Altar penghormatan untuk mendiang Itzel Monroy Barraza. Foto: Jennifer González.
Altar penghormatan untuk mendiang Itzel Monroy Barraza. Foto: Jennifer González.
Kejahatan

Keluarga Korban Pembunuhan Kolaborasi, Tangkap Pelaku yang 11 Tahun tak Dicari Polisi

Mau di Chile atau Indonesia, kadang keadilan datang lewat cara main hakim sendiri. Kasus pembunuhan gadis 11 tahun lalu baru diseriusi, setelah dua keluarga korban bikin investigasi sendiri.
29.1.21

Bulu kuduk Camelia Barraza berdiri saat melihat foto lelaki di ponsel putrinya. Laki-laki itu tampak lebih tua, tapi fiturnya sama seperti saat dia masih muda: rambut hitam, wajah bulat, mata kanan katarak dan tato salib di lengan kiri.

Desember lalu, lelaki itu dilaporkan membunuh mantan kekasihnya di Chile. Dia menggunakan modus operandi yang sama dengan Itzel Monroy Barraza, mendiang putri Camelia yang dibunuh sekitar 11 tahun silam di negara bagian Aguascalientes, Meksiko. Pada 9 April 2009, Itzel tewas secara tragis di usianya yang baru 17 tahun.

Iklan

Camelia yakin orang itu bernama Carlos Humberto Méndez González. Tapi anehnya, media dan pihak berwajib Chili menyebutkan namanya Igor Yaroslav González González. Lelaki Meksiko yang tinggal di Santiago menjadi tersangka pembunuhan María Isabel Pavez Zamora. Dia menghabisi nyawa María beberapa hari sebelum natal tahun lalu.

Camelia menemukan profil saudara perempuan María, Brenda, di Facebook. Dia mengiriminya pesan untuk menanyakan siapa sebenarnya Igor. Setelah berjam-jam bertukar informasi, mereka menarik satu kesimpulan: Igor adalah Carlos Humberto. Mereka yakin dia membunuh kedua perempuan ini.

“Saya khawatir ini akan terjadi [lagi],” tuturnya. Camelia sudah beribu kali mengingatkan Kejaksaan Agung Aguascalientes bahwa peristiwa yang menimpa mendiang putrinya bisa terulang kembali apabila Carlos tidak segera ditangkap. Tapi nyatanya, dia bebas berkeliaran selama belasan tahun.

María dilaporkan hilang pada 21 Desember setelah meninggalkan rumah di Santiago empat hari sebelumnya. Keesokan harinya, jasad mahasiswi 22 tahun itu ditemukan di lemari kamar mantannya yang tinggal di daerah lain.

Igor Yaroslav González González ditetapkan sebagai tersangka utama, tapi kepolisian Santiago tidak berhasil menemukan jejaknya. Berbagai organisasi feminis membanjiri media sosial dengan surat penangkapan González. Dari situlah Camelia melihat foto pembunuh putrinya.

Orang-orang di seluruh Amerika Latin bekerja sama melacak keberadaannya. Mereka memviralkan foto perbandingan, menghubungkan dua kasus pembunuhan di Meksiko dan Chili, dan menyebarkan foto terbaru “Igor” di media sosial. Mereka mengidentifikasi dia sebagai Carlos Humberto Méndez González dan tersangka pembunuhan Itzel di Meksiko.

Polisi meyakinkan keluarga Pavez bahwa Carlos sudah masuk daftar pencarian orang Interpol pada 2015, enam tahun setelah diduga membunuh Itzel dan tiga tahun setelah hakim Aguascalientes mengeluarkan surat perintah pencarian. Namun, keluarga Barraza dan aktivis di Meksiko tidak menemukan surat perintah Interpol di situs dan akun media sosial organisasi.

Iklan

Tim penyelidik Chile menangkap González pada 6 Januari di sebuah hotel di Valparaiso, berjarak 116 kilometer dari Ibu Kota Santiago. Polisi menyita barang bukti berupa barang bawaan González, ponsel María dan bukti transfer dari ibunya di Meksiko.

Dia resmi didakwa dengan tuduhan pembunuhan perempuan (femisida) dan penggunaan dokumen palsu.

González bisa ditangkap dalam dua minggu berkat aksi solidaritas di media sosial, sedangkan otoritas Meksiko butuh 11 tahun untuk menghukum pelaku. Aktivis perempuan di sana tidak kaget dengan kinerja polisi yang lamban. Berdasarkan hasil survei yang mempelajari kejahatan semacam itu selama pandemi, justru kelompok feminis yang lebih dulu menanggapi kasus kekerasan berbasis gender di Meksiko. Mereka juga mencatat setiap tindakan dan keputusan yang menghambat pencegahan kekerasan terhadap perempuan sebelum dan selama pandemi.

Ketidakseriusan negara dalam menangani isu ini menyebabkan peningkatan angka pembunuhan perempuan selama lockdown di Meksiko. Perempuan yang dibunuh setiap harinya naik dari 10 jadi 13 orang.

“Mereka tidak peduli, malas [menyelidiki] dan tidak sadar [dengan apa yang terjadi]. Saya yakin kurangnya kesadaran ini menunjukkan mereka tidak paham apa yang mesti dilakukan,” ujar Mariana Ávila dari observatorium yang mengurusi kasus kekerasan berbasis gender dan sosial di Aguascalientes.



Tahun lalu, laporan investigasi mencatat ada 3.056 kasus femisida dan 2.646 kasus pembunuhan perempuan lain yang terjadi sepanjang 2012-2018 di Meksiko. Sampel pembebasan menunjukkan, pelaku bisa bebas bukan karena kurang bukti, melainkan karena kesalahan dan kurangnya proses hukum dari pihak berwajib.

Seandainya González diadili dari dulu, takkan terjadi pembunuhan di Chili sekarang. Kematian María menyoroti pembunuhan Itzel bertahun-tahun sebelumnya, dan mengungkapkan ketidakseriusan Kejaksaan Agung Aguascalientes dalam menyelidiki kasus ini.

Iklan

Kaitan antara kedua pembunuhan tersebut menunjukkan tidak adanya kerja sama antara lembaga peradilan lokal, nasional dan internasional di sana. Menurut laporan terbaru, perempuan dibunuh setiap dua jam di Amerika Latin.

Luka hati keluarga Barraza akhirnya terobati. Mereka percaya sistem peradilan Chili akan menindak González dengan lebih serius. Apabila tersangka dijatuhkan hukuman karena membunuh María, maka Itzel juga akan mendapat keadilannya.

Kejaksaan Agung Aguascalientes mengatakan González bisa diekstradisi setelah persidangan selesai, tapi keluarga Barraza berharap dia tetap mendekam di Santiago.

“Saya yakin dia takkan bisa keluar penjara [kalau di sana],” tegas Camelia. “Di sini sering terjadi kecurangan.”