Kondisi Manusia Yang Kabur Dari Kekuasaan ISIS
Fotografi

Kondisi Manusia Yang Kabur Dari Kekuasaan ISIS

Kontributor VICE memotret situasi di kamp pengungsi wilayah utara Irak.
29.6.17

Pada 2016, dilaporkan bila 65,5 juta manusia terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka akibat bencana sosial. Pemicunya mulai dari perang, kemiskinan, persekusi atas dasar agama atau ras, hingga kelaparan akut. Angka ini mengerikan, sebab artinya 1 dari 100 penduduk dunia dipaksa pergi dari rumah mereka, terdampar di penampungan, akibat faktor-faktor mengerikan di atas.

Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) merupakan salah satu biang kerok yang menciptakan arus pengungsi terbesar sepanjang sejarah dua tahun terakhir. Militan ISIS menciptakan kekacauan di setiap kota yang mereka duduki. Teroris yang mengimpikan khilafah Islamiyah itu membantai lelaki dewasa, memerkosa perempuan dan anak-anak, sehingga memaksa jutaan orang kabur ke luar negeri. Akhir tahun ini, dominasi ISIS tampaknya akan segera berakhir. Setidaknya di Irak. Militer Irak sebentar lagi berhasil merebut Kota Mosul, wilayah yang diklaim ISIS sebagai ibu kota mereka selain Raqqa di Suriah, sejak 2014.

Iklan

Pria asal Selandia Baru, Malcolm Johnstone, tiba di dekat garis depan Irak pada awal Mei lalu. Dia ke sana sebagai analis untuk Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR). Johnstone selalu membawa kamera selama bekerja, membantu 230.000 warga sipil Irak yang kini terdampar di penampungan sisi utara negara tersebut. Jepretan Johnstone menangkap situasi keseharian terutama di Kamp Qayyarah, yang dihuni oleh 48 ribu orang.

Penghuni Kamp Qayyarah adalah warga etnis Kurdi yang terusir dari Mosul dan kota-kota sekitarnya ketika pasukan ISIS datang empat tahun lalu. Mereka bertaruh nyawa untuk kabur dari cengkeraman militan. Orang-orang Kurdi, dulu dianggap pemberontak oleh rezim penguasa Irak, merupakan salah satu musuh utama militan khilafah.

Saat UNHCR resmi datang membantu mereka, Johnstone merekam pembicaraan dengan seorang petani yang bertahan di kamp tersebut. "Dia bilang, belum pernah merasakan kebahagiaan seperti itu sejak masa kecilnya."

Johnstone pernah bekerja sebagai aktivis kemanusiaan untuk membantu pengungsi di Nigeria yang kabur dari teror Boko Haram. Berbeda dari situasi Nigeria yang masih suram, Johnstone mengaku kali ini cukup optimis akan ada perubahan fundamental pada masa depan pengungsi Kurdi yang terjebak di pengungsian. ISIS hampir pasti kalah dan terpojok di Suriah.

"Saya berharap, perkembangan terbaru ini akan mempersatukan semua warga Irak. Semoga mereka bersedia membicarakan pendirian Negara Kurdistan secara damai, dan bisa membangun negara baru itu nantinya didukung komunitas internasional."