kultur media sosial

Internet Mengubah Kebiasaan Belanjaku Jadi Sebuah Obsesi

Dari mana sebenarnya nafsu belanja itu muncul? Apa perlu riset untuk menjawab pertanyaan itu? Atau kamu sudah tahu jawabnya, bahwa internet lah biang kerok candu konsumtif itu
Lauren O'Neill
London, GB
Apa yang membuatmu selalu bernafsu belanja?
Foto VICE

Kamu baru diputusin, kamu kesel seharian di kantor, kamu lagi mens, kamu ketinggalan bus. Pokoknya kamu bete, dan karena itu kamu terdorong untuk meraih ponsel dan membuka aplikasi belanja. Kamu menambahkan cardigan ke keranjang digitalmu. “Belanja itu terapi,” kamu ucapkan, sambil memilih sebuah syal. Aku sudah menyaksikan anak-anak generasi sekarang habis uangnya sebelum gajian karena mereka terlanjur gila-gilaan di situs Glossier.

Iklan

Selama teknologi terus berevolusi, kita terus mendapat cara-cara yang baru untuk mengeluarkan duit. Sebelum ada internet, kamu harus tunggu sampai hari Sabtu untuk bisa ke toko atau baca katalog – tapi sekarang, semua ada di ponselmu 24 jam.

Minggu lalu, sebuah laporan yang diterbitkan oleh peneliti mengusulkan bahwa ada hubungan langsung antara penggunaan internet dan gangguan kesehatan mental tertentu, salah satunya adiksi atau obsesi belanja. Peneliti-peneliti ini merupakan anggota dari Jaringan Penelitian Penggunaan Internet Problematis Eropa, dan telah menganjurkan penelitian yang lebih dalam untuk masalah ini. Konsultan National Health Service di Inggris dan kepala jaringan tersebut Naomi Fineberg menyatakan “Baru sekarang kami mulai memahami fenomena ini.”

Jelas bahwa jaringan tersebut memiliki agenda tertentu – untuk mengingatkan kita bahwa internet ada bahayanya — dan masih ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan.

Banyak orang, termasuk aku, harus mengurus impuls konsumeris. Membeli sesuatu sebagai hadiah untuk dirimu sendiri habis gajian jelas berbeda dengan menghabiskan jutaan Rupiah per bulan akibat kebosanan, harga diri rendah, dan materialisme. Belanja – seperti banyak hal adiktif lainnya – dari dulu dianggap sebagai cara untuk merawat diri, tetapi adanya internet telah mempersulit masalah ini ( 68 persen dari pengguna internet di EU telah belanja online tahun lalu).

Iklan

Bagaimana kenyamanan internet mendorong obsesi seseorang berbelanja online? Aku sempat ngobrol dengan beberapa maniak belanja untuk tahu lebih banyak.

INSTAGRAM MEMBOMBARDIR KITA

Semua postingan aspiratif di Instagram memang dimaksudkan untuk memancing konsumen berbelanja. Ini merupakan cara yang efektif bagi si penjual. Penjual memperhatikan tren-tren di Instagram, lalu memproduksi barang-barang tersebut secara massal – ASOS, Missguided, Pretty Little Thing, In The Style, dan Miss Pap – belum lagi situs dan aplikasi penjual barang bekas, seperti eBay dan Depop, di mana kamu bisa mengorbankan tagihan listrik satu bulan demi sepasang joggers bekas orang.

Emily, 24 tahun, hobi belanja baju online, percaya bahwa “memilih dan membeli baju membuatmu merasa lebih PD dengan identitasmu. Ini bisa membuat aku tenang kalau lagi bete.” Dia memanfaatkan shopping sebagai “penyangga saat aku merasa sedih,” karena belanja dapat “meringankan pikiran-pikiran negatif yang ada di benak.”

Menariknya, dia juga menjelaskan bagaimana detox dari medsos – terutama Instagram – telah mempengaruhi kebiasaannya: “Aku kaget melihat nafsu belanja aku turun. Aku kadang masih pengin beli barang, tapi enggak separah dulu. Karena aku memang suka fesyen, aku mengikuti banyak blogger fesyen, jadi aku terus-terusan melihat ‘inspirasi’.”

APLIKASI BELANJA TERLALU MUDAH DIGUNAKAN

Kalau aku merasa gelisah, aku selalu maunya ke supermarket. Aku suka nuansanya yang penuh kesederhanaan dan keseragaman: lampu yang cerah, keceriaan yang hambar. Semua barang di situ ada tempatnya. Aplikasi-aplikasi belanja merupakan versi digital dari ketenangan yang dihasilkan dari jalan-jalan di dalam supermarket.

