Sulit untuk menilai kesuksesan seorang pelatih NBA. Jumlah kemenangan dan kekalahan jauh dari barometer yang cukup. Sukses di atas lapangan tentunya didambakan, tapi banyak juga faktor lain: perkembangan pemain, skema permainan yang sesuai dengan personnel tim, adopsi prinsip basket modern, dan sebagainya.Dalam banyak kasus, pelatuh mengimplementasi, menguatkan, dan menyetir kultur sebuah tim. Mereka dinilai berdasarkan ekspektasi, temperamen, kemampuan berkomunikasi, konsistensi dan eksekusi. Mereka adalah guru dan pemikir, dan bahkan dengan semua data yang tersedia untuk menganalisis setiap pertandingan, setiap possession, memisahkan kekuatan seorang pelatih dari talenta pemain timnya tidak mungkin dilakukan.
Iklan
Kita tahu pelatih mana yang bagus, tapi untuk meranking mereka satu di atas lainnya adalah tugas yang sangat subyektif karena tidak ada dasar yang jelas.Untuk artikel ini, kami menciptakan realita alternatif di mana 14 tim terburuk NBA sanggup nge-draft seorang kepala pelatih baru. Mari bayangkan bagaimana pelatih yang berbeda akan masuk ke situasi yang berbeda.Daftar urutan draft tim dibuat berdasarkan posisi klasemen awal Desember lalu. Dari situ, setiap organisasi memilih dari kelompok pelatih (kecuali pelatih mereka saat ini) yang pernah menjadi kepala pelatih NBA dalam 10 tahun terakhir, yang mereka inginkan sebagai pemimpin baru tim. Semua faktor diperhitungkan, dari pemilik hingga manajemen tim, hingga situasi keuangan, roster tim, dan posisi mereka di klasemen. (Gregg Popovich memang pelatih terbaik, tapi apa kamu menginginkan dia sebagai pelatih tim yang sedang membangun ulang jangka panjang?)Mari kita mulai.
1. Chicago Bulls: Brad Stevens
Foto oleh Bob DeChiara - USA TODAY SportsBrad Stevens adalah pelatih terbaik di NBA (minus Popovich). Kesuksesannya terbukti ketika membawa Boston memenangkan paling tidak lima pertandingan lebih banyak dalam empat musim pertama, dan nampaknya kembali akan mengulangi rekor yang sama (58 kemenangan akan mewujudkan ini).Dia berhasil memunculkan kelebihan pemain yang kerap dianggap sudah habis. Evan Turner masuk ke Boston sebagai pengembara NBA setelah tidak berhasil di Indiana Pacers—dianggap tidak efektif dalam penyerangan karena tidak mampu memasukkan tembakan tiga angka. Dia akhirnya keluar dengan kontrak empat tahun senilai $70 juta. Isaiah Thomas berubah dari sekedar kelas Lou Williams menjadi Nate Archibald. Jae Crowder berubah menjadi aset penukaran yang berharga. Tentunya ini semua bukan karena Stevens seorang, tapi tren ini bukan kebetulan.
Iklan
Al Horford dan Gordon Hayward meninggalkan tim bagus demi bermain untuk Stevens. Nama pelatih ini sinonim dengan kemenangan, disiplin, dan prinsip. Bayangkan dia membangun ulang Chicago, di mana ada banyak talenta muda baru dibanding ketika dia memulai karirnya di Celtics.Lauri Markkanen, Kris Dunn (yang kini mulai unjuk gigi), dan Zach LaVine bisa berpotensi menjadi trio yang mematikan. Tambahkan faktor lottery pick dan batas cap keuangan yang masih luas, Bulls bisa kembali menjadi tim yang tangguh.Banyak sekali masalah Chicago Bulls dalam beberapa tahun terakhir berhubungan dengan pemilik yang jahat dan manajemen yang hanya memikirkan pekerjaan mereka sendiri. Stevens tidak akan mampu mengubah semua kenegatifan ini seorang diri, tapi dengan pemain yang dia dapat di atas lapangan, ada kemungkinan besar dia mampu membawa keluar kemampuan terbaik mereka dibanding pelatih lain.
2. Atlanta Hawks: Erik Spoelstra
Sebetulnya tidak ada motivasi bagi Atlanta untuk menginginkan seorang pelatih baru. Mike Budenholzer juga pelatih yang bagus, dan berhasil membangun salah satu kampanye paling menawan dalam sejarah NBA baru-baru ini. Tapi dalam skenario ini, dia harus didepak. Akan menarik untuk melihat apa yang Erik Spoelstra bisa lakukan dengan roster yang tengah berada dalam proses renovasi dan memprioritaskan kesuksesan jangka panjang dibanding menjadi tim medioker sekarang.Juga akan menarik untuk melihat bagaimana Spoelstra sanggup mengembangkan kemampuan playmaking Taurean Prince dan mengembalikan posisi Kent Bazemore sebagai scorer alih-alih sebagai kreator permainan seperti yang dia lakukan sekarang.
Iklan
Apakah Atlanta akan semakin agresif? Bagaimana dengan pertahanan mereka nantinya? Tim ini sudah berhasil memaksa banyak tim lain melakukan turnover dan menggunakan pemain besar untuk melakukan double-screen lebih sering dibanding tim lain, tapi apakah Spoelstra akan semakin mempergila skema ini? Tentunya pemain Atlanta tidak memiliki kemampuan supernova yang sama di ranah pertahanan seperti Dwayne Wade dan LeBron James di puncak kejayaan Miami Heat, tapi Prince, Bazemore, John Collins, dan Dennis Schroder semuanya sanggup merusak permainan lawan ketika mereka fokus dan mengimplementasikan skema yang pas.Sesungguhnya taktik Spoelstra bukanlah alasan utama dia diperlakukan sebagai pelatih hebat. Adil atau tidak, ada rasa nyaman yang timbul ketika mengetahui pelatih kamu sudah pernah meraih gelar juara, dan tahu apa yang dibutuhkan untuk mencapai puncak, dan tidak akan panik begitu talenta roster menyamai IQ dia sendiri. Dia adalah pemimpin fenomenal dan Hawks akan berada di posisi yang ideal dengan sosoknya sebagai wajah klub.
3. Dallas Mavericks: Mike D’Antoni
Rick Carlisle telah menjalani karir satu dekade yang luar biasa dengan Mavericks. Dia telah membangun reputasi kuat dan hak untuk melatih selama mungkin dia ingin melatih. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Dallas melambat seperti siput. Beberapa dikarenakan faktor di luar kontrol Carlisle, tapi ada pemain di roster yang akan diuntungkan tanpa kehadiran mikro-manajemen.Berasumsi dia sanggup melakukan apapun yang dia mau, Mike D’Antoni merupakan obat yang ideal. Dennis Smith Jr. akan sangat cocok dimainkan dalam sistem offense spread pick-and-roll bertempo cepat yang menampilkan Nerlens Noel di posisi five, dan Harrison Barnes di posisi four.
Iklan
D’Antoni pernah melatih beberapa point guard terbaik sepanjang sejarah. Smith Jr. tentunya belum berada dalam barisan tersebut, tapi menyandingkan dia dengan seorang jenis revolusioner tentunya akan menghidupkan kembali karirnya.
4. Sacramento Kings: Jason Kidd
Foto oleh Kelley L. Cox - USA TODAY Sports
Ini adalah pilihan yang aneh (dan jelas tidak pas) untuk beberapa alasan, tapi coba dengar penjelasan saya. Sacramento masih berada di tahap awal pembangunan kembali roster yang akan memakan waktu lama. Mereka masih sangat jauh dari kualitas yang dibutuhkan untuk bisa tampil di playoff secara reguler. Mereka butuh paling tidak setengah dekade lagi.Dari sudut pandang tersebut, terburu-buru akan menjadi sebuah kesalahan, dan memastikan De’Aaron Fox menjadi pusat dari permainan tim adalah hal yang terpenting.Kidd bukanlah bagian dari 20 pelatih terbaik di NBA—biarpun mungkin ini lebih merefleksikan kualitas tinggi pelatih NBA saat ini dan bukan kekurangan dirinya—dan sistem pertahanan yang dia tanam di Milwaukee masih penuh dengan lubang yang bisa membuat manajemen klub ingin melakukan perubahan. Tapi mari coba tempatkan dia di dalam klub dengan tekanan lebih kecil dan lihat apa yang dia bisa lakukan dengan Fox.Kidd perlu diacungi jempol dalam perannya merevolusi Giannis Antetokounmpo dan tentunya tidak bisa disalahkan atas cedera lutut Jabari Parker. Ini terdengar dramatis, tapi masa depan Sacramento bisa cerah atau suram tergantung perkembangan Fox. Biarpun ada banyak nama pelatih yang lebih superior, menaruh Kidd dalam Sacramento rasanya masuk akal.
Iklan
5. Memphis Grizzlies: Tom Thubodeau
Sulit sekali memilih figur untuk tim ini, mengingat betapa carut marutnya mereka sekarang. Tapi entah Memphis masih ngotot mempertahankan gaya permainan Grit N’ Grind hingga Marc Gasol atau Mike Conley tidak bisa lagi berjalan, atau akhirnya menerima kenyataan dan membangun kembali tim dari nol, Thibodeau rasanya figur yang akan berkomitmen terhadap ideologi nyata dan menyumbang energi tanpa henti.
(Lagian susah banget untuk menghentikan pemain NBA era sekarang tanpa pemain bertubuh panjang di perimeter. Kurangnya kedalaman tim Minnesota di area sayap, ditambah beban yang ditanggung Karl-Anthony Towns sebagai jangkar pertahanan, menjelaskan kekurangan sisi defensif Timberwolves, dan bukan kesalahan Thibodeau.)6. Phoenix Suns: Luke WaltonWalton adalah kuda hitam untuk kandidat Coach of the Year. Dia berhasil meyakinkan pemain untuk memainkan peran sederhana, dan berani membangku cadangkan Luol Deng—kebijakan yang apabila tidak dilakukan dengan hati-hati, bisa merusak tim yang sedang berkembang.Suasana tim Los Angeles tentunya tidak sempurna, tapi Walton tetap saja adalah seorang komunikator yang baik, dan sanggup bersikap keras ke pemainnya tanpa merusak rasa percaya diri mereka. Dan biarpun dia pernah merasakan kemenangan di level tertinggi, baik sebagai pemain dan pelatih, Walton cukup sabar untuk melalui proses pembangunan ulang tim dengan cara yang benar, tanpa mengambil jalan pintas.
Iklan
Apabila kamu tidak memperhitungkan pemilik klub Suns, maka sesungguhnya tim ini memiliki masa depan yang cerah! Devin Booker adalah pemain hebat yang akan memenangkan gelar scorer nantinya, Josh Jackson memiliki kegigihan di kedua sisi lapangan, visi, dan fisikalitas, dan Dragan Bender (yang baru berulang tahun ke-20 tiga minggu lalu!) penuh dengan potensial yang jauh lebih besar dibanding sekedar kemampuannya untuk menembak three-point. Masuk akal untuk mempasangkan mereka dengan seorang pelatih yang bisa melatih jangka panjang.
7. Los Angeles Lakers: Steve Kerr
Talenta-talenta muda Lakers yang mengejutkan telah membuat kita lupa sejenak tentang rencana musim panas mereka yang ambisius. Walton adalah pelatih yang baik, tapi apabila kamu membawa Steve Kerr sebagai pelatih, kesempatan tim-mu untuk mendapatkan nama-nama besar macam Paul George, DeMarcus Cousins, atau LeBron James akan jauh bertambah besar.Lakers mungkin tidak akan mendapat semua pemain All-Stars itu di bulan Juli, tapi mereka akan mendapatkan paling tidak satu nama besar. Bayangkan kombinasi tersebut dengan meroketnya Brandon Ingram, assist dari Lonzo Ball yang tembakannya—hanya masalah waktu—pasti akan bertambah baik, dan resume Hall of Fame Kyle Kuzma, sudah pasti L.A bisa mempercepat proses pembangunan mereka. Menangani tim yang siap menjadi juara adalah lingkungan yang sudah biasa Kerr hadapi.
8. Los Angeles Clippers: David Fizdale
Fizdale tidak memiliki cukup waktu di Memphis untuk membangun sebuah identitas tim yang solid, tapi usahanya untuk mendorong Grizzlies masuk ke gaya permainan basket modern juga layak diacungi jempol. Fizdale seharusnya tidak dipecat dan diberikan kesempatan untuk menemani tim dalam masa-masa sulit. Clippers baru saja akan mulai masuk ke dalam masa-masa gelap, dan memilih produk kota kelahiran yang bisa membantu mereka di atas lapangan (dan kemungkinan di free agency) akan menjadi solusi yang terbaik bagi semua pihak.
9. Brooklyn Nets: Brett Brown
Foto oleh Bill Streicher-USA TODAY Sports
Dari sisi gaya, tidak banyak perbedaan antara bagaimana Nets membangun kembali tim dan apa yang Brown lakukan sebelum dia didukung oleh talenta NBA: menyerang dalam transisi dan menembak banyak tembakan tiga angka. Ini adalah gaya bermain basket yang cerdas.
Iklan
Brown dan manajer umum Nets, Sean Marks keduanya adalah bibit dari pohon San Antonio, jadi masuk akal bahwa mereka akan memiliki pemahaman yang serupa tentang bagaimana cara untuk bermain cerdas secara konsisten.
10. Charlotte Hornets: Rick Carlisle
Ketika sehat, Hornets memiliki cukup talenta untuk melawan tim-tim besar, dan biarpun dalam tiga tahun terakhir tidak ada tim lain yang dominan menyerang di half court seperti Maverick yang dilatih Carlisle (dibanding menyerang dalam transisi), menaruhnya ke tim tanpa Dirk Nowitzki di mana dia bisa fokus mengadopsi konsep bermain yang lebih kontemporer, dan mengandalkan pemain ngebut macem Kemba Walker bisa sangat menarik. Hornets memang tidak memiliki roster yang ideal, tapi Carlisle adalah seorang ahli yang bisa menemukan cara untuk mengeksploitasi mismatches di atas lapangan dengan pemain yang dimiliki.
11. Orlando Magic: Quin Snyder
Orlando tampak selalu tanpa harapan dan entah bagaimana memiliki pertahanan terburuk kedua di NBA. Tidak ada pelatih yang nampaknya akan langsung cocok dengan tim mereka, tapi akan menarik melihat taktisi berbakat seperti Snyder akan menggunakan Aaron Gordon—mungkin bereksperimen dan menempatkannya di posisi five?—dan apakah dia bisa menanamkan rasa percaya diri ke pemain seperti Mario Hezonja.Magic seharusnya memiliki penyerangan dan pertahanan yang lebih baik dari yang mereka punya sekarang, dan Snyder, dalam opini saya, adalah salah satu dari lima pelatih tercerdas di liga. Kalau ada yang bisa mengubah nasih tim Orlando, sudah pasti Snyder orangnya.
Iklan
12. Oklahoma City Thunder: Gregg Popovich.
Foto oleh Soobum Im - USA TODAY Sports
Saya sudah mengatakan ini paling tidak dua kali, tapi nih dengar lagi: Popovich adalah pelatih terbaik di NBA. Tapi mengingat prestasinya yang luar biasa, rasanya tidak masuk akal menempatkannya di tim yang belum siap untuk bersaing untuk gelar juara.Thunder memiliki cukup talenta untuk masuk ke dalam pembicaraan calon juara, tapi saat ini mereka tidak sanggup menahan diri. Meyakinkan Carmelo Anthony untuk bermain dari bangku cadangan dan menjaganya agar tidak ngambek dan bermain setengah hati adalah tugas yang sulit. Meminta timeout untuk mengkritik Russell Westbrook di depan umum karena mengambil tembakan yang bodoh daripada mengopernya ke Alex Abrines juga belum pernah dilakukan pelatih manapun.Tapi mungkin hal-hal macam inilah yang dibutuhkan Thunder saat ini. Tidak banyak orang yang memiliki pengaruh dan mutu yang cukup untuk melakukan ini. Popovich berada di puncak daftar tersebut.
13. Miami Heat: Terry Stotts
Ini sudah pasti akan jadi pergeseran kultur klub. Sistem pertahanan Stott di Portland adalah salah satu yang paling konservatif di liga, sementara Miami sangat gigih menjaga perimeter. Selain itu, Stotts juga adalah sosok yang cerdas dan layak masuk daftar ini. Dia tidak takut untuk bereksperimen dan sangat analitik. Saya tidak yakin sebetulnya seberapa cocok Stotts dengan roster Miami saat ini, tapi rasanya ada cukup talenta di sisi penyerangan (terutama dengan Kelly Olynyk di posisi five) untuk diramu olehnya.
14. New York Knicks: Stan Van Gundy
Akan seru melihat bagaimana Van Gundy memaksimalkan Kristaps Porzingis. Di setiap tim yang dia latih, dia selalu mendapat figur pemain besar tradisional (Shaquille O’Neal, Dwight Howard, dan Andre Drummon). Porzingis adalah kebalikannya, dan akan memaksa salah satu pelatih paling ekspresif ini untuk berkreasi. Knicks sudah pasti akan senang menerima Van Gundy.