Kuliner

Yuk Kenalan Sama Apicius, Hipster Kuliner Pertama di Dunia

Kelakuan Marcus Gavius Apicius bakal membuat semua hipster tukang makan masa kini terlihat amatiran. Oh iya, Si Apicius ini brengsek orangnya.
Yuk Kenalan Sama Apicius, Hipster Kuliner Pertama di Dunia
Sumber ilustrasi jual beli makanan di pasar Romawi kuno dari Wikimedia Commons.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

Manusia berpredikat hipster kuliner ngehe—anak haram ribuan blog/akun YouTube kuliner amatir—yang selalu terobsesi sama segala hal yang baru, ganjil atau wah dalam masakan, sering dianggap fenomena kekinian. Ciri-ciri mereka adalah kecanduan posting di instragram, merekam makanan yang jarang atau tak pernah dimakan orang lain, serta membubuhi captionnya pakai tagar #foodie. Mereka juga demen memberi dakwaan terhadap cara makan/minum orang lain. "Idih, makan steak kok well done", atau "kopi beneran tuh bukan kopi jagung sob", terus mereka juga suka menggunakan istilah-istilah asing saat menjabarkan cara memasak.

Iklan

Padahal fenomena maraknya kaum snob kuliner bukan hasil dari merebaknya internet. Malah, hipster kuliner sudah ada sejak era Imperium Romawi, di awal masehi. Nama hipster kuliner pertama dalam sejarah itu adalah Marcus Gavius Apicius. Sebagai seorang yang memiliki kecintaan berlebih pada segala yang mewah dan bisa disantap, Marcus Gavius Apicius termasuk anggota masyarakat kelas atas Romawi. Hidup Marcus bergelimang kekayaan. Sebagai salah satu anggota elit Kekaisaran Romawi, Apicius mengabdi sebagai penasehat kuliner Kaisar Tiberius. Marcus memasak dan duduk dalam jamuan makan malam bersama petinggi Romawi. Predikat hipster kuliner pantas disematkan pada pria ini karena Apicius diduga—informasi ini masih diperdebatkan sejarawan—sebagai penyusun buku resep masakan pertama di dunia. Judul bukunya Apicius. Buku itu terbagi dalam sepuluh bab, membahas tuntas segala hal tentang protein, sayur mayur, sampai santapan pencuci mulut. Bahkan hal-hal macam pembukuan dan berkebun ikut ditulisnya. Buku resep Apicius juga menjadi karya tertulis paling awal mencatat pencapaian kuliner penting pada masanya, seperti cara bikin soufflé yang maknyus.

1509706642007-apaa

Tentu saja, klaim Apicius sebagai pelopor hipster kuliner bukan cuma gara-gara dia bikin buku resep pertama. Apicius dikenal gemar menggelar jamuan makan malam mewah semasa hidupnya. Saat mayoritas populasi Kota Roma kala itu hanya sanggup makan pottage—air rebusan gandum dan jemawut berasa gambar yang kadang ditambahi irisan daging ikan atau jeroan—Apicius berani menyuguhkan menu makan malam mewah dari berbagai bahan eksotis. Misalnya: bakaran daging unggas, kerang-kerangan, seafood, hingga macam-macam daging dari negara yang jauh. Tak hanya itu, Apicius konon menolak makan atau menyajikan makan yang biasa dimakan penduduk kelas bawah. Pernah suatu kali, dia menyakinkan Drusus—anak kaisar Tiberius—agar berhenti mengonsumsi bagian atas kubis dan kecambah. Alasannya, menurut Apicius, kedua bahan makanan itu "terlalu biasa." Maka kemudian tak aneh bila dapur hipster kuliner pertama ini penuh bahