bidang neurotisme, kesetujuan dan ketelitian. Biarpun kelihatannya perbedaan gender mempengaruhi hasil tes di semua jurusan (misalnya, lebih banyak lelaki memilih jurusan bisnis/ekonomi dibanding psikologi), pihak peneliti meyakini bahwa ini bukan karena gender, sebab dari sampel yang digunakan, ada lebih banyak murid hukum perempuan dibanding laki-laki, dan tetap saja skor narsisismenya lebih tinggi dibanding mahasiswa jurusan psikologi.

Maka dari itu, pihak peneliti menyimpulkan bahwa kepribadian seseorang berperan dalam pilihan edukasi. "Hasrat untuk mendapatkan kekuasaan, status dan uang yang menjadi elemen narsisisme mendorong individu untuk memilih jurusan ekonomi, bisnis dan hukum karena bidang-bidang inilah yang akan membuka jalan di dunia korporat," tulisnya. "Dunia korporat mendukung perilaku egois dan menyediakan lingkungan bagi mereka-mereka yang mempunyai kecenderungan narsisisme untuk sukses."

Kebetulan atau tidak jika kita sekarang melihat Presiden Trump, dengan semua retorika dan kebijakannya yang ngawur, ternyata memiliki gelar Sarjana Ekonomi?