Artikel ini pertama kali tayang di i-D.Dean sekarang tak bisa keluyuran di jalanan Korea Selatan tanpa dikerubungi penggemar. Beneran, dia segitu terkenalnya. Ikon K-Pop berusia 25 tahun ini sengaja menghindari jalur popularitas seperti sejawatnya di kancah pop Negeri Ginseng, memilih menciptakan rute karirnya sendiri.
Bagi orang yang tidak akrab dengan industri pop Korsel, sebetulnya wajar kalau kalian tak mengenali Dean. Tapi mustahil bila kamu mengabaikan besarnya Dean. Karirnya sedang bersinar terang di kampung halaman, tiket konser tur dunia Dean ludes hanya dalam tiga menit, dan dia telah berkolaborasi dengan Anderson .Paak dan Syd. Percayalah, kita akan sering mendengar nama Dean disebut-sebut di media massa beberapa waktu mendatang.
“Di kampung halaman, saya enggak bisa jadi anonim,” ujarnya saat kami ngobrol di belakang panggung Clockenflap Music Festival, Hong Kong. Topi pancingnya menutupi kedua matanya. “Terlalu banyak orang yang mengenali saya. Tapi saya senang jadi manusia bebas dan keluyuran di kota-kota yang saya kunjungi. Saat saya keluar negeri, saya bisa melakukannya.”
Pelarian seperti itu tidaklah mudah. Buktinya, saat Dean tampil debut di Koko, London, awal tahun ini, tiketnya ludes dalam tiga menit dan dia sudah diburu ratusan orang. “Penggemar saya di sana mengenali dan menyapa saya,” ujarnya, namun dia masih rendah hati terlepas dari histeria penggemarnya. “Saya kaget sih bahwa orang-orang bisa mengenali saya di luar Korea!”
Iklan
Bintang yang bernama asli Kwong Hyuk ini meminjam nama belakang idolanya, aktor legendaris Hollywood James Dean, sebagai nama panggung. Kulitnya pucat, bahkan hampir transparan, dengan garis dagu yang tajam seakan dapat membelah berlian. Tak mengejutkan, deretan depan konser-konsernya dipenuhi remaja perempuan yang mengelu-elukan namanya. Di Clockenflap, seorang penggemar hadir dengan tanda neon buatan tangan sebagai pernyataan cintanya pada sang idola. Tetap saja, kata Dean, dia jarang gugup sebelum naik panggung. Dia menghadapi segalanya, termasuk wawancara kami, dengan sikap yang cool dan kalem abis.
Mungkin dia baru membuat musiknya sendiri selama beberapa tahun terakhir, tapi Dean telah berkecimpung dalam bisnis ini selama satu dekade belakangan. Untuk kali pertama, Dean mendapatkan perhatian masyarakat saat usianya 16 tahun, saat masih bergabung dengan rapper Keith Ape yang juga warga Korea Selatan. Dua tahun kemudian, karir poponya dimulai sebagai penulis lagu dengan moniker Deanfluenza. Saat usianya 20 tahun, dia menulis lagu-lagu bersama penulis lirik Justin Bieber. Semua kesuksesan tadi telah dia raih sebelum Dean merilis materi sendiri."Sejak kecil, saya selalu mendengarkan musik,” ujarnya, “namun pikiran saya adalah, ‘Pengin deh melakukan ini secara profesional suatu saat nanti.’”
Dean bukan tipe orang yang meromantisir cita-citanya: “Buat saya ini lebih dari sekadar takdir. Musik adalah hal yang paling saya cintai dalam hidup—itulah alasan sesungguhnya saya meniti jalur ini.”
Iklan
Musik Dean terdengar seperti perpaduan memesona antara Bieber pasca-renaisans dan Usher: sebuah kombinasi rap serius dan falseto mencolok yang kawin dan menghasilkan suara yang sulit digolongkan. Dean, yang akhir-akhir ini perpindah-pindah antara pop dan R&B, Bahasa Korea dan Bahasa Inggris, seakan tak ingin ditetapkan dan berupaya dikenang sebagai suara yang khas.
Saya penasaran betapa riuh hidupnya: menghabiskan sebagian besar waktu di negara-negara asing, tampil di panggung lalu menulis lagu, dan masih punya waktu untuk istirahat. Dari skala 1 hingga 10, saya bertanya, seberapa seru hidupnya? “Kalau kamu cuma ngomongin soal yang saya rasakan—ya paling cuma 1,” ujarnya, “itu karena musik baru yang saya kerjakan bener-bener bikin stres!”
Untuk seorang bintang pop dari label besar, jawabannya tentu mengejutkan. “Minggu lalu tuh naik turun banget. Musik saya yang baru jauh lebih eksperimental, jadi saya melalui banyak trial dan error.”Kata eksperimental tentu berarti hal berbeda-beda bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, itu artinya menyelam ke dalam lanskap suara yang segar dan belum terjamah sebelumnya. Sebagian lainnya menggunakan istilah tersebut di level yang personal: keluar dari zona aman untuk mencoba hal baru. Kita belum mendengarnya, tapi tampaknya album Dean selanjutnya berurusan dengan hal-hal baru. “Baru-baru ini, saya mendengarkan banyak musik band lama, dan rasanya sulit karena saya mencoba memadukannya dengan suara R&B biasa,” ujarnya. Terus, apa yang dia dengarkan kalau lagi iseng? Musisi Kanada Daniel Caesar dan PartyNextDoor, dan Londoner Tom Misch dari Soulection.
Iklan
“Kalau saya membuat musik yang sama terus menerus, mungkin rasanya enggak sesulit sekarang,” ujar Dean yang berencana mengubah imej dan musiknya. “Yang saya coba lakukan sekarang adalah tidak stuck di ciri khas musik saya sendiri. Akhir-akhir ini saya sering menyangkal fakta kalau saya melakukan hal yang mirip berulang kali. Itulah kenapa minggu ini hidup saya serunya cuma 1 dari 10!”Dia jarang bernostalgia, dan menyukai gagasan melangkah maju ketimbang memandang kembali pada hal-hal yang membuatnya terkenal. EP debutnya, 130 Mood: TRBL yang asik banget, menerima banyak pujian kritikus dan kesuksesan di chart, tapi sudah tak dia dengarkan lagi selama pengerjaan album panjang pertamanya ini. Album yang seharusnya bisa menjadikannya bintang pop mainstream di luar kategori K-Pop. “EP ini bagus sih, tapi rasanya seperti saya melewatkan sesuatu.” Dia memeriksa kembali, seakan-akan tak memedulikan kesuksesannya. “Ya tentu EP ini bermakna besar bagi saya. Cuma, saya enggak mendengarkan musik lama saya. Tapi saya peduli dengan bagaimana orang-orang menafsirkan bahasa artistik saya.”Tahun 2018 membawa janji besar dan perkembangan untuk karir Dean. Dia berkesempatan memenangkan hati audiens dunia dengan albumnya. Jika terjadi, hidupnya akan berubah lebih drastis lagi. Tapi, dia tak terlalu cemas soal pendapat penggemarnya. “Tentu, saya enggak bisa menyenangkan hati semua orang. Saya mencoba fokus pada perasaan saya sendiri karena saya tahu ada banyak orang di luar sana yang merasakan hal yang sama.”Dia berhenti sejenak, lalu tersenyum dari balik topi pancingnya. “Selama saya mengekspresikan diri dengan jujur,” ujarnya, “saya tahu orang-orang akan merespons!”