Wawancara

Peter Sagar, Otak di Balik Kesuksesan Homeshake Ternyata Anak Rumahan Sejati

Biarpun sering manggung di acara sold-out berbagai negara, termasuk saat dia menyambangi Jakarta pekan lalu, musisi asal Kanada ini mengaku lebih betah nongkrong di rumah.
Foto oleh Moses Sihombing.

Peter Sagar, otak di balik unit pop R&B super nyantai Homeshake, mengatakan bahwa dia tidak terlalu suka manggung, dan ini jelas terlihat. Diorganisir oleh kolektif Studiorama, penampilan Homeshake di lantai empat Rossi Musik malam itu terkesan sangat sderhana. Dia jarang sekali berinteraksi dengan penonton, selain ketika menjelaskan bahwa tidak akan ada encore. Semua anggota band tampil minimalis dengan aura cuek, seiring mereka menghabiskan set list berisikan lagu-lagu pop yang membius.

Iklan

Ya ini semua gak penting juga sih. Homeshake memainkan synth pop seksi dengan pengaruh R&B kental yang cocok didengarkan di dalam kamar, atau paling tidak menggunakan sepasang headphone. Ini jelas bukan jenis musik yang akan membuat penonton rusuh—biarpun mereka tampil di Rossi, di mana bahkan band emo sekalipun bisa mengundang stagedive. Tapi semua penggemar Sagar sudah paham akan hal ini. Mereka tahu apa yang akan mereka dapatkan dari konser Homeshake. Dan melihat wajah-wajah gembira penonton, yang kebanyakan bahkan terlalu muda untuk bisa masuk kategori Millennial, rasa-rasanya acara malam itu terbilang sukses.

Saya ngobrol dengan Sagar ketika dia sedang sibuk melahap sepiring Indomie goreng (lengkap dengan telur dadar, klasik) sebelum acara dan membicarakan kehidupannya di Montreal dan kenapa dia lebih menyukai proses rekaman dibanding manggung live.

VICE Indonesia: Ini pertama kali ke Asia Tenggara?
Peter Sagar: Saya sudah pernah ke Asia Tenggara sekali, tapi ini pertama kalinya ke Jakarta. Asik sih kotanya, saya suka. Udaranya emang panas banget, tapi untungnya dari kemarin lagi agak mendung. Jadinya enak.

Kamu familiar sama kancah musik di Indonesia?
Enggak sih. Ya saya tahu Rich Brian, tapi siapa juga yang enggak kenal dia? Saya bahkan gak tau lagu-lagunya sama sekali, cuman tahu orangnya aja. Dan sebelum kami pergi ke sini, kami menonton video dia makan masakan Indonesia di New York.

Iklan

Kamu tinggal di Montreal. Seperti apa kancah musiknya di sana?
Rame. Banyak orang di Kanada pindah ke Montreal karena biaya hidupnya yang relatif murah untuk sebuah kota besar. Dibandingkan dengan kota seperti Jakarta ya hitungannya kecil sih, tapi banyak orang pindah ke sana karena di Montreal kamu tidak harus banyak bekerja. Ada juga banyak acara rave dan pesta, yang tidak pernah saya kunjungi karena saya selalu nongkrong di rumah. Tapi iya, kancah musiknya ramai.

Foto oleh Moses Sihombing

Kalau di Montreal, kamu pergi ke mana untuk mendengarkan musik?
Di rumah aja. Saya nongkrong di rumah terus.

Kamu menulis musik juga di rumah ya berarti?
Iya. Saya melakukan semuanya di rumah. Dulu ada studio tempat saya merekam tiga album pertama, tapi studionya baru-baru ini sudah tidak aktif karena ia juga berfungsi sebagai venue DIY dan tempat ngejam. Semua orang capek aja ngurusinnya. Kemudian ada tuan tanah baru yang menaikkan biaya sewa sebesar $600. Ya udah, kita tinggalin aja. Sekarang saya merekam musik di komputer saya di rumah.

Lebih murah juga kali ya rekaman di rumah?
Sebetulnya gak mahal juga sih rekaman di studio, kami semua pelit juga orang-orangnya. Tapi sekarang jelas lebih mudah karena saya bisa rekaman kapan aja. Saya tidak perlu booking waktu dulu.

Kapan kamu biasanya paling produktif? Di malam hari?
Dulu saya menulis musik di larut malam. Tapi saya sudah lama tidak punya sepasang headphone yang bagus. Headphone saya rusak dan saya terlalu malas untuk membawanya ke toko, jadi saya akhir-akhir ini rekaman ketika pacar saya Salina bekerja di siang hari. Dan di malam hari, masalahnya ruang studio saya itu…Enggak ada tembok antara ruang studio dan kamar kami, jadi saya gak bisa rekaman malam-malam.

Iklan

Album terakhirmu, Fresh Air memiliki produksi yang lebih rapi dibanding rilisan sebelumnya. Ini disengaja?
Saya merekam Midnight Snack dan Fresh Air bersama Jackson McIntosh. Ketika kami merekam Midnight Snack, itu pertama kalinya kami merekam drum machine dan synthesizer menggunakan tape machine. Jadi kami belum ngerti-ngerti banget dan hasilnya ya kayak gitu. Lebih lo-fi dan kasar. Tapi dalam pembuatan Fresh Air, kami sudah lebih paham harus melakukan apa dengan instrumen.Jadi hasilnya juga lebih bersih. Kami sangat senang dengan hasilnya.

Sebelum Homeshake, kamu bermain untuk Mac DeMarco dan akhirnya cabut karena jadwal tur yang sangat padat. Gimana caranya biar itu tidak terulang di Homeshake?
Ya, saya bosnya di sini, jadi saya tidak harus melakukan apapun yang saya tidak mau [tertawa].

Masih ngobrol atau nongkrong dengan Mac?
Kami satu SMA dulu. Kami sudah lama sekali kenal.

Apa rencana Homeshake untuk 2018? Lebih banyak tur?
Saya berusaha mengurangi tur setelah ini. Kami memiliki beberapa rencana, tapi tidak akan ada tur besar hingga ada rilisan baru. Setelah tur Asia Tenggara ini, saya akan tinggal di rumah untuk beberapa saat. Sebulan lagi, kami ada rencana memainkan enam gig di Amerika Serikat. Terus ada juga beberapa gig lain di sana sini, tapi udah itu doang.

Kamu lebih suka rekaman atau manggung live?
Saya suka rekaman. Tinggal main sekali, terus hasilnya abadi. Saya selalu lupa setiap acara yang kami mainkan. Saya hanya ingat ketika kami tampil buruk [tertawa]. Ini agak sedih sih. Gak tau deh. Jadi memang manggung live itu bukan kegiatan favorit saya. Dan saya sadar malam ini saya manggung. Dan pasti ini akan seru, tapi ini bukan tujuan utama saya bermusik.