App seperti ASOS, Urban Outfitters, dan Topshop sangat rapi dan mudah dinavigasi. Desain yang sederhana membedakan app-app ini dari desain yang berat dan rame di app-app seperti Facebook dan Twitter. ( The Economist mengutip Sean Parker, presiden pendiri Facebook, yang mengatakan bahwa platform ini dapat berfungsi dengan cara “mengeksploitasi kelemahan psikologis manusia.”) Situs-situs medsos memang bisa menyebabkan kegelisahan, sedangkan aplikasi-aplikasi belanja rupanya bisa membawa ketenangan bagi si pengguna; untuk menikmati sendiri semua pesona diri lewat baju dan sepatu yang sedang kamu cari-cari. Rasa damai juga timbul ketika kamu sedang asik scrolling pilihan koleksi fesyen yang tersusun rapi di situs.

Iklan

Hayley*, 29 tahun, setuju. Dia percaya bahwa aplikasi belanja berusaha untuk meniru app-app sosial yang desainnya sederhana, seperti Instagram dan Tumblr. “Seperti aku berinteraksi dengan Tumblr dan Instagram secara estetika, buat aku aplikasi belanja itu sama. Rasanya ramah,” ujarnya. “Di ASOS kamu bisa ‘like’ barang untuk menyimpannya, jadi aku nge- like barang-barang tertentu seperti aku nge- like postingan di medsos.”

Baik Emily dan Hayley mengatakan bahwa seringkali yang bikin mereka ketagihan bukanlah proses belanjanya sendiri (Emily pernah ngomong “Kadang nih, proses belanjanya sendiri bikin aku stress akibat perasaan bersalah menghambur-hamburkan uang.), melainkan pengalaman saat mereka menggunakan aplikasinya. Ini menggambarkan bagaimana kita menyerap informasi di era modern sekaligus juga cara ajaib kita berusaha mencari ketenteraman.

SERBUAN PROMO DAN REWARD TANPA HENTI

Hayo ngaku aja deh, siapa di antara kalian yang sering ngubrak-ngabrik internet cuma buat dapat kode diskon khusus dari toko online terentu? Atau siapa dari kalian yang berani bilang kalau kalian bisa bersikap biasa saja, alias enggak kalap, setelah dapat email bahwa kalian dapat promo diskon satu aplikasi belanja atau semacamnya dan langsung meluncur ke website mereka untuk ngecek harga celana trainer yang sudah diincar dua bulan lamanya?

Aplikasi belanja seringkali membombardir penggunanya dengan reward deals, loyalty point dan potongan harga. Kalian semua pasti sudah paham betul kalau yang namanya “deals” adalah senjata andalan aplikasi belanja untuk memancing pengguna menghabiskan lebih banyak uang. Namun, serangan deal ini makin kejam belakangan setelah internet bisa dengan bebas mengirim email-email promo deal ke inbox kita, memampangnya di iklan yang diarahkan pada kita selagi internetan atau membuka sosial media. Ujung-ujungnya, kita belanja juga deh. Biasanya kita berdalih dan mengaku menggunakan deal-deal tersebut sebagai bentuk penghematan. Padahal kita tahu itu bohong belaka.

Iklan

RAYUAN FITUR 'BELI SEKARANG BAYAR NANTI'

Belakangan ini muncul setan baru yang bikin kita terus belanja. Namanya manis banget: fitur “Beli Sekarang Bayar Nanti.” Sepintas tak ada yang salah dengan fitur yang biasanya digunakan untuk pembelian dalam skala kecil ini. Namun, menurut sebuah artikel yang baru-baru ini tayang di Financial Times fitur ini cuma akal-akalan "makelar utang yang menulis ulang retorika utang dalam era Instagram.”

Gratifikasi instan dari belanja jelas jadi daya tarik utama dari kegiatan ini. Dan meski selalu ada delay dalam proses pembelian online, sebelumnya kita bisa berhenti belanja bila isi angka rekening sudah mengkhawatirkan atau kita tidak punya kartu kredit. Sekarang, kondisinya sudah berubah, terutama sejak munculnya aplikasi utang berbasis jaringan.

Matt. 24 tahun, menceritakan pengalamannya menggunakan Klarna, sebuah aplikasi utang berbasis jaringan dari Swedia, ketika membeli barang jauh-jauh hari sebelum gajian: “Ujung-ujungnya saya menggunakan Klarna pas mau checkout dari online shop. Saya memilih Klarna karena bunganya nihil dan ingin mencoba fitur “coba sekarang, bayar nanti. Kayaknya, kalau mereka membebankan bunga atau biaya sedikit saja, saya pasti males menggunakanya. Tapi, lewat fitur macam ini, aku jadi bisa ngeles ke diri sendiri dengan bilang ‘aku beli baju buat bulan depan kok, cuma barangnya datang sekarang.’”

Mereka yang sudah menggunakan Klarna membeberkan bagaimana mereka jadi kecanduan layanan Klarna dan susah berhenti. “Aku sampai mati-matian mencoba berhenti beli baju baru. Aku kurang becus mengatur keuangan dan aku khawatir kalau terlalu sering menggunakan layanan ini, Klarna akan menghabiskan gaji bulananku. Jadi, untuk menggunakan Klarna lagi, aku sekarang perlu alasan yang kuat. Kan percuma kalau gaji setiap bulan habis duluan sebelum bahkan masuk ke bank.”

*Nama telah diubah