Cara Yaeji Membuka Jalan Menuju Musik Dance Introspektif dan Melodius
Yaeji mengenakan jumper MSGM. Kaos Marc Jacob.
Musik

Cara Yaeji Membuka Jalan Menuju Musik Dance Introspektif dan Melodius

Musisi Korsel yang masih 24 tahun itu menghasilkan karya yang sanggup melampaui bahasa dan problem identitas selama tinggal di AS. Simak wawancara khusus bareng Yaeji di sini.
19.3.18

Artikel ini pertama kali tayang di The Radical Issue, Edisi 351 Musim Semi 2018

Kathy Yaeji Lee sedang duduk di meja kamarnya dulu, di pinggiran Ibu Kota Seoul, saat kami meneleponnya. Keluarganya sering berpindah-pindah. Yaeji lahir di New York, lalu tinggal di Atlanta. Lalu keluarganya pindah ke Cina, sempat singgah di Jepang, sebelum mereka akhirnya kembali menetap di Korea Selatan. Lewat cermin di hadapannya, Yaeji bisa melihat boneka-boneka dan pernak-perniknya semasa kecil dulu. Sekolah seni di Kota Pittsburgh membawa remaja pemalu ini kembali ke Amerika Serikat, enam tahun lalu. Di masa itu, dia ikut mengelola stasiun radio kampusnya, dari sana dia menemukan minatnya pada musik elektronik underground, sebelum akhirnya kembali ke New York dan menetap di Brooklyn.

Iklan

Selama di New York, Yaeji sepenuhnya membenamkan diri di kancah klab, pergi ke acara-acara sendirian, hingga berkenalan dengan teman baru di lantai dansa. Dia menemukan orang-orang yang mirip dengannya, kancahnya. Berkat musik elektronik, Yaeji menemukan dirinya sendiri. Dia mulai memberanikan diri nge-DJ dan memproduseri komposisi buatannya sendiri. “Menemukan musik rasanya sangat tiba-tiba, seperti jatuh cinta dengan orang baru setelah kamu mencintai orang lain selama berdekade-dekade,” ujarnya. “Rasanya geregetan.”

Dua EP, satu seri set Boiler Room yang mendapat sambutan positif, serta sebuah nominasi BBC Sound of 2018 mengantarkan Yaeji menjadi salah satu musisi paling seru di kancah elektronik dunia saat ini. Berkat Yaeji pula, kancah elektronik mengubah persepsi terhadap musisi Asia. Dia menggabungkan pakem house dan techno, sekaligus menciptakan sensibilitas yang benar-benar menyerupai mimpi lewat musik-musiknya. Vokal Yaeji—yang terkadang tampil lewat nanyian, sesekali rap—selalu disampaikan setengah berbisik. “Saya merasa saya berdiri di antara dua dunia, di mana masih ada tendensi underground, namun lebih mudah akrab bagi orang-orang yang tidak biasanya mendengarkan musik underground aneh,” ujarnya. “Ini adalah posisi yang amat keren di mana saya bisa menyampaikan ide-ide keren pada orang-orang yang tidak terbiasa.”

Sorotan dari EP2 yang rilis tahun lalu adalah cover lagu Drake “Passionfruit,” lalu ada lagu hazy “Drink I’m Sippin’ On,” dan yang paling populer “Raingurl.” Untuk lagu yang terakhir, sudah ada videonya, yang direkam di sebuah gudang lokal. Yaeji menelepon teman-temannya untuk bantu memproduksi dan menyutradarai, dan tampil di sampingnya. Lampu-lampu neon, dry ice, dan joget-joget gaya bebas, dia menganggap upaya kolaborasi sebagai pencapaiannya yang paling membuatnya bangga sejauh ini.

Yaeji menghabiskan sebulan terakhir di South Korea menghadiri wawancara dan acara-acara di seluruh Asia dan sesekali menengok keluarganya. Tahun ini, kakeknya yang berusia 85 tahun ikut serta menyaksikan penampilannya di Tokyo. Terang saja, Yaeji merasa dirinya berbeda saat dia di Korea. “Saya merasa semua orang punya versi mereka sendiri dari di mana mereka akan pulang dan memasang suatu karakter atau wajah tertentu,” ujarnya. “Untuk waktu lumayan lama, saya sempat merasa harus menyembunyikan tindikan di hidung dan tato-tato saya dari orangtua saya. Semua itu adalah hal-hal yang tak akan dipahami orang tua. Tahulah, karena saya harus tampil seperti anak baik-baik.”

Iklan

Kunjungan-kunjungan ke musium adalah bagian besar dari masa kecil Yaeji berkat ibunya, dan sebuah pameran oleh seniman Korea Do Ho Suh adalah yang paling berkesan. Seniman ini mengkonstruksikan ruang-ruang dan gedung-gedung arsitektur dari bahan mesh. Ya, ngena banget lah. “Karena saya lagi di Korea sekarang, banyak hal soal New York yang saya rindukan. Jadi saya merasa rumah saya ya di apartemen saya di Brooklyn. Tapi saat saya di New York dan orang-orang bertanya asal usul saya, saya selalu bilang Korea.”

Konsep mengenang kampung halaman dan identitas budaya yang membingungkan meresap ke dalam musik Yaeji. “Setiap kali saya menulis lagu, unsur-unsur ini sangat menonjol dalam musik saya,” katanya. “Saya menceritakan apa yang saya alami setiap harinya.” Dengan merangkul budaya Asia-Amerikanya dan mengatasi perasaan “berbeda”, kepercayaan dirinya meningkat dan ini terpancar melalui musiknya dan gaya hidupnya. Melalui musiknya yang mencampurkan dua bahasa, seperti perempuan Korea-Amerika lainnya, dia dengan bangga mengagungkan dua warisan budaya yang berbeda — dan dia sangat keren saat melakukannya.

Yaeji menganggap semua genre musik sebagai bagian dari kesenian secara lebih luas. Ia juga membanggakan apartemennya di Brooklyn, yang dia ubah menjadi studio kreatif untuk seniman manapun tapi tetap nyaman ditinggali. Di apartemen tersebut, dia tinggal bersama empat pengrajin keramik, seorang seniman grafiti, dan dua anjing Chihuahua. Dia juga memiliki beberapa tanaman di apartemennya. Rumah bersama tersebut tadinya digunakan sebagai tempat untuk menjauhkan Yaeji dari musik, agar dia bisa lebih berkonsentrasi pada seni visual yang dia kerjakan. Namun, tiap sedang bengong di apartemen, Yaeji pasti membuat beat atau menghasilkan musik baru lewat perangkat lunak Ableton lewat laptopnya.

Iklan

“Cara kerja saya tuh awalnya berantakan, lalu bertambah banyak dan terakhir menyempurnakannya; menghilangkan dan menambahkan sesuatu secara selektif.” Dia menjelaskan bahwa jika kita bekerja tanpa arah, maka kita akan kesulitan menentukan kapan tujuan akan tercapai. “Kerjaan bisa jadi sangat emosional, subjektif dan tergantung suasana hati. Prosesnya sangat berubah-ubah.”

Yaeji mungkin mulai dikenal di dunia, tetapi warga Korea memberikan perhatian khusus untuknya. “Saya mendapatkan banyak apresiasi, tapi ini menjadi tekanan tersendiri bagiku,” katanya. “Saya tidak mau membuat orang kecewa, entah karena saya memang begini orangnya atau ada pengaruh budaya. Saya ingin mereka bangga denganku.” Salah satu alasan Yaeji bernyanyi dalam bahasa Korea yaitu agar musiknya terasa lebih pribadi dan rahasia. Rasanya sangat surreal apabila dia manggung di Korea, dan penggemar paham liriknya dan menyanyikan lagu itu bersamanya. “Rasanya aneh, tapi menakjubkan. Saya menjadikan ini sebagai pertimbangan saat menulis lirik lagu. Saya harus sadar kalau saya punya penggemar yang memahami apa yang saya ucapkan.”

Setiap kali Yaeji pulang ke Korea, dia memerhatikan bahwa klub-klub dan DJ di Korea semakin berkembang pesat. Dia sempat berbincang-bincang dengan beberapa musisi lain dan dia kepikiran untuk menjalankan misi mengembangkan skena musik di sana, menciptakan budaya underground New York di Asia.

“Saya merasa sangat terinspirasi. Saya sangat senang dan beruntung bisa turut membantu mengembangkan budaya di kampung halaman,” katanya. “Saya sempat ngobrol sama perempuan di Jepang tentang kancah elektrobik di Brooklyn yang suportif dan aman, terutama bagi komunitas POC dan LGBTQI. Di Jepang sih masih ada yang seperti itu, tapi di Korea sama sekali tidak ada. Saya harap bisa memperkenalkan orang ke satu sama lain, memberi saran, dan menciptakan perubahan sedikit demi sedikit. Saya harap suatu hari nanti saya bisa tinggal di Korea lagi… dan membawa semua perubahan positif tersebut.”