Kecantikan

Suka Duka Menjadi Penyedia Jasa Waxing Bulu Kemaluan

Ada yang dikentutin, ada juga yang kena pelecehan.
Djanlissa Pringels
seperti diceritakan pada Djanlissa Pringels
15.9.20
Ilustrasi orang kentut
Ilustrasi oleh This is -Gary

“Waxing” atau mencabut bulu tidak segampang kelihatannya, apalagi kalau sudah menyangkut area intim. Alat kelamin adalah daerah sensitif yang sangat berharga bagi pemiliknya, sehingga tidak sembarangan orang dapat menjalani profesi sebagai Brazilian waxer. Melakukan kesalahan sedikit saja bisa bikin hasilnya berantakan atau bahkan menyebabkan iritasi.

Pelanggan sering bercerita pengalaman buruk mereka ketika menghilangkan rambut kemaluan. Mereka biasanya mesti waxing ulang di area tertentu karena strip (kertas pencabut bulu) menempel ke kulit. Sedangkan lainnya mengalami luka bakar atau lecet-lecet pada labia atau testis karena tidak melakukannya dengan benar.

Iklan

Saya pernah sekali memecat seorang waxer karena dia nge-high sehabis istirahat makan siang. Pelanggan komplain dia tidak becus kerja dan tak sengaja melukai vulva mereka.

Waxer profesional sekalipun ada momen-momen sialnya. Tak peduli seberapa berpengalaman kalian, terkadang pekerjaan tidak berjalan mulus. Kulit jadi gampang pecah-pecah di musim dingin karena lebih kering dan kasar, terutama pada kulit sekitar penis yang kendur dan lembut. Banyak juga pelanggan yang bikin kepala pusing. Mereka baru pertama kali waxing, jadi tidak tahu seberapa sakit rasanya. Beberapa minta udahan, padahal belum rapi. Perempuan juga harus ekstra hati-hati sebelum menstruasi, karena mereka jadi lebih sensitif dan rasa sakitnya semakin tak tertahankan.

Bisa dibilang, profesi ini penuh dengan cobaan. Kalian tak jarang berurusan dengan hal-hal menjijikkan. Saya pernah menemukan bekas kotoran menempel di bulu bokong pelanggan, jadi saya pelan-pelan mengelapnya dengan kain.

Di lain waktu, pelanggan memperingatkan perutnya agak kembung sehabis mengajar yoga. Dia tidak bisa berhenti buang gas begitu waxing-nya dimulai. Bete dikentutin terus, saya menyuruhnya ke kamar mandi sampai perut enakan. Begitu juga ketika melayani pelanggan bertubuh besar. Saya sesekali menekan perutnya dengan siku biar bisa mencabut bulu di sekitar bagian yang ketutupan perut.

Menangani pelanggan lelaki tetap menjadi tugas terberat. Mereka suka ngaceng saat bulunya dicabut. Beberapa waxer curhat ke saya kalau pelanggan mereka ejakulasi di tengah waxing. Saya beruntung tidak pernah mengalami itu, tapi pernah diajak kencan sama seorang lelaki yang tidak bisa mengendalikan nafsu. Saya menyiasati tipe pelanggan seperti ini dengan mencabut strip lebih keras dari biasanya.

Iklan

Karena alasan inilah mantan pacar kurang setuju saya menangani pelanggan laki-laki. Dia benci memikirkan saya memegang penis orang lain. Ketika akhirnya saya mencoba nge-wax mantan, dia nangis dan jerit-jerit minta berhenti. Kapok tidak mau di-wax lagi.

Terlepas dari semua itu, saya amat mencintai pekerjaan ini. Saya senang menuruti selera pelanggan yang sangat beragam, dari landing strip (rambut kemaluan dibentuk seperti garis kecil vertikal), segitiga sampai botak. Pesanannya makin unik dan menarik ketika hari Valentine. Ada saja pelanggan yang minta dibikinkan pola hati dan rambutnya dicat merah. Terkadang kami menghiasnya dengan manik-manik supaya makin cakep.

Bagian terbaik dari pekerjaan ini yaitu waxer memiliki hubungan yang sangat erat dengan pelanggannya. Setiap bulan mereka membutuhkan bantuanku, dan saya mengetahui rahasia terdalam mereka yang mungkin tidak diketahui orang lain.


*Penulis minta dirahasiakan namanya untuk melindungi privasi pelanggan.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Belanda