kelas atas

Saya Merasa Goblok Karena Mau Makan di Restoran Elit yang Satu Menunya Seharga Rp5 Juta

Bagaimana rasanya santapan seharga $400? Semanis penyesalan dan selezat perang antar kelas sosial.
Syarafina  Vidyadhana
Diterjemahkan oleh Syarafina Vidyadhana
9.4.18
Foto oleh penulis

Sejak sembilan puluh hari sebelum saya makan di Alo, mahalnya sudah terasa. Saya perlu memesan meja tiga bulan sebelumnya dan itupun saya cuma dapat slot pada pukul 9 malam di hari Selasa. Selain itu, saya perlu menyisihkan $50 untuk deposit (tidak dapat dikembalikan); situsweb restoran menjelaskan bahwa deposit ini akan membantu memastikan “pengalaman menyeluruh” pengunjung dan bisa digunakan untuk membayar tagihan.

Iklan

Alo, berlokasi di tengah kota Toronto, dianggap sebagai salah satu restoran terbaik di Kanada. Menu mereka yang musiman dan terinspirasi Prancis itu telah memenangkan sejumlah pujian dan penghargaan. Pengulas menyebut restoran ini sebagai benteng pertahanan bagi santapan mewah, dan makanan serta suasananya sebagai ekstravaganza kuliner.

Saya memesan meja di Alo untuk membuat pacar saya terkesan. Pada salah satu kencan pertama kami, saya bertanya pada Sarah sebuah pertanyaan khas pendekatan—apa yang selalu ingin kamu coba?—dan dia menyebut restoran ini. Seorang kawannya, seingat saya seorang produser, baru-baru ini mengunjungi Alo dan mengunggah foto-foto pengalamannya ke Instagram. Sarah bilang restoran ini tampak seperti mimpi. Dia berkelakar soal amuse-bouche dan saya pura-pura paham. Saat Sarah ke kamar kecil, saya menulis catatan di ponsel: kalau kencan ini sukses, bawa dia ke Alo.

Pada saat saya memesan meja di Alo, hubungan kami sudah jalan enam bulan. Kalau saya boleh jujur, saya tidak pernah benar-benar nyaman dengan hubungan kami. Sarah lebih tua beberapa tahun dari saya, dengan karir yang jauh lebih sukses dari saya. Dia telah menerbitkan karya-karya dan namanya terekam di IMDB. Dia biasanya rapat sambil minum koktail atau “power lunch.” Sementara, janji temu kreatif yang saya hadiri terakhir kali berlokasi di Taco Bell.

Saya selalu mengagumi kesuksesan Sarah, dan kesuksesannya adalah salah satu alasan saya tertarik padanya. Tapi, pencapaiannya membuatnya berteman dengan kalangan elit. Orang-orang yang punya opini tentang wine. Orang-orang yang jadi bintang tamu di sitkom-sitkom. Orang-orang yang pergi ke brunch. Kawan dan koleganya selalu baik pada saya, tapi terkadang bercengkrama dengan mereka membuat saya merasa seperti tiga bocah yang mengenakan satu jas. Saya bisa bergabung di meja orang dewasa tapi hanya selama tidak ada yang terlalu mengamati saya.

Foto oleh penulis

Saya mengompensasi perasaan itu dengan banyak cara. Terkadang caranya positif. Saya mencoba menyusulnya dengan mencari pekerjaan lepasan yang lebih baik, memasak makanan yang lebih enak, dan mencuci sprei saya secara rutin. Saya meyakinkan diri bahwa supaya hubungan ini berhasil, saya perlu menyesuaikan diri. Kali ini, penyesuaiannya berbentuk sebuah meja di restoran yang satu santapannya lebih mahal daripada uang sewa apartemen pertama saya.

Rencana awal saya adalah menjadikan makan malam ini sebagai kejutan. Sebuah kado ulang tahun untuknya dan saya senang membayangkan masuk ke restoran paling top di negeri ini dengan kasual saja, seakan-akan bukan hal penting. Tapi karena saya tidak mahir menunda kenikmatan, saya mengirimkan pacar saya surel konfirmasi sesaat setelah saya menerimanya. Sarah girang luar biasa. Seharian penuh dia bertanya soal bagaimana saya bisa dapat meja dan membagi anekdot-anekdot soal menu makanan restoran itu. Saya tahu ini adalah langkah tepat.

Iklan

Selama beberapa bulan selanjutnya, Sarah mengantisipasi makan malam kami dengan membaca-baca ulasan soal Alo. Dia membaca artikel-artikel soal juru masak di sana dan memandangi foto-foto restorannya di internet. Saat kumpul bareng kawan-kawannya, dia menceritakan soal rencana makan malam kami. Orang-orang menanggapinya seakan-akan makan di Alo adalah sebuah pencapaian—mengangguk-angguk dan mengucapkan selamat atas pengalaman yang tak akan terlupakan.

Meski saya menghabiskan bertahun-tahun bekerja di restoran, saya tidak pernah benar-benar paham daya tarik fine dining. Rasanya asing saja, seperti bukan untuk saya. Tapi ya, antusiasme Sarah menular juga pada saya. Pada suatu siang saat bermalas-malasan di kantor saya membaca laman restoran tersebut di Yelp. Para pengunjung menggunakan kata-kata seperti divine, exciting, dan innovative. Mereka menjanjikan santapan terbaik dalam hidup saya. Saya percaya.

Setiap beberapa hari Sarah dan saya akan bertukar infromasi soal Alo. Eh, katanya kita bisa milih warna serbet kita lho! Aku dengar daging di sana berumur 60 hari! Terus masa ada tiga ronde penutup! Saat malam yang ditunggu-tunggu tiba, rasanya kami seakan telah melakukan segalanya di Alo, kecuali, tentu saja, makan di sana.

Alo berlokasi di lantai tiga gedung bergaya Victoria pada bagian ujung selatan pecinan Toronto. Kalau kamu enggak mencari tahu terlebih dahulu, kamu enggak akan ngeh. Satu-satunya tanda restoran ini adalah papan metal di samping pintu masuk. Saat saya dan Sarah masuk ke lobi, seorang penyambut tamu berdiri di samping elevator berwarna biru. Kami bilang padanya, kami sudah pesan meja. Dia tersenyum memamerkan gigi putihnya yang tertata, lalu menyapa kami dengan nama depan. “Graham, Sarah, selamat datang! Kami senang sekali kalian bisa bergabung!” Saya menyikut Sarah pelan. Kami naik elevator dan memasuki restorannya. Dekorasi di Alo minimalis dan modern, seperti realisasi katalog Crate & Barrel (IKEA buat orang yang mikir). Rasanya seperti berada di lokasi syuting.

Iklan

Seorang pegawai mengantar kami ke sebuah meja. Kami duduk dan saya kegirangan saat ditawari berbagai warna serbet. Saya memilih warna biru, Sarah memilih warna ungu, dan kami memesan minum. Saya memandang ke seberang meja dan bersyukur bahwa saya berkencan di sini dengan dia. Lalu ponsel Sarah berdering. Urusan kantor; ada keputusan mendesak yang tidak bisa ditunda. Dia meminta maaf lalu permisi keluar untuk melanjutkan telepon. Alih-alih mainan ponsel saya memutuskan untuk mengamati orang-orang sekitar. Saya ingin mengamati ruangan ini.

Pasangan di samping kanan saya mengenakan dress shirt yang telah disetrika licin, dia menggulung bagian lengan sampai siku. Mereka mengenakan celana chino mahal dan sepatu mengkilat. Mereka bercakap-cakap sementara pramusaji membawakan santapan mereka selanjutnya: roti. Setiap ulasan yang saya baca menyatakan bahwa roti ini merupakan salah satu bagian terbaik dari santapan. Rotinya dibuat sendiri oleh juru masak dan disuguhkan dengan madu yang juga hasil panen sendiri. Pramusaji itu kemudian menjelaskan santapan tersebut secara merinci. Saya kagum. Pertunjukan itu membuat saya semakin kepengin roti.

Selama penjelasan pramusaji, pasangan itu tidak acuh. Penjelasannya dianggap sebagai gangguan dan mereka mengabaikannya sampai dia pergi. Setelah itu, mereka mengambil roti dan mulai membicarakan soal jet lag. Saya benci sikap mereka yang santai. Apa mereka sadar sedang di mana? Ini kan Alo!

Iklan

Saya menggeser pandangan dan melihat seorang perempuan dengan balutan busana high fashion. Dia mengenakan terusan hitam. Topi mungil. Saya tersenyum ke arahnya, mencoba mengekspresikan sesuatu dengan wajah saya. Kita lagi di Alo, lho! Coba tengok piring di hadapanmu! Itu daging sapi tua! Kok kamu gak bersemangat? Lalu dia… tidak menanggapi.

Saya menyadari bahwa warna hitam jins saya berbeda dengan warna hitam jas saya. Jas yang saya kenakan kebesaran, sudah lapuk dan pudar. Saya menyadari bahwa sepatu saya—sejenis lars yang dulu saya pakai kalau ke acara punk—lecet di bagian kanan. Saya jadi sangat sadar bahwa saya tidak punya opini soal jet lag. Saya tidak bisa membayangkan dunia di mana jet lag adalah gangguan besar. Kedua tangan saya mulai berkeringat. Kerongkongan saya kering. Semua orang di sini sangat santai. Tidak ada yang terlampau girang atau gembira, mungkin mereka tidak girang dan gembira. Saya merasa tidak pas di sini.

Saat saya masih kecil, Bapak mengalami depresi dan terbaring di ranjang selama hampir setahun. Dia merasa kewalahan, sehingga tidak bisa bangun. Dia kehilangan pekerjaannya, yang kemudian memperparah penyakitnya, dan berimbas pada keluarga kami. Ibu mulai mengambil kelas malam, mencoba mengasah keterampilannya sambil menafkahi empat anaknya dengan upah guru. Kami tidak pergi liburan selama beberapa tahun. Rumah kami digadaikan. Kami tidak pernah jatuh miskin, tapi kami sering makan malam hanya dengan pasta murahan.

Iklan

Meski Bapak akhirnya pulih, saya tidak pernah lupa betapa mudah hidup kita kehilangan. Kegelisahan finansial, dalam bentuk apapun, tak pernah benar-benar hilang. Kegelisahan macam ini membuatmu mempertanyakan apa yang kamu bisa dan tak bisa miliki dalam hidup. Saya memang tergolong kelas menengah, tapi saya tetap khawatir soal uang. Saya takut kecenderungan depresi saya akan membuat saya kehilangan pekerjaan. Saya khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi dan saya tak lagi bisa menafkahi orang-orang yang saya sayangi. Kalau saya kepikiran soal masa pensiun, kulit saya gatal-gatal.

Malam ini saya bisa bayar tagihan restoran, dengan upah satu bulan penuh, tapi bisa kok. Tapi, memandang sekeliling restoran saya tersadar bahwa saya tidak mampu untuk ini semua. Bukan perkara saya punya atau tidak punya uangnya. Intinya saya tidak mampu.

Sarah kembali ke meja kami, meminta maaf lagi, dan menggenggam tangan saya. Seorang pramusaji tiba di meja kami dengan minuman dan santapan pertama. Saya menelan ludah saat melihat koktail yang disajikan dan mencoba tenang. Meski saya berada di ruangan penuh orang songong, meski saya merasa seperti rambut yang tumbuh ke dalam, saya di sini bersama pacar saya. Kami mau makan. Itu, kan, hal yang paling penting?

Pramusaji itu menyajikan kotak-kotak mungil ke piring kami. Foie gras, hati angsa, dimasak dengan empat resep berbeda dan disajikan dengan sentuhan artisanal. Foie gras ini tampak lezat. Saya ambil satu kotak—ukurannya sebesar dadu—lalu menggigitnya, mencoba meresapi rasanya.

Iklan

Rasanya… asing? Saya tidak pernah mengecap rasa seperti itu. Mirip mentega dan sereal. Saya tidak doyan. Saya mengambil kotak selanjutnya dan memasukannya ke dalam mulut, berharap kali ini lebih enak. Ternyata tidak. Kotak ini menempel di langit-langit mulut seperti marshmallow yang terbuat dari kecap. Saya cepat-cepat menelannya dan memandang ke seberang meja. Sarah terlihat gembira. Dia bertanya pendapat saya. “Mantap,” saya bilang padanya, lalu menghitung di kepala. Kalau seluruh santapan ini memakan $125 per orang (belum termasuk pajak dan tip), dua kotak yang barusan saya telan masing-masing seharga lima dolar AS.

foto milik Alo

Setelah itu, saya terus-menerus berharap dibuat terkesan. Pramusaji tiba dengan santapan berbeda. Dia akan menjelaskan makanan itu dengan sikap yang menghibur dan profesional. Sarah akan menyantap makanan itu, meresapi kerumitannya, dan menikmatinya. Saya ikut-ikutan saja tapi makanan ini terasa terlalu asing buat lidah saya sampai-sampai saya kehabisan kata-kata untuk menjelaskan mengapa saya tidak menikmatinya. Ini mungkin karya Jackson Pollock versi kuliner. Saya paham betul ini seharusnya menjadi hal yang mewah, tapi saya tidak cukup mewah untuk memahaminya. Lameque Oyster dengan Pomme Puree? Rasanya… kayak air asin. St Canut Pork Belly terlalu berlemak. Wine yang kami minum terlalu asam atau… mirip anggur? Serius, kayak jus anggur. Setengah santapan ini saya sudah malas. Saya merasa tolol dan miskin lalu permisi ke kamar kecil.

Beranjak dari kursi saya tersadar bahwa Alo sudah lebih lengang. Pasangan jet lag sudah pergi dan perempuan dengan topi mungil tak lagi keliahatan. Namun, kalaupun hanya ada saya dan Sarah di restoran ini, rasanya tetap tidak nyaman. Restoran ini kebagusan. Ketajiran. Berlebihan deh. Tapi saya sangat kepengin merasa nyaman. Saya ingin menjadi seseorang yang bisa memahami rasa-rasa dalam wine dan menikmati foie gras. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa berbaur di kalangan fashionista dan foodies. Saya ingin bisa menikmati santapan ini meskipun saya tidak doyan. Tapi saya hanya bisa berpura-pura.

Sebagian besar kecemasan ini adalah buatan saya sendiri. Dengan latar belakang saya, saya tak berhak mendaku pejuang kelas. Saya tidak punya utang dan hal-hal yang saya rasakan boleh jadi sisa-sisa kecemasan masa remaja. Meski demikian, bukan berarti kecemasan saya tidak sah. Kalau saya memberitahu orang-orang bahwa saya cocok makan di Alo, mungkin mereka akan percaya. Tapi saya tidak.

Saya berjalan kembali ke meja saya, dua ronde penutup sedang disajikan. Apple Yeast dan Caramelized Whey, lalu Coconut White Chocolate dan Yogurt. Saya menyantap itu semua dalam dua suap saja, buru-buru menelannya sebelum saya sempat berpikir dan merasa-rasa. Rasanya okelah. Tagihan segera datang dan saya memandanginya lekat-lekat. Dengan tip dan segala macam pajak, totalnya adalah $400. Saya mengeluarkan kartu kredit dan mata Sarah berbinar. “Ini malam yang istimewa,” ujarnya. “Makasih ya, Sayang.”

“Ya,” balas saya. “Aku juga senang kok.”