Musik

Apa Benar Era Kejayaan Rock Star Sudah Berakhir?

Kami ngobrol dengan David Hepworth, penulis 'Uncommon People: The Rise and Fall of The Rock Stars,' tentang timbul tenggelamnya kejayaan rockstar.
22 Januari 2018, 11:16am
Arsip Nasional AS / Getty Images

Ketika rock star mencapai puncak kejayaannya pada pada 1970-an, Elvis Presley bisa seenaknya nongol di Gedung Putih, meminta bertemu Richard Nixon dan datang dengan baju berkerah raksasa. Rock star waktu itu sudah kayak dewa yang punya pengikut setia. Mereka hampir tak pernah bikin salah—atau kalaupun mereka bikin kesalahan, rock star bisa dengan seenaknya ngeles.

Sayangnya sekarang, satu-satunya musisi yang mau bertemu Presiden Amerika Serikat cuma Kid Rock dan Mike Love. Rock star hari ini enggak lagi dianggap sebagai pahlawan atau anti-hero. Mereka tak lagi bikin geger budaya populer. Jangan-jangan—kita bisa menduga—setelah rock star bisa hidup bak raja di selama beberapa saat, akhirnya ide tentang rock star perlahan mati.

Dalam buku terbarunya, Uncommon People: The Rise and Fall of The Rock Stars , David Hepworth, kritikus musik rock asal Inggris yang juga nyambi sebagai pembaca acara musik BBC Old Old Grey Whistle Test, percaya dominasi rock star akan budaya populer sudah lama lewat. Buku terbarunya merangkum cerita musisi dari tahun 1945 hingga 1995, sekaligus membedah apa yang menurutnya jadi biang keladi punahnya rock star.

“Orang biasanya berpikir dunia bergerak lebih cepat sekarang daripada sebelumnya. Menurut saya sih, anggapan ini belum tentu benar,” kata Hepworth. “John Lennon bertemu Paul McCarthy pada musim panas 1957 dan hanya dalam sepuluh tahun mereka beranjak dari sekadar pemuda tanggung berumur 14 tahun dari Liverpool menjadi jadi musisi kelas dunia. Saya pikir ini tak bisa terjadi dalam kecepatan dalam hal ini karena memang dunia sudah berbeda.”

Dari Little Richard hingga Chuck Berry sampai The Beatles, dari the Rolling Stones ke Bob Marley dan David Bowie hingga Beastie Boys dan Guns N' Roses, Hepworth membahas semua spektrum kehidupan rock star. Kami, tim Noisey, ngobrol langsung dengan Hepworth tentang banyak hal dari rock star pertama yang namanya mencuri perhatian dunia, apa arti rock star pada tahun 70-an dan 80-an atau saat ini, bertahun setelah hair metal dan hip-hop menggusur dominasi rock ‘n’ roll.

Noisey: Jadi kenapa kamu berpikir kalau rock star sudah mati?
David Hepworth: saya selalu berpikir bahwa tiap tren musik punya umurnya tersendiri. Era jazz mulai dari akhir perang dunia pertama dan kira-kira berakhir di tengah dekada 50-an. Country bisa dibilang dimulai pada akhir dekade 20-an dan berakhir pada tahun 60-an. Berakhirnya sebuah tren musik tak serta merta berarti tak ada seorangpun yang memainkan idiom musik tertentu, tapi kamu dapat banyak reputasi setelahnya. Gitar mulai berjaya pada zaman Elvis dan berkembang melewati The Beatles dan band-band seterusnya. Namun, bisa dibilang musik berbasis gitar berhenti pada tahun 90-an. Yang justru menurut menarik kita catat adalah bahwa kemunculan media sosial justru membuat menjadi seorang rock star seperti pada tahun 70-an dan 80-an hampir tak mungkin dilakukan.

Saya rasa jika ada yang berlagak seperti David Bowie atau Jimmy Page atau Robert Plant di awal 70-an, mereka akan benar-benar kesusahan. Saat ini, kita hidup zaman sangat sensitif, akibatnya rock star ini bakal menghabiskan waktunya minta maaf atas segala hal yang dulu dulu pernah kita puja dalam diri seorang rock star. Dunia memang sudah berubah. Kejayaan rock sudah lewat dan kini yang sedang jaya adalah hip-hop. Kita memang hidup di era hip-hop saat ini, namun ini juga tak akan berlangsung selamanya. Salah satu hal yang menarik bagi saya adalah bagaimana rock star digunakan sebagai sebuah metafora.

Orang kini ngomongin tentang politikus rock star, koki rock star atau pemain sepakbola rock star. Kita kini mengaplikasikan karakteristik yang dulu kita jumpai dalam diri rock star kepada orang lain yang punya tindak-tanduk serupa rock star—sembrono, punya karisma seksual, dan liar. Menurut saya, ide tentang rock star mulai muncul pada tahun 50-an lalu disempurnakan pada dekade 60-an. Di tahun 70-an, konsep rock star dibikin lebih cerdas dan njelimet. Barulah pada dekade 80-an, rock star menjadi sangat populer dan bisa dibilang runtuh karena ekspektasi yang begitu besar yang diemban rock star pada akhir 80-an dan awal 90-an.

Menurutmu siapa rock star pertama yang dikenal luas di panggung global?
Musisi dari tahun 50-an. Saat saya pertama kali menulis buku ini, empat musisi 50-an masih hidup—Chuck Berry dan Fats Domino sudah meninggalkan kita, tapi Little Richard dan Jerry Lee Lewis masih hidup. Namun, yang paling rock star dari segala rock star—ini kesimpulan yang saya temukan saat menulis buku ini—adalah Buddy Holly. Buddy Holly tak punya tampang rock star. Buddy Holly punya tampang pria biasa, seperti tetanggamu. Bedanya, Buddy Holly menulis lagunya sendiri yang berkisar tentang kisah hidupnya sendiri.

Musisi seperti Paul McCartney dan John Lennon, yang kala itu masih berusia 13 atau 14 tahun dan masih tinggal di Liverpool, melihat Buddy Holly dan percaya mereka bisa melakukan hal yang sama. kita bisa juga melakukannya. Kita bisa menulis lagu kita sendiri dan bikin band dengan teman-teman kita. Menurut saya, Buddy Holly adalah seorang musisi yang meletakkan dasar bagi generasi rock star di tahun 60-an. Rock star macam Mick Jagger dan Bob Dylan pun sangat terpengaruh oleh Buddy Holly. Mereka semua ingin menjadi seperti Buddy Holly yang mencuat namanya pada dekade 50-an dan mengubah segalanya.

Menurutmu, bagaimana terminologi rock star dijabarkan pada dekade 70-an dan 80-an?
Konsep rock star bisa dirunut kembali hingga ke zaman Elvis Presley dan Buddy Holly. Ini konsep yang sangat otentik. Rock star sebagian besar didefinisikan sebagai seorang pria, umumnya bisa main gitar, bisa menyanyi dan menulis lagu mereka sendiri yang berisi ekspresi perasaan mereka sendiri. Ada semacam kemerdekaan tersendiri dalam diri mereka yang bisa kita identifikasi. Rock star tampak tak mau tunduk pada orang lain. Mereka hidup tanpa rencana dan melakoni hidup sambil jalan. Inilah sebagian dari daya tarik terbesar mereka, yang menurutku sudah banyak berubah belakangan ini.

Bagi saya, teknologi dan semuanya bikin musisi zaman sekarang berperilaku seperti ini. Konsep atau istilah rock star sendiri baru mulai digunakan sekitar tahun 1970=an. Padahal rock star sendiri sudah ada selama 20 tahun lamanya. Lihat Elvis misalnya. Pria ini adalah seorang penyanyi crooner hillbilly tapi dia tak pernah digelari rock star. Begitu juga dengan The Beatles, tak ada yang menyebut mereka rock star pada dekade 60-an. The Beatles cuma dianggap grup pop. Konsep rock star baru ramai, saya kira, pada tengah dekade 70-an dan awalnya dilekatkan pada musisi macam Bruce Springsteen. Springsteen adalah kasus yang menarik karena dia memang menginginkan jadi rock star. Dia merasa orang lain berharap dirinya jadi rock star. Namun, rock star seperti ini tak bisa berlangsung selamanya. Saya sendiri hidup dalam era tersebut, jadi saya merasa berada di posisi yang tepat untuk menulis tentang kejayaan dan keterpurukan rock star. Saya juga merasa bahwa sangatlah penting menulis tentang keterpurukan rock star, tak cuma tentang era-era kejayaan belaka.

Dari semua rock star dalam bukumu, siapa yang bisa dibilang sebagai bocah bengal yang mengamalkan ajaran “Live Fast, Die Young” yang kerap kita lekatkan pada rock star?
Menurut saya, orang ini lebih susah mati dari yang kita kira. Keith Richard sudah menyerempet maut dari tahun 1971, tiap lihat deh, dia toh masih hidup sampai sekarang. Musisi yang saya bahas dalam buku adalah orang-orang yang benar-benar tangguh. Mereka kadang punya gen anti mati dalam diri mereka. Sekali lagi, mereka ini sudah mati. Seperti saya katakan sebelumnya adalah sebuah karunia yang luar biasa, kita bisa masih hidup bisa bersama dengan Little Richard dan Jerry Lee Lewis karenanya seharusnya mereka tak bisa hidup selama ini. Tapi, ya itu tadi, mereka begitu tangguh yang tahu betul cara bertahan hidup. Rock star paling keren yang pernah saya saksikan malah bukan rock star seperti yang orang kira. Dia adalah Bob Marley and The Wailers. Saya menonton dia manggung di London pada 1975 dan itulah adalah panggung rock terhebat dalam hidup saya. Bob Marley adalah individu paling karismatik yang pernah saya jumpai. Sayangnya, dia tak hidup lama untuk bisa meninggalkan banyak warisan. Tapi, Bob Marley bukannya mengamalkan mantra live fast, die young. Kanker mengambilnya lebih awal.

Bisa jelaskan kenapa kamu beranggapan kalau rock star adalah "orang-orang yang tak biasa"?
Rock star berasal dari orang-orang biasa. Rock star datang dari orang-orang yang normal. Justru itulah intinya jadi rock star: mereka bisa saja tetanggamu. Rock star adalah supir truk atau kawan sekolahmu atau sejenisnya. Rock star tak pernah lahir dari sekolah drama mentereng atau semacamnya. Perilakunyalah yang bikin mereka berbeda. Mereka sendirilah yang bikin diri mereka luar biasa. Begitu kamu menyusuri kisah hidup para rock star, kamu akan menemukan bahwa mereka sudah kadung jadi bintang jauh sebelum mereka naik panggung. Dulu ketika Elvis jalan-jalan di Memphis saat berusia 15 tahun, dia memancing perhatian orang. Dia lantas dipandang sebagai pemuda yang tak biasa. Hal ini jadi hal penting ketika kemudian berkarir sebagai musisi profesional. Intinya, saya cuma mau bilang kalau rock star adalah versi tak biasa dari kita-kita ini.

Menurutmu apakah band-band 1980-an seperti Van Halen dan Guns N’ Roses yang terkenal slebor dan lebay itu telah membunuh rock star?
Menurut saya sih, pada akhirnya konsep rock star jadi konyol. Bagi saya, Guns N’ Roses melakoni peran sebagai rock star atau rock band di zaman video. Guns N’ Roses kelihatan seperti versi klise dari band rock dan itulah yang dibutuhkan di zaman MTV. Saya juga merasa konsep rock star berujung menjadi sebuah ajang menertawakan diri. Lagipula, rasanya dari segi musik tak banyak yang bisa dilakukan rock star yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Itulah sebabnya kenapa hip-hop jadi raja belantika musik saat ini. Hip-hop adalah bebunyian baru, estetika baru yang berhasil memuaskan banyak orang. Sekarang sepertinya susah untuk masuk studio dan bikin album dengan memasukkan segala macam idiom rock ala Led Zeppelin yang belum dilakukan band itu pada 1972. Menurut saya, hal itu susah dilakukan saat ini.

Follow Seth Ferranti on Twitter .