Break the Stereo

Lewat Fashion, Toton Januar Mendobrak Stereotipe dan Merawat Kebhinekaan

”Saya ingin menerjemahkan apa yang saya rasakan dan saya lihat tentang Indonesia."
9.5.17

Indonesia adalah jalinan bangsa kaya warna yang mampu diterjemahkan Toton Januar dalam guntingan kain dan jahitan busana. Toton adalah desainer yang mengomandoi label di bawah Bendera Toton. Berdiri sejak 2012, Toton berhasil merebut tempat dalam segmen pasar yang selama ini sangat penuh kompetisi: only women's wear. Ambisi Toton berhasil menjangkau tak hanya pecinta fashion Indonesia. Tahun lalu, label tersebut menjadi salah satu wakil Asia yang memenangkan Woolmark Prize yang prestisius. Sebagai laki-laki yang sejak lama terobsesi merancang busana perempuan, Toton mengaku punya ide yang menancap kuat di kepalanya sebelum membuka bisnisnya. Gagasan desainer asal Makassar itu adalah menempatkan unsur kebudayaan Indonesia ke dalam setiap produk busana wanita yang dia buat. "Saya ingin menerjemahkan apa yang saya rasakan dan saya lihat tentang Indonesia," ujarnya. Toton mengaku seringkali emosional saat mengerjakan desain produknya. Contohnya, ketika sang nenek meninggal beberapa tahun lalu. Peristiwa yang menyedihkan itu membuat Toton menyelami lagi persoalan asal-usulnya, identitasnya. Dari sana, dia merasakan betapa unik pengalaman menjadi manusia Indonesia. "Saya mungkin seperti banyak orang Indonesia yang lainnya kita ini bukan beneran pribumi gitu. Mungkin kita ada campuran Cinanya, kita ada campuran Arabnya. Seperti saya sendiri ada darah keturunan Cina yang mungkin udah jauh sekali dari neneknya nenek," kata Toton. "Itu yang akhirnya saya wujudkan ke dalam suatu koleksi yang menyorot perbauran budaya di Indonesia dan bahwa kita semua ini sebenernya harus bisa lebih inklusif gitu." Pecinta busana Indonesia merasa koleksi Toton banyak bernuansa androgyny. Toton mengakuinya. Ketiadaan sosok ayah bagi pria yang kini menginjak 39 tahun itu berpengaruh besar pada caranya merancang busana. Elemen maskulin dalam busana-busana feminin adalah upayanya mencari jati diri. "Saya engga pernah mengenal ayah, karena beliau meninggal pada saat saya masih bayi. Saya dibesarkan sama ibu tunggal dan tante-tante saya yang semuanya bekerja."

Iklan

Menurut Toton, lelaki modern seharusnya peka dan menyadari keunikan lawan jenisnya. Baginya, gagasan cantik (dan juga tampan) kini punya keistimewan masing-masing. Tugasnya sebagai desainer adalah sekadar memfasilitas setiap nilai individu tersebut. "Apa yang saya tawarkan adalah bagi mereka yang ingin tampil beda, cantik, tapi tetap menjadi pribadinya sendiri." Berikut obrolan VICE x AXE dan Toton dalam seri terbaru 'Break The Stereo', memahami bagaimana maskulinitas kerap menghalangi lelaki mendalami hal-hal feminin, batasan profesi yang ditetapkan pada laki-laki di Indonesia, serta dampak pendidikan teknik (yang sering distereotipekan sebagai ilmu macho) justru membantu Toton mengembangkan desain-desain busana perempuannya yang berkarakter.

Sejak kapan Toton ingin berprofesi sebagai desainer fashion?
Dunia desain busana ini memanggil saya terus. Dari kecil sebenernya cita-cita saya banyak. Pengen jadi astronot, pilot, arsitek, macem-macem. Memang akhirnya apa pun yang saya kerjakan dari kecil itu saya selalu terdorong untuk menggambar sosok wanita. Nah, itu saya engga ngerti kenapa. Saya sempet pengen jadi seniman, tapi tidak boleh sama ibu. Akhirnya saya berkenalan dengan dunia desain dan itu pun sebenarnya awalnya tidak boleh sama ibu. Tapi dorongan itu begitu kuat. Jadi mungkin buat saya akhirnya kalau memang selalu terpanggil dan terdorong ke arah situ, mungkin itu memang panggilannya.Saya tidak bisa bohong lagi, saya tidak bisa mengingkari lagi. Begitulah jalannya.

Iklan

Boleh di ceritakan sedikit dan apa sih reaksi reaksi ibu ketika tahu Toton menjadi desainer?
Tidak mudah ya. Maksudnya saya dilahirkan di generasi di mana anak laki-laki tuh diharapkan menjalani suatu profesi yang umumnya dijalani oleh anak laki-laki. Setelah SMA, saya diharapkan kuliah di teknik atau di kedokteran, atau mungkin di bidang seperti hukum. Saya sempet mencoba kuliah teknik sipil satu tahun, tapi karena memang saya jiwanya engga di situ, akhirnya saya drop out. Kemudian saya mencoba untuk bernegosiasi sama orangtua. Minta untuk bisa sekolah seni. Tapi saya dikasih jawaban bahwa seni ngga akan bisa kasih makan kamu. Which is sebenarnya kalo kita lihat sekarang itu amat sangat engga bener. Akhirnya saya cari jalan tengah.

Saya sekolah di penyiaran waktu itu di Universitas Indonesia. Setelah selesai, saya masih bingung sebenarnya apakah saya mau menjalani bidang broadcast ataukah bidang lain.Tapi sepanjang saya kuliah di Jakarta, saya juga sempet kerja sambilan jadi model dan akhirnya bisa memperkenalkan diri saya ke dunia fahion. Di situlah saya bener-bener ngerasa nyaman. Jiwa seni atau panggilan seni saya tersalurkan di situ. Itu bukan seni murni tapi juga bukan pure business. Kita bisa harus bisa berkomunikasi dengan khayalak lewat karya.Membujuk mereka untuk bisa membeli ide kita, tapi kita juga harus bisa kreatif dan muncul dengan ide-ide baru sehingga mereka terinsipirasi dan tidak bosan. Ibu saya akhirnya tahu saya bekerja di bidang fashion setelah saya bekerja di bidang itu selama dua tahun. Beliau waktu itu sempat berkeberatan, tapi akhirnya saya berusaha untuk membuktikan bahwa apa yang saya kerjakan ini patut dijadikan pilihan hidup.

Apakah kamu sempat merasa berbeda karena sejak kecil suka menggambar perempuan?
Kalau saya bisa kasih nasehat kepada diri saya pada saat masih kecil, mungkin cuman bisa bilang jangan bingung mencari hal yang sebenarnya kamu udah tahu. Itu aja sih. Karena akhirnya kalau memang terlalu banyak noise kiri kanan depan belakang, ya kita memang suka bingung sendiri dengan apa yang kita mau. Saya suka kagum sih sama anak-anak sekarang. Mereka dari umur SMA ato bahkan lebih muda, mereka sudah tahu diri mereka siapa, mereka mau jadi apa. Banyak juga yang sekarang sudah langsung tahu gender mereka apa. Itu saya kagum. Maksudnya di generasi saya hal itu unheard of aja.

Menurut Toton di Indonesia tuh seperti apa sih stereotipe maskulinitas?
Maskulinitas di Indonesia yang saya lihat sekarang sih, sudah amat sangat jauh bergesar sebenarnya. Yang jelas sekarang orang lebih terbuka menerima perbedaan. Mudah-mudahan itu beneran menjadi suatu budaya baru. Karena dulu pada saat saya beranjak dewasa, hal-hal sekecil apa pun itu suka menjadi isu di dalam pergaulan. Kalau sekarang sih yang saya bisa lihat, orang lebih menerima, lebih inklusif, lebih memaklumi. Dalam artian misalkan penampilan kita sedikit nyeleneh kayak seorang laki-laki yang suka menggunakan rok misalnya, atau kulot, atau pewarna kuku, tidak berarti atau tidak mendefinisikan dia dalam stereotipe tertentu. Kalau dulu ketika saya masih remaja beda sekali. Kamu beda sedikit, langsung dituding kamu nyeleneh atau kamu ngga wajar. Itu yang mungkin sekarang sudah berubah.

Iklan

Berarti sekarang stereotip negatif bagi lelaki yang bekerja di industri fashion sudah mulai hilang ya.
Stereotip untuk orang yang bekerja di bidang fashion itu mungkin–mungkin aja sekarang masih ada. Dari dulu saya akhirnya sampe di titik ini juga memerangi stereotip itu. Tidak cuman stereotip yang orang-orang lihat ke diri saya, tapi akhirnya the way I see myself juga gitu. Jadi saya berusaha untuk memerangi cara pandang diri saya tentang apa yang saya mau sebenarnya. Sampe akhirnya saya bisa di tempat ini. Semua bidang itu ketika kita jalani sungguh-sungguh, it requires hard work. Dan kerja kerasnya itu sama sih. Maksudnya begini. Mungkin orang di luar fashion umumnya bilang, ya lebih gagah lah jadi insinyur, misalkan, dibanding jadi perancang busana gitu. Padahal di fashion ada istilah: fashion is a not a business for sissy.

Di bidang fashion kita bekerjanya hampir 24 jam, tujuh hari seminggu… living breathing ya kita mikirin terus bisnis kita seperti apa. Dan dalam artian kita mengerjakan sesuatu, mempunyai ide, mencoba untuk menjual sesuatu atau menjual ide itu, belum tentu orang menanggapi dengan baik. Kita harus bisa kuat menghadapi penolakan, kuat untuk menghadapi kegagalan karena tidak selalu setiap koleksi itu berhasil. Nah itu mungkin yang orang secara umum tidak berpikir ya, maksudnya tidak sampe memikirkan sejauh itu. Orang suka lupa bahwa fashion itu bukan sekedar baju. Itu adalah cerminan dari masyarakat sebenarnya. Jadi apa yang terjadi di masyarakat akan mempengaruhi secara langsung dan akan tercermin secara langsung.

Iklan

Berarti persepsi bahwa dunia industri fashion itu sepenuhnya feminin bisa dibilang salah?
Mungkin orang melihat fashion itu feminin karena kita bersinggungan dengan beauty.
Maksudnya kita selalu berusaha untuk membuat sesuatu yang cantik atau membuat sesuatu yang kita anggap cantik. Kalo saya pribadi sih, saya selalu berusaha untuk mencari definisi baru dari cantik itu sendiri gitu. Maksudnya mungkin maskulin bisa dibilang cantik sekarang. Hal ini yang terus saya gali sebagai desainer. Kalau banyak yang bilang ini dunia feminin, mungkin karena urusannya banyak dengan baju atau urusannya dengan perempuan.

Tapi secara bisnis, seperti yang saya bilang tadi, fashion bukan bisnis yang diperuntukkan untuk orang yang lembek. Bisnisnya amat sangat keras. Kita berhadapan dengan berbagai macam orang yang karakternya beda-beda.

Adakah ilmu selama kuliah teknik sipil yang berdampak pada gaya desain Toton?
Setamat SMA, saya sempat kuliah di Jurusan Teknik Sipil Universitas Hassanudin.
Pengalaman itu sesuatu banget, karena itu mahasiswa tehnik itu seperti epitome of apa ya… jadi pria macho. Karena bidangnya juga memang bidangnya amat sangat maskulin. Dianggep maskulin oleh masyarakat. Kemudian memang lingkungannya juga banyak pria.
Tapi kalo ditanya sekarang kaya profesi kamu sekarang jauh sekali ya dari situ gitu? Itu sih, saya suka bisa jawab, sebenernya sih ngga jauh-jauh banget ya.

Dalam artian, sebenarnya kita sama-sama mengkonstruksi. Kita sama-sama menghitung, kita sama-sama membangun sesuatu. Bedanya yang satu mungkin membangun pelabuhan yang ini membangun misalkan suatu jaket ato suatu coat ato suatu dress. In a way, sensibilitynya kurang lebih sama antara teknik sipil dan fashion design. Kita memikirkan fungsi, kita memikirkan estetis juga. Semuanya jadi satu di situ.

Toton dibesarkan oleh para perempuan. Apakah pengalaman itu mempengaruhi persepsimu terhadap maskulinitas dan gender saat dewasa?
Pengaruh sekali ya. Karena saya dibesarkan di keluarga yang kebanyakan perempuan, akhirnya cara saya melihat peran gender di masyarakat itu mungkin sedikit berbeda dengan pandangan umumnya di Indonesia. Saya juga tidak pernah mengenal sosok ayah, ibu saya tidak pernah menikah lagi. Saya sejak kecil melhat wanita menjadi seorang pemimpin keluarga. Sehingga perempuan memimpin buat saya wajar. Rupanya yang seperti itu buat sebagian besar orang di negeri kita ini masih engga wajar. In a way, saya bersyukur sih. Saya tidak bisa membayangkan dibesarkan dengan melihat kenyataan sebaliknya. Saya tidak bisa melihat itu sebagai sesuatu yang berbeda gitu.