Konten Viral

Video Viral di Jambi Bikin Orang Tertarik Belajar Trik Mengenali Intel Saat Unjuk Rasa

Mabes Polri membantah anggotanya yang baku pukul hendak menyusupi aksi mahasiswa Jambi. Polisi kini memburu pengunggah videonya. KontraS mengkritik tindakan polisi karena represif.
22.10.20
trik mengenali intel yang mengawal demonstrasi mahasiswa video viral polisi baku hantam jambi
Polisi berpakaian bebas mengamankan peserta demo menolak UU Cipta Kerja di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat. Foto oleh Bay Ismoyo/AFP

Video yang viral sejak Selasa (20/10) lalu, mengubah imajinasi banyak orang mengenai sosok intelijen. Ternyata intel pun bisa bentrok dengan sesama rekan aparat, ketika situasi memaksa mereka membongkar kedok sendiri.

Rekaman yang viral diambil saat demonstrasi mahasiswa tolak UU Cipta Kerja sedang digelar di depan Universitas Batanghari, Jambi, di hari yang sama. Seorang mahasiswa dengan almamater hijau sedang digelandang beberapa orang tanpa seragam. Di sekitar mereka, sejumlah polisi turut serta.

Perkelahian terjadi ketika salah seorang polisi yang terlihat hendak menyodok si mahasiswa dengan pentungan, malah mengenai tubuh pria tanpa seragam. Baku hantam tak terhindarkan. Salah seorang polwan yang melerai sempat menghardik perekam video, “Kalau sudah saya bilang jangan video, jangan video dulu!”

Teriakan “Perwiraku itu! Brimob itu!” sempat memicu sangkaan bahwa mahasiswa berjas almamater adalah polisi yang menyamar. Namun, sangkaan tersebut dibantah Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Awi Setiyono. Ia menjelaskan, pria berjas almamater memang benar mahasiswa. Peringkusnya yang berpakaian sipillah yang merupakan polisi.

“Tidak benar. PA [petugas berbaju preman] tersebut yang mengamankan mahasiswa, menghalang-halangi anggota Sabhara yang mau memukul mahasiswa. Maka ada salah paham sedikit di lapangan. Tapi sudah jelas, setelah diketahui yang bawa mahasiswa adalah intel Brimob,” terang Awi, dilansir Tirto.

Peneliti Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Rivanlee menganggap, meskipun dugaan tentang orang berjas kampus itu salah, tindakan represif polisi saat mengawal demo tetap tak bisa dibenarkan. 

"Terlepas dari siapa yang ada dalam video tersebut, praktik kesewenangan dalam aksi oleh polisi adalah nyata," ungkap Rivanlee kepada Tempo. Dalam demo Jambi tersebut, sebanyak 28 peserta aksi ditangkap polisi dengan tuduhan melakukan kekerasan.

Viralnya video tersebut membuat polisi bergerak mencari siapa yang memulai narasi adanya polisi penyusup di demo mahasiswa. 

"Masih kita pelajari, kita cari [orang yang membuat narasi]. Otomatis dicari," kata Kabid Humas Polda Jambi Kombes Kuswahyudi Tresnadi, dikutip Detik.

Dugaan adanya intel dari pihak aparat menyusupi kelompok demonstran mudah muncul karena memang sering terjadi. Pada 2009 silam, seorang terduga intel sampai dikeroyok peserta demo ketika keluarga pensiunan TNI berunjuk rasa di Banjarmasin.

Di Maret 2012, aksi mahasiswa yang tergabung dalam Konsolidasi Nasional Mahasiswa Indonesia (Konami) yang memprotes kenaikan harga BBM, dipukul polisi hingga terjadi kerusuhan. Demonstran kemudian menemukan sebuah tas berisi identitas seorang polisi yang diklaim jadi bukti, aksi mereka disusupi.

Saking ahlinya menyusup, ketua Crisis Center Ratna Sarumpaet yang mewakili Konami sampai bilang, si terduga polisi penyusup ini bahkan sempat ikut orasi ketika demo berlangsung. "Dia itu orangnya mudah bergaul. Bahkan, menurut keterangan mahasiswa, dia juga yang paling aktif untuk terus menyerang sewaktu kerusuhan di Gambir," kata Ratna.

Kasus lain juga pernah terjadi Maret 2010. Ketika hendak mendemo DPR RI terkait kasus panja Bank Century, kelompok Gerakan Indonesia Bersatu (GIB) mendaku gerakan mereka disusupi intel tentara. Kalau kata korlap GIB Masinton Pasaribu, kini anggota DPR RI, penyusupan terbongkar ketika mereka menggeledah si anggota TNI dan menemukan kartu anggota Detasemen Intelijen Kostrad.

Media sosial kemudian merumuskan sendiri ciri-ciri khas intel. Mulai dari membawa handy talkie, memakai sepatu PDL, berambut cepat, berbadan kekar, hingga kecenderungan mereka menyamar sebagai tukang bakso atau penjual nasi goreng keliling. Yang mungkin orang sudah agak lupa, tahun lalu Prabowo Subianto yang sekarang telah jadi menteri pertahanan pernah membagi tips mengenali intel. Ilmu ini ia sampaikan saat kampanye akbar di Solo pada 10 April 2019.

"Ini intel-intel ini kelihatan juga wajah intel ini. Tahu enggak dari mana? Tahu enggak dari mana? Mau tahu enggak?" tanyanya, retoris. "Jadi gini. Saya tahu ia intel kalau begini, saya kasih suatu ucapan, puluhan ribu ketawa. Orang ini, ya penyusup lah kira-kira, nah coba ini senyum semua ini… kalau petugas nggak boleh senyum, memang dia bertugas," ujarnya lagi.

Menarik. Enggak ada salahnya dicoba. Nah, mulai sekarang para koordinator keamanan demonstrasi, jangan lupa susupkan humor dalam materi orasi. Setelah itu silakan dilihat siapa massa aksi yang tidak tertawa. Kalau rumus Prabowo benar, kemungkinan besar mereka intel.