Lima Merek Streetwear Ini Diprediksi Akan Jadi Penerus Supreme
Foto dari arsip i-D Magazine.

Lima Merek Streetwear Ini Diprediksi Akan Jadi Penerus Supreme

Mumpung belum meroket harganya, enggak ada salahnya bagi kalian menjajalnya sebelum keduluan hypebeasts lainnya.
12.3.18

Artikel ini pertama kali tayang di i-D

Obsesi industri fesyen pada merk-merk streetwear potensial selalu meningkat setiap tahun. Contoh paling nyata adalah Supreme. Merek ini berubah dari dulunya merek wajib-punya bagi kalangan pegiat skateboard, menjadi sensasi fesyen global. Enggak mudah mendapatkan barang-barang keluaran terbaru Supreme. Antara terus-terusan refresh website mereka sebelum akhirnya crash, atau nunggu produknya di toko resmi yang antreannya mengular. Apes-apes ya beli dari penimbun yang menjual lebih mahal tiga kali lipat. Supreme adalah streetwear paling aneh karena basis penggemarnya sangat fanatik, atau irasional.


Baca juga alasan merek Supreme bisa jadi cult banget:

Tapi sekarang, rasanya mustahil menganggap Supreme sebagai label streetwear biasa. Terutama setelah Supreme bermitra dengan label-label fesyen papan atas macam Louis Vuitton untuk menciptakan produk-produk yang merupakan mimpi basah kalangan hypebeast. Meski Supreme masih menjadi rajanya steetwear keren, berita bagusnya mulai bermunculan generasi baru merk-merk streetwear di skala internasional. Desainer-desainer muda ini di balik merek-merek berikut enggak sekadar bikin kaos, hoodie, atau jaket bagus buat diupload ke Instagram. Kelima merek ini menurut redaksi i-D ke depan bakal memaksa Supreme harus berusaha lebih keras menampilkan koleksi keren demi mempertahankan tahtanya di pasar streetwear.

Minus Two

Merek asal London, Minus Two, baru meluncurkan produk-produknya pada akhir 2017. Tapi mereka sudah mempunyai fan base yang, meski kecil, sangat berdedikasi. Brand ini digagas oleh Terence Sambo, editor fesyen PAUSE magazine. Merek ini baru merilis koleksi yang terbilang kecil, tapi interpretasi mereka soal pakaian-pakaian preppy pokok seperti denim, sweatshirt berkerah bundar, dan denim mendatangkan respons antusias. Setiap pakaian memiliki sisi subversifnya sendiri dari karakter streetwear klasik; Minus Two mengapropriasi ikonografi agama, membubuhkan slogan-slogan prvokatif seperti “lust will bring us together,” hingga menampilkan slogan tadi lewat sebuah lookbook yang queer. Kombinasi identitas itu mengukuhkan merek ini sebagai label streetwear bagi setiap anak yang pernah merasa seperti outsider.

Doubt

Doubt, digagas Marine Cuq dan Antoine Caillet. Brand ini juga mengambil posisi outsider saat menciptakan streetwear yang digilai banyak orang. Merek ini, berasal dari Brodeaux, Prancis, secara apik menyatukan tren motorsport dan tren athleisure dengan standar normcore dan jukstaposisi kitsch di subkultur Internet. Namun, yang lebih menarik dari Doubt adalah pesona yang ditampilkan lookbook dan video-video mereka. Doubt menampilkan model-model yang akan membuat Demna Gvasalia bangga dan estetika yang mirip dengan Tim & Eric. Kalau kamu membutuhkan bukti lebih bawa merk ini akan terkenal dalam waktu dekat, mereka juga baru saja menjadikan majalah Baron sebagai stokist digital label ini.

Holiday

Kalau kamu bertanya-tanya apa rahasia dibalik larisnya produk-produk Holiday dan kenapa fansnya yang segudang? Jawabannya sebetulnya cukup sederhana: Brockhampton. Merk ini dimulai oleh Nick Lenzini, anggota kolektif hip-hop yang populer tersebut. Lenzini sebelumnya sempat membuat merek Stay Broke. Koleksinya menawarkan referensi subtil pada Off-White dan Gucci dengan produk-produk edisi terbatas yang terlihat seperti t-shirt dan sweater vintage dengan logo khasnya di bagian atas, selain kaus-kaus berslogan. Meski ada banyak hal soal merk ini yang bikin kita naksir, bagian paling menyakitkan adalah fakta bahwa kita akan hampir selalu kehabisan tiap tertarik sama kaos atau jaket mereka.

Sputnik 1985

Andai Vetements dan Gosha Rubchinskiy punya anak, maka buah hatinya adalah Sputnik 1985. Merek berbasis Moskow, Rusia ini mendapatkan inspirasinya dari budaya anak muda Rusia dan ingatan-ingatan soal era 90'an yang penuh guncangan. Sputnik 1985 membubuhkan frasa-frasa puitis dan eliptis yang ditulis dengan aksara Cyrillic, seperti “I will always be against,” dan “No chances.” ke produk-produknya. Sputnik 1985 dengan lihai menggabungkan semua tren streetwear terbaru, menciptakan sesuatu yang sepenuhnya terasa baru, menambahkan bahan-bahan dan warna-warna yang tak terduga. Rincian subtil di kaos atau jaket mereka meningkatkan kualitas produk Sputnik 1985 ke level high fashion. Selain itu, ketelitian tersebut memamerkan kemampua desainer Sputnik 1985 merumuskan secara tepat apa yang diinginkan anak-anak zaman sekarang.

Chapter 5

Desainer Vell Beck sejak lama menjadi bintang di kalangan pegiat street style; dia rutin difoto dan diwawancara atas rangkaian produknya yang superlatif terdiri dari campuran merk-merkpaling keren. Jadi apa sih yang lebih baik ketimbang laki-laki yang mengenakan pakaian terbaik untuk mengubah dan merancang pakaian-pakaian yang jauh lebih chic? Dengan merknya, Chapter 5, Vell berhasil melakukan hal tersebut, perlahan dan dengan penuh perhatian mengeksekusi visinya untuk merk-merk streetwear masa depan. Hal yang mulanya adalah merk sneakers yang bekerja sama dengan Vans ini telah berubah menjadi merk yang menjual kaus faux vintage dan track pants. Dan tawarannya yang terbaru: tas selempang yang sangat mungil dan jaket corduroy yang terinspirasi militer dengan banyak banget kantong. Mungkin kalian bakal kebingungan kantong sebanyak itu mau diisi apaan, tapi yang pasti kalian akan terlihat keren banget.