Philip Ponk berada di Jakarta Utara dalam program Rated One Star Converse
Semua foto oleh Jason Wuysang.
Advertorial

Definisi Seni Membebaskan ala Philip Ponk

Sebagai seniman grafis bermukim di Jakarta, Phillip Ponk kerap merasa kreativitasnya terbatasi. Usai menciptakan 'Ponka', barulah dia menemukan saluran liarnya yang jadi desain skate hingga sepatu.
16.10.18

Bicara soal seni memang tak pernah mudah. Setidaknya terlampau banyak wacana dan perdebatan tak berujung yang terjadi pada ranah seni. Namun bagi Philip Ponk, seni adalah seni yang membebaskan siapapun. Seni menjadi pembebas jiwa dari berbagai bentuk kungkungan. Lewat lini Ponka yang dibuatnya sejak beberapa tahun lalu, Philip mencoba meredefinisi apa itu seni, melewati batasan seni jalanan dan seni yang mapan.

1539668261849-DSC05070_WEB_SIZED

Bagi Philip konsep anti-hero adalah terus menerus berkreasi tanpa harus dibatasi oleh apapun. Tak heran karya seni yang dituangkan Philip terkesan sederhana, lugas, dengan sentuhan garis tegas dan warna-warni berani. Meski sederhana, namun justru hal tersebut yang membuatnya menarik.

Philip membuktikan bahwa seni hanya membutuhkan imajinasi tanpa butuh segala sesuatu yang ribet. Imajinasi bagi Philip adalah kunci. Tak heran jika medium tak pernah jadi batasan Philip dalam berkarya. Karya Philip, berupa karakter bernama Ponka terpajang di berbagai produk seperti kaos kaki, papan skate, sampai helm.

1539668458014-DSC05054_WEB_SIZED

"Gue enggak bisa liat kertas kosong dan spidol. Enggak bisa dipisahin lebih tepatnya," kata Philip. "Kalau dulu katanya penambang emas bawa benda keberuntungan buat dapetin emas, kalau buat gue kertas dan spidol itu benda keberuntungan. Emas menurut gue ya berupa karya, dari kosong sampai ada wujudnya diatas kertas."

1539668283421-DSC05007_WEB_SIZED

Philip, yang juga bekerja sebagai desainer grafis, adalah seniman yang sempat berkolaborasi dengan Converse dalam kampanye Rated One Star. Dalam kampanye tersebut, Philip akhirnya menemukan dunianya: kebebasan dalam berkreasi sebebasnya. Dalam karyanya, Philip mengaku tidak suka keteraturan, namun yang terpenting adalah tetap konsisten.

1539668305990-DSC05216_WEB_SIZED

"Karena gue benci dan enggak suka dengan anatomi, gue jadi menciptakan karakter sendiri yang dikasih nama Ponka. Karena gue yakin sih kalau gambar yang konsisten itu pasti long-last dan akan gampang diingat orang," kata Philip.


Artikel ini adalah wawancara mini yang masuk dalam seri Anti Hero dari Converse Indonesia