FYI.

This story is over 5 years old.

dokumenter

Kisah Sanggar Balet Anak di Favela Brasil: Menari Sambil Menghindari Desingan Peluru

Presiden baru Brasil, Jair Bolsonaro, mendukung pelonggaran jual beli senjata api. Anak-anak tak berdosa, seperti para pelajar balet di kawasan kumuh Rio de Janeiro, terancam kebijakan ngawur macam itu.
Anak-anak anggota sanggar tari balet Na Ponta dos Pés​ berlatih di pinggiran Rio de Janeiro.
Foto oleh Frederick Bernas 

Ada jutaan anak-anak di seluruh dunia yang bermimpi menjadi penari—entah itu menari hip hop modern, salsa, kecak, gambyong, maupun balet. Sebagian memperoleh kesempatan belajar menari, sebagian besar harus mengubur impiannya. Mungkin karena tidak ada waktu, biaya, tabu kebudayaan, akses pada sekolah menari, atau puluhan alasan lain yang masuk akal.

Risiko terjebak dalam baku tembak seharusnya tidak muncul di daftar alasan kenapa anak-anak tidak bisa menari. Sayangnya, ancaman kekerasan bersenjata merupakan bahaya yang sangat nyata bagi Tuany Nascimento dan murid-muridnya di proyek Na Ponta dos Pés (“Jinjitan”) di Complexo do Alemão, favela (alias kawasan kumuh) di bagian utara Kota Rio de Janeiro, brasil.

Iklan

Saat merekam film dokumenter VICE Ballet and Bullets: Dancing Out of the Favela, kru kami mengalami langsung realita tersebut di sebuah lapangan olahraga komplek perumahan Morro do Adeus. Itu lokasi penari-penari anak ini tinggal. Sembari Tuany melakukan pemanasan bersama murid-muridnya, melakukan peregangan, dan siap-siap berlatih, tiba-tiba saja hujan tembakan menyela kelas mereka.

Kami semua panik. Kami tidak tahu sama sekali suara tembakan datang dari mana, tapi yang jelas dekat. Kami semua mencari perlindungan. Untungnya, tidak ada dari kelompok kami yang terluka. Kekacauannya berhenti beberapa detik kemudian, tetapi ada seorang anak laki-laki kecil dan satu orang dewasa yang tertembak peluru menyasar di dekat tempat latihan balet. Bocah lelaki malang yang tewas tersebut sedang menonton latihan balet dari atap gedung sebelah sembari dia menerbangkan layang-layangnya.

Morro do Adeus terletak di tengah konflik yang tak kunjung henti antara geng-geng perdagangan narkoba yang berebut kendali akan daerah-daerah berbeda di Alemão—sebuah jaringan komunitas dengan populasi sebesar 120.000 orang. Razia polisi hanya meningkatkan ketegangan di favela.


Tonton dokumenter VICE saat mendatangi sanggar tari balet yang rentan dilewati desingan peluru di Brasil:


Situasi mengerikan yang kami tangkap di kamera hanya merupakan bagian kecil dari yang dialami perempuan-perempuan berani ini setiap hari. Sebagian besar dari mereka sudah kehilangan teman-teman atau seseorang yang mereka cintai; pada malam-malam tertentu, adu senjata api berlangsung selama berjam-jam. Tangisan ketakutan mereka sulit terlupakan, begitu pula perasaan bingung yang kami alami sesaat setelah meninggalkan favela dan kembali ke tempat aman.

Iklan

Sejarah tragis Rio telah terdokumentasi dengan baik. Sepanjang 2017, pemerintah mencatat 6.590 orang dibunuh di Rio (total ada 64.000 orang tewas akibat pembunuhan di seluruh Brasil, angka itu enam kali lebih tinggi daripada AS). Makanya aplikasi mobile menawarkan data peta yang di-crowdsource dan diupdate rutin buat membantu penggunanya menghindari daerah-daerah rawan kekerasan populer di Brasil.

Mengingat situasi ekonomi Brasil yang beberapa tahun terakhir terus merosot, pemerintahan lokal di Rio terus membutuhkan dana talangan dari pusat. Ketika dana talangan ciut, pemkot mengurangi gaji petugas kepolisian. Akibatnya kerja aparat tidak maksimal, dan pada akhirnya menyebabkan naiknya tingkat kekerasan. Satu-satunya aparat yang masih melaksanakan operasi rutin di favela adalah militer, tepatnya Angkatan Darat Brasil. Tapi keberadaan militer juga tidak memadai untuk meredam kekerasan bersenjata antar geng.

Kekacauan di Brasil mencerminkan kondisi politik terkini. Pada 28 Oktober lalu, mantan kapten angkatan darat Jair Bolsonaro memenangkan pemilihan presiden. Dia meraup 55 persen suara setelah menjalankan kampanye yang amat mengkhawatirkan. Reputasinya sebagai anggota kongres ultra kanan menegaskan dukungan rakyat Brasil xenofobia, homofobia, rasisme, dan seksisme.

Bolsonaro sejak lama dikenal sebagai pengagum rezim otoriter Amerika Latin, macam Augusto Pinochet di Cile. Dia juga secara terbuka ingin mengembalikan kediktatoran seperti yang pernah terjadi di Brasil selama kurun 1964-1985. Bolsonaro mengajukan ideologi populis yang mendukung ide untuk melawan kekerasan dengan melonggarkan hukum-hukum kepemilikan senjata api dan memberi kebebasan pada kepolisian untuk menembak sebelum memahami situasi. Media lokal menyebutnya Donald Trump versi Brasil.

Iklan
1541075620385-_J9A7805

Tuany Nascimento

"Menurut saya warga akan lebih aman kalau tiap orang mempunyai senjata api di rumah,” katanya pada 2017. Setelahnya Bolsonaro berjanji “tidak akan ada uang untuk NGO" jika dia memenangkan pemilihan presiden. Calon presiden ini mengulangi ucapan tersebut bulan ini melontarkan janji "menghentikan segala bentuk aktivisme di Brasil." Kebijakan itu pertanda yang buruk bagi warga-warga favela di Brasil, sebab yayasan-yayasan komunitas mempunyai tradisi layanan sosial yang kuat—termasuk menolak dan mengadvokasi pemerintah untuk mengatasi kekerasan bersenjata.

Saat hasil pemilihan diumumkan, angkatan darat melaksanakan parade di jalanan Niteroi, kota tetangga Rio de Janeiro. Perbukitan Complexo do Alemão bergema dengan suara-suara yang keras sembari petugas kepolisian menembak peluru ke arah langit merayakan kemenangan Bolsonaro.

Di tengah polarisasi politik, demokrasi Brasil yang rapuh dan diracuni korupsi sedang menghadapi krisis terparahnya. Lebih parah lagi, Bolsonaro mendukung secara terbuka kekerasan otoriter dibandingkan demokrasi. "Kamu tidak bisa mengubah apapun dengan pemilihan,” kata Bolsonaro

pada 1999. "Sayangnya, kamu hanya bisa menimbulkan perubahan dengan perang sipil dan dengan melakukan apa yang tidak dilakukan rezim militer… yaitu membunuh. Kalau ada beberapa orang tak bersalah meninggal, ya itu tidak apa-apa."

Kini Bolsonaro mulai menguasai birokrasi. Kita tidak tahu, kebijakan macam apa yang akan dia hadirkan di 100 hari pertama. Di tengah keputusasaan kelompok progresif Brasil —maupun dunia secara umum—perjuangan bocah perempuan penuh inspirasi yang menggunakan tarian balet demi menghadirkan harapan hidup yang lebih baik dan mendorong perubahan, tentu harus kami ceritakan.

Iklan
1541075516306-ballerinas

Tuany Nascimento dan murid-muridnya di sanggar Na Ponta dos Pés.

Adanya rencana pengamanan publik yang lebih agresif oleh Bolsonaro akan mengancam ballerina asuhan Tuany. Mereka perlu mencari tempat yang aman dan yang jauh dari lapangan olahraga yang digunakan buat latihan sekarang.

Untungnya mereka sudah hampir berhasil: mereka telah memperoleh bantuan tanah yang sudah mulai dikembangkan. Warga telah berjanji membantu dengan menyediakan tenaga kerja dan bahan bangunan, tetapi mereka masih memerlukan dorongan terakhir untuk dukungan.

Kita berharap film ini membantu membangkitkan niat yang baru agar gedung latihan sanggar Na Ponta dos Pés bisa menjadi kenyataan.


Pembuat film ini telah membuat halaman JustGiving untuk menerima sumbangan untuk Na Ponta dos Pés. Klik disini untuk berdonasi

Dokumenter 'Ballet and Bullets: Dancing Out of the Favela' diproduksi dengan dukungan Pulitzer Center on Crisis Reporting.

@frederickbernas / @rayanhindi