The VICE Guide to Right Now

Senioritas Toxic Masih Langgeng, Pelajar di Maumere Dipaksa Kakak Kelasnya Makan Tai

Total ada 77 pelajar seminari NTT jadi korban perploncoan itu. Kasus kayak gini terus aja terjadi di Indonesia. Saking amoralnya, KPAI sampai menyarankan pelaku dihukum pidana.
77 Pelajar Seminari di NTT Dipaksa Kakak Kelas Makan Tahi Sebagai Hukuman
Ilustrasi pelajar di Indonesia via Wikimedia Commons/lisensi CC 4.0

Senioritas toxic emang udah saatnya dimusnahkan. Kegiatan unjuk kuasa hanya gara-gara perkara umur ini semakin menyengsarakan dan keluar dari nilai-nilai kemanusiaan. Di Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebanyak 77 orang siswa kelas VII dipermalukan terlalu jauh oleh dua orang kakak kelasnya. Mereka dipaksa makan kotoran manusia pada Rabu pekan lalu (19/2).

Peristiwa yang mirip adegan film gore ini berawal ketika sang senior menemukan kotoran manusia dalam kantong plastik di lemari kamar siswa kelas VII. Ia lantas memanggil semua siswa kelas VII untuk bertanya siapa yang berani-beraninya menyimpan kotoran di sana. Tidak ada yang mengaku, senior langsung menjejali kotoran ke mulut para siswa tersebut menggunakan sendok. Biadab emang.

Iklan

"Kami terima dan pasrah. Jijik sekali, tetapi kami tidak bisa melawan," kata seorang siswa kepada Kompas. Ia mengaku tidak langsung melapor karena takut disiksa secara kejam oleh sang pendamping kalau ketahuan. Setelah kejadian, pendamping mengancam para siswa untuk enggak cerita ke mana-mana.

Untungnya, ancaman itu enggak berlaku untuk seorang siswa. Abis kejadian, ia langsung kabur dari asrama ke rumah dan memberitahukan kejadian tersebut kepada orang tuanya. Sang orang tua segera menindaklanjuti aduan anaknya dan meminta pihak sekolah bertanggung jawab atas kejadian ini.

"Menurut saya, pihak sekolah beri tindakan tegas bagi para pelaku. Yang salah ditindak tegas. Bila perlu, dipecat saja," ujar Martinus, salah satu orang tua murid.

"Saya juga memutuskan untuk pindahkan anak dari sekolah ini. Biar pindah dan mulai dari awal di sekolah lain saja," tambah Martinus.

Setelah diselidiki, kotoran tersebut adalah milik seorang siswa kelas VII yang tidak kuat menahan hajat namun mendapati pintu menuju toilet terkunci. Karena udah enggak tahan, sang siswa terpaksa buang air besar di kantong plastik yang berada di dekatnya saat itu.

"Setelah [menemukan kantong berisi kotoran], kakak kelas kumpulkan kami semua, lalu suruh kami makan tai terus mereka bilang supaya ada sejarah dalam hidup," ungkap Arnold (nama samaran), salah seorang korban, dilansir Liputan6. Menurut penuturannya, sebelum insiden makan feses, murid kelas VII sudah sering mendapat kekerasan fisik dari senior-seniornya namun tidak berani melapor.

Iklan

Pimpinan Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere Romo Deodatus Du’u melakukan klarifikasi. Ia coba meringankan dosa yang dilakukan siswa brengseknya dengan cara yang menyebalkan.

"Terminologi ‘makan’ yang dipakai oleh beberapa media saat memberitakan peristiwa ini agaknya kurang tepat sebab yang sebenarnya terjadi adalah seorang kakak kelas menyentuhkan sendok yang ada feses pada bibir atau lidah siswa kelas VII," bela Deodatus. Jadi, menurut Anda kalau fesesnya enggak ditelen berarti kejahatan si senior jadi lebih ringan, gitu?

Kata Deodatus, pihak seminari sudah meminta maaf di hadapan orang tua siswa terkait insiden ini. Kedua kakak kelas juga sudah dikeluarkan dari Seminari Bunda Segala Bangsa. Selain itu, seminari akan mendampingi para siswa yang jadi korban dalam proses pemulihan mental dan trauma.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengutuk kasus ini. Komisioner KPAI Retno Listyarti mengatakan, mereka akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan dan kantor wilayah Kementerian Agama setempat karena ini terjadi di sekolah agama. Selain itu, Retno menilai hukum bisa dilibatkan karena perundungan diatur dalam UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak.

"KPAI menyampaikan keprihatinan atas pemberian sanksi terhadap 77 siswa untuk memakan feses. Bahkan, KPAI mengutuk hal tersebut jika memang benar dilakukan. Jika memang terbukti, maka KPAI mendorong para orang tua korban melaporkan perbuatan ke pihak kepolisian," kata Retno dilansir iNews.