Konten Viral

Bayi 3 Bulan Dibawa Nyopir Angkot, Bukti Pekerja Indonesia Butuh Daycare Ramah Kantong

Sang ayah di Semarang itu terpaksa membawa bayi bekerja, karena tak punya uang buat bayar pengasuh anak, sementara si ibu sudah meninggal. Kejadian kayak gini sering terjadi dan butuh solusi.
11.2.20
Viral Bayi 3 Bulan di Semarang Dibawa Nyopir Angkot, Bukti Pekerja Indonesia Butuh Daycare Ramah Kantong
Kolase oleh VICE. Screenshot video viral Nurul Mukminin membawa anaknya bekerja saat menyopir angkot dari akun Facebook Danang Roesdiatmoko. Foto ilustrasi angkot via Wikimedia Commons/lisensi CC 4.0

Nurul Mukminin, seorang sopir angkot berusia 46 tahun, patut jadi bukti kebutuhan orang tua muda di Indonesia akan tempat penitipan anak atau daycare yang murah. Sejak istrinya meninggal sebulan setelah melahirkan, Nurul memutuskan mengajak anak bungsunya yang baru berusia 3,5 bulan itu untuk menemaninya narik penumpang setiap hari. Biasanya, Bilqis Choirunnisa, nama bayi tersebut, ditempatkan di kursi depan sebelah kemudi atau di gendongan sang ayah.

Nurul terpaksa membawa bayinya ke mana-mana karena enggak kuat membayar pengasuh bayi. Sebelumnya, Bilqis dipasrahkan kepada tetangganya di dekat kontrakan. Berdomisili di Keluarahan Wonosari, Semarang, seharian nyopir Nurul mengaku hanya dapat Rp50-100 ribu, jumlah yang ngepas banget kalau masih harus bayar pengasuh. "Sebenarnya saya juga enggak enak sama juragan saya. Setor selalu kurang [karena harus bayar pengasuh], akhirnya mau tidak mau si anak ini saya ambil karena saya enggak mampu. Akhirnya, saya ambil dan bawa kerja,” ujar Nurul kepada CNN Indonesia. Ia mengaku sudah sering dicibir tetangga dan penumpang karena mengajak Bilqis bekerja. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Setiap harinya Bilqis dan Nurul berangkat dari Wonosari jam 6 pagi dan pulang sekitar jam 10 malam. Nurul terbiasa narik sejak pagi karena berbarengan dengan kegiatan mengantar anak pertamanya, Balqis Choirun Najwa (7), yang tengah bersekolah di SD Pancasila Semarang. Beban finansial yang ditanggung Nurul cukup berat karena selain menanggung hidup kedua anaknya, ia masih harus melunasi tunggakan persalinan sebesar Rp10 juta dari RSUP dr. Kariadi Semarang. Beruntung, setelah diliput beberapa media, pihak Kelurahan Wonosari mendatangi Nurul menawarkan pekerja sosial gratis untuk mengasuh Bilqis. "Pak Lurah bilang biar anak saya dirawat oleh bagian sosial Kelurahan. Jadi, saya sekarang bisa tenang bekerja. Perawatan Bilqis gratis dari kelurahan, begitu pun popok dan susunya juga gratis. Maka, saya sangat berterima kasih kepada Kelurahan Wonosari,” tambah Nurul kepada Kompas. Keberuntungannya tidak berhenti sampai di situ. Karena videonya nyetir sambil momong anak viral, artis peran Baim Wong memutuskan mencarinya. Senin kemarin (10/2), Baim datang untuk ngebayarin utang Nurul ke rumah sakit.

Dari sini kita sebaiknya sadar kebutuhan d aycare murah atau malah gratis dihadapi banyak orang, terutama kelas pekerja. Tidak semua orang punya keberuntungan membiayai pengasuhan anaknya, dan tidak semua orang seberuntung Nurul yang viral sampai-sampai dibantu artis. Sayang, di Indonesia, baru wacana pengadaan daycare di kantor perusahaan saja yang muncul, belum ada kebijakan pengadaan daycare terjangkau yang bisa diakses masyarakat dengan kemampuan ekonomi setingkat Nurul.

Iklan

Tahun lalu, Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise menekankan pentingnya daycare di tempat kerja orang tua. "Sesuai dengan Peraturan Menteri No. 5 Tahun 2015, telah diinstruksikan kepada perusahaan pemerintah dan swasta untuk menyediakan daycare atau ruang bermain ramah anak. Tujuannya agar anak bisa bermain dan dekat dengan orang tuanya," ungkapnya kepada Suara.

Masalah ketidakmampuan akan pelayanan asuh anak juga dialami para orang tua muda di Amrik. Peneliti Grover J. Whitehurst menulis dalam jurnalnya di Brookings bahwa 61 persen orang tua di Amerika mengalami permasalahan finansial akibat harga daycare yang terlalu tinggi. Padahal, kesulitan orang tua untuk membayar daycare diprediksi berdampak buruk untuk ekonomi negara.

Misalnya, para pekerja harus izin bekerja karena mengasuh anaknya yang sedang sakit sehingga pekerjaan tersendat, habisnya gaji dan uang pensiun, dan hilangnya kesempatan orang tua untuk menempuh pendidikan lanjutan atau berinvestasi karena uangnya habis untuk nitipin anak.

Bisa kali ya, pelan-pelan pemerintah mempertimbangkan ngasih subsidi untuk biaya pengasuhan anak yang makin hari makin penting ini. Daripada jadi lingkaran setan, orang tua nitipin anak ke daycare buat kerja, terus orang tua kerja buat bayar daycare.