Kesepian

Saya Menelepon orang dari Berbagai Negara yang Sedang Swakarantina di Rumah

Aplikasi bernama QuarantineChat memberikan penggunanya kesempatan mengungkapkan perasaan mereka selama terisolasi di depan orang-orang yang tak dikenal.
Alessandro Pilo
Budapest, HU
9.4.20
Aplikasi untuk Menelepon orang dari Berbagai Negara yang Sedang Swakarantina di Rumah
FOTO OLEH ALESSANDRO PILO.

Saya menghabiskan empat minggu terakhir mengisolasi diri di apartemen saya di Budapest, Hungaria. Biarpun situasi di sini tidak seburuk di kampung halaman Italia, saya tidak mau ambil risiko. Sudah bisa ditebak, hidup jadi membosankan dan saya menghabiskan terlalu banyak waktu di internet. Satu-satunya kontak saya dengan dunia luar adalah membaca berita-berita yang bikin depresi atau menonton Instagram Story orang-orang yang kehidupannya terlihat seru biarpun sedang karantina.

Iklan

Kemudian saya menemukan sebuah aplikasi yang menghubungkan orang-orang asing yang sedang terisolasi dari seluruh dunia. QuarantineChat diciptakan oleh Max Hawkins dan Danielle Baskin, programer dan seniman asal Amerika Serikat yang bersama-sama meluncurkan sebuah aplikasi serupa bernama Dialup pada 2019. Ide mereka sederhana: mendorong orang keluar dari kesepian karantina, dengan cara ngobrol sama orang yang tak dikenal. "Biarpun kamu masih bisa mengobrol dengan teman atau keluarga, pengalaman ngobrol secara spontan dengan orang baru kini menghilang dari kehidupan kita," demikian keterangan di laman aplikasi tersebut.

QuarantineChat mirip dengan WhatsApp — kamu butuh nomor telepon tapi biaya teleponnya sendiri gratis karena menggunakan internet. Baskin menjelaskan via email bahwa aplkasi ini akan menelpon kamu sekali atau dua kali sehari di waktu yang berbeda "agar terasa seperti kejutan", tapi kamu pun bisa mengatur waktu penelponan secara spesifik. Diluncurkan pada 1 Maret, QuarantineChat saat ini sudah memiliki 4.000 pengguna di 87 negara, dan angka ini terus meningkat.

Bosan di rumah, saya mengunggah aplikasi tersebut, menulis profil dan menunggu. Saya ditelpon siang itu—apabila tidak saya angkat atau tolak, penelpon akan dihubungkan dengan orang lain. Ketika saya angkat, suara lembut perempuan menyambut saya dan memberikan saran bagaimana memulai percakapan dengan orang lain, seperti "Coba lihatlah ke luar jendela dan gambarkan apa yang kamu lihat."

1585133263662-1-3

Foto dari arsip QuarantineChat.

Saat pertama memakainya, saya terhubung dengan Michael*, seorang seniman yang tinggal di Brussels, Belgia. Awalnya, kami berdua tertawa karena sama-sama gugup; rasanya seperti sedang kencan buta. Tapi setelah beberapa pertanyaan, percakapannya mulai mengalir.

Kami berbicara tentang rencana-rencana yang batal akibat karantina: Beberapa proyek pekerjaan saya batal dan saya tidak bisa mengunjungi teman dan keluarga di Italia untuk sementara. Michael seharusnya pergi ke Jepang menghadiri sebuah pameran seni, tapi kini pameran tersebut diundur hingga Oktober. Tapi masa karantina membawa faedah untuknya—sehingga dia menjadi lebih dekat dengan teman sekamarnya yang tadinya dia tidak seberapa kenal.

Iklan

Esok harinya, saya mengobrol dengan Ali, programer dari Lahore, kota terbesar kedua di Pakistan. Dia mengatakan perdana menteri negaranya tidak mau melakukan lockdown akibat alasan ekonomi. "Dia mengatakan bahwa negaranya tidak bisa menerapkan kebijakan seperti Tiongkok dan Italia," ujar Ali.

Masalahnya Ali merasa penyebaran virus corona di negaranya bertambah parah. Maka dia dengan sukarela mengisolasi diri selama seminggu lebih. Teman-temannya menyuruhnya menyewakan apartemennya dan pindah ke kampung bersama mereka, tapi dia punya kucing dan tidak ingin meninggalkannya sendirian.

Kemudian ada Carla dari Paris, yang lumayan kocak. Carla mengatakan situasi lockdown tidak mempengaruhinya karena dia menghabiskan waktu memainkan kartu dan board game dengan teman-teman satu apartemen.

Fareed*, seorang mahasiswa medis dari Saudi juga sedang karantina bersama keluarganya di luar Ryad. Waktu menunjukkan siang hari di Saudi saat itu, dan Fareed sedang berada di taman rumahnya merokok dan minum-minum di bawah matahari. "Saya orangnya sosial, saya menghabiskan banyak waktu di luar," ujarnya. "Saya ingin menggunakan saat ini untuk lebih mengenal diri sendiri, seperti di retret spiritual."

Banyaknya positivitas dari orang-orang membuat saya mempertanyakan diri apabila saya satu-satunya orang yang cemas dengan keadaan saat ini. Namun keesokan harinya, saya bertemu Zack, seorang warga New York yang menolak menceritakan secara detail tempat dia bekerja, namun Zack adalah orang pertama yang benar-benar membuka diri perihal kekhawatirannya—dia takut akan kewalahan apabila dia kehilangan pekerjaannya. "Hidup saya sudah terasa kesepian, dan krisis ini membuat saya akan semakin merasa terisolasi," ujarnya.

Iklan

Tidak peduli di mana atau dengan siapa kamu tinggal, normal untuk merasa kesepian dengan kondisi dunia saat ini. Tidak disangka, QuarantineChat menawarkanmu sedikit perasaan terhubung yang hilang — memberikan perspektif yang unik dari seseorang yang punya kehidupan yang berbeda di tengah krisis global yang sama. Dan kadang, lebih mudah untuk bisa terbuka dengan orang yang tidak dikenal.

*Nama-nama narasumber disamarkan untuk melindungi privasi mereka


Follow Alessandro di blog pribadinya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Italia