Write for Rights

Gustavo Gatica Buta Saat Menuntut Kesetaraan, Akibat Tindakan Brutal Polisi Chile

Pemuda 22 tahun itu butuh dukungan kalian untuk memperjuangkan keadilan yang tak kunjung diberikan sistem peradilan di Chile.
20.11.20
Aktivis Mahasiswa chile Gustavo Gatica buta akibat tindakan brutal polisi anti-huru hara
Gustavo Gatica, kini 22 tahun, kehilangan penglihatan akibat tembakan peluru karet polisi anti huru-hara saat membubarkan unjuk rasa di Ibu Kota Santiago Chile. Foto oleh EDGARD GARRIDO/REUTERS

Artikel ini merupakan kolaborasi VICE bersama Amnesty International Indonesia. Klik tautan ini jika kalian tertarik berpartisipasi dalam kampanye ‘Write for Rights’ yang sudah dijalankan Amnesty International sejak 2001. Partisipasi kalian, sekecil apapun, dapat mengubah hidup orang-orang yang mengalami ketidakadilan.


Pada 8 November 2019, jalan-jalan di pusat Ibu Kota Santiago dipadati pengunjuk rasa. Di sebuah gang kecil dekat Vicuña Mackenna, salah satu jalan raya utama yang melintasi ibu kota Chile, sekelompok orang berkumpul. Mereka meneriakkan slogan melawan Carabineros, julukan institusi kepolisian negara itu. Sebagian dari demonstran diduga melemparkan batu ke kendaraan taktis yang diparkir di jalan. 

Menurut jaksa penuntut, Claudio Crespo Guzmán, seorang perwira polisi dan komandan unit serangan taktis, bersembunyi di balik dinding agar tidak terlihat banyak orang. Saat massa demonstran semakin dekat, ia mengangkat senapan yang ia tenteng, kemudian menembak langsung ke kerumunan, sebagian menerjang bagian atas tubuh Gustavo Gatica yang berusia 21 tahun. Dua dari 12 peluru senapan tersebut menembus mata Gatica, membuat si pemuda buta permanen. 

Iklan

Unjuk rasa itu awalnya bermula 18 Oktober, sebagai reaksi masyarakat terhadap kenaikan tarif bus kota sebesar 30 peso. Belakangan, aksi dengan isu sederhana tadi berkembang menjadi gerakan antipemerintah berskala luas.

“Saya dan ribuan orang memprotes kebijakan ekonomi neoliberal yang diterapkan di Chile, yang benihnya muncul selama kediktatoran sipil-militer era Jenderal Augusto Pinochet,” kata Gatica. Menurut Gatica, "neoliberalisme adalah model ekonomi yang mendorong privatisasi semua layanan penting untuk kesejahteraan masyarakat; mulai dari kesehatan, pendidikan, bahkan akses air bersih, dan sumber daya alam lainnya."

Sejak hari-hari pertama demonstrasi kenaikan tarif bus, kerusuhan segera menyebar di seantero Chile. Kekerasan dan maraknya protes menyebabkan berbagai jaringan angkutan massal Ibu Kota Santiago berhenti operasi.

Merespons situasi tersebut, Carabineros pilih menindak tegas pengunjuk rasa. Tindakan polisi makin brutal pada demonstran, sesudah pemerintah pusat mengumumkan status darurat nasional dan menerapkan jam malam. Ratusan ribu orang kala itu turun ke jalan.

Bentrok dengan aparat Chile menewaskan 36 orang (merujuk data Februari 2020), 11.564 lainnya luka-luka, dan sekitar 28.000 orang yang terlibat unjuk rasa ditahan. Ratusan orang juga mengalami luka mata akibat senjata polisi, namun sejauh ini hanya dua orang, yaitu Gustavo Gatica dan Fabiola Campillai, yang sampai buta permanen. 

Iklan

Fabiola adalah perempuan kelas pekerja yang saat kejadian hendak berangkat dari rumah untuk sif malam di pabrik. Menurut Fabiola, kekacauan yang konstan selama momen unjuk rasa di ibu kota Chile mengakibatkan seorang petugas polisi menembakkan bom gas yang langsung menghantam wajahnya, menyebabkan Fabiola kehilangan tiga dari lima inderanya.

“Polisi di Chile sepanjang sejarah rutin melakukan tindakan represif yang kejam termasuk pada demonstrasi damai sekalipun,” kata Ana Piquer, Direktur Eksekutif Amnesty International Chile. “Bahkan setelah rezim Diktator Pinochet berakhir, polisi terus bertindak agresif menghadapi unjuk rasa protes. Aparat di negara ini punya jejak sejarah impunitas terkait pelanggaran hak asasi manusia. Pelanggaran HAM oleh polisi juga lzim terjadi terhadap masyarakat adat di kawasan Chile selatan [orang Mapuche].”

“Berawal dari gejolak sosial 18 Oktober 2019, ketidakpuasan meluas ke seluruh lapisan penduduk Chile yang turun ke jalan menuntut keadilan dan pengembalian martabat. Yang sedang terjadi negara itu adalah krisis hak asasi manusia terburuk sejak rezim junta militer berakhir. Amnesty International sendiri menyimpulkan adanya pelanggaran yang menyebar luas terhadap hak atas integritas pribadi, dan tanggung jawab rantai komando, hingga tingkat tertinggi, harus diselidiki."

body image.png

Gustavo Gatica berpose saat masih memiliki penglihatan. Foto dari arsip pribadi.

Sekian pekan sesudah protes meletus, Chile dan seluruh dunia mengalami perubahan yang rasanya tidak dapat dipulihkan. Gelombang demonstrasi itu rasanya cukup berhasil. Mulai muncul momentum positif, termasuk amandemen konsitusi negara yang lebih menjamin kebebasan sipil.

Masalahnya, konstitusi Chile adalah salah satu pemicu berbagai persoalan sosial besar. Konstitusi tersebut dibingkai dan diimplementasikan di bawah kekuasaan Jenderal Augusto Pinochet. Penduduk yang tercuci otaknya oleh warisan propaganda Pinochet lebih banyak cari aman, tanpa ada minat mengabadikan ketidaksetaraan struktural yang menimpa jutaan warga Chile. 

Iklan

“Konstitusi Chile menetapkan Angkatan Bersenjata dan Carabineros di Chile memonopoli kekuasaan,” kata Piquer. “Carabineros adalah lembaga militer, tapi tidak pernah tunduk pada reformasi politik apa pun dalam strukturnya setelah demokrasi bagai negara di dalam wilayah negara berdaulat. Sejarah impunitas terkait tindakan aparat di Chile sudah terlanjur mendarah daging memicu maraknya pelanggaran hak asasi manusia umum yang sayangnya sudah sering kita saksikan sejak Oktober tahun lalu hingga hari ini.” 

Isu pelanggaran hak asasi manusia kembali menarik perhatian dunia pada paruh kedua tahun ini. Tepatnya ketika video seorang petugas polisi, yang menunjukkan sikapnya mendorong seorang pengunjuk rasa berusia 16 tahun dari jembatan di Santiago, menghiasi berita-berita kanal TV utama. Remaja itu jatuh telungkup di dasar sungai bawah, dengan foto diabaikan oleh Carabineros, menderita trauma kepala dan patah pergelangan tangan. 

Bagi Gustavo, luka yang menimpanya mengubah hidup. “Pada tingkat fisik, terjadi kebutaan total sesudah terjadi benturan. Bahkan membuat saya harus belajar berjalan lagi, mengembangkan indra lain, dan secara psikologis, harus belajar merasakan secara berbeda,” urainya.

Kehebohan seputar cedera Gustavo membuat nama mahasiswa biasa ini menjadi tokoh utama gerakan—sesuatu yang tidak terjadi secara alami. “Bagi saya, saya sangat mengagumi orang-orang yang terus berjuang selama berbulan-bulan ini, yang cukup melelahkan,” katanya.

Iklan

“Setahun telah berlalu dan orang-orang masih berada di jalanan, sekalipun polisi dan tentara militer terus menembaki dan membunuh orang-orang. Mereka telah melindas, membuang orang ke sungai, ada lebih dari 400 trauma mata, mereka telah membakar orang, mereka telah memperkosa, dan mereka telah menyiksa. Saya merasa inilah perasaan yang ditimbulkan dari apa yang telah terjadi pada saya dan banyak orang lainnya, yaitu kemarahan yang meluap-luap.”

Kemarahan itu diterjemahkan ke dalam referendum Konstitusi pada 25 Oktober 2020, yang membuat rakyat Chile memberikan suara yang begitu besar mendukung pencabutan semua dokumen hukum era Pinochet, dan memulai langkah ke depan baru bagi negara tersebut. 

Quote_Indonesian (2).png

Terlepas dari kemenangan di meja hijau, bagi Gustavo dan ribuan lainnya yang terbunuh atau terluka dalam protes, keadilan tetap harus ditegakkan. Crespo Guzmán sendiri bakal diadili karena telah membuat Gustavo buta. Organisasi-organisasi hak asasi manusia menyerukan agar semua yang bertanggung jawab mengeluarkan perintah juga diadili.  

“Kami yakin kasus Gustavo Gatica dapat memelopori lebih banyak investigasi dalam rantai tanggung jawab komando militer di Chile, menetapkan preseden yang membuka jalan bagi ratusan kasus yang menuntut dan mengupayakan keadilan atas pelanggaran hak asasi manusia dalam protes 2019,” kata Ana Piquer. “Melalui kampanye Write for Rights, kami berharap dapat memastikan bahwa petugas kepolisian, komandan, dan atasan lainnya yang diduga bertanggung jawab atas pelanggaran pidana agar diselidiki. Jika ada cukup bukti yang dapat diterima, dituntut dalam persidangan yang adil di hadapan pengadilan sipil negara. 

“Perhatian publik tersita oleh pelanggaran hak asasi manusia yang diakibatkan oleh tindakan brutal polisi di Chile, serta beberapa liputan media internasional. Oleh karena itu, perhatian yang makin besar akan memberikan tekanan lebih kuat pada tindakan Jaksa Penuntut Nasional, Pengadilan, dan Carabineros mengenai investigasi internal mereka." 

Bagi Gustavo, dukungan siapapun sangat penting—tidak hanya untuknya, tetapi juga bagi ribuan orang di Chile yang mencari keadilan. “Bangsa Chile selalu lebih peduli tentang pendapat dari luar tentang Chile daripada tentang perasaan rakyat sendiri. Jadi, saya pikir sangat penting bagi komunitas internasional untuk memberikan tekanan kepada pemerintah,” kata Gustavo. “Untuk itu, kami ingin mengajukan kasus ini: keadilan harus ditegakkan, tidak hanya dalam kasus saya, tetapi juga terhadap ribuan pelanggaran hak asasi manusia di Chile yang terjadi sejak 18 Oktober.”


Klik di sini untuk ikut serta dalam kampanye Write for Rights Amnesty International. Tindakan Anda dapat membantu mengadili mereka yang dicurigai bertanggung jawab atas cedera parah Gustavo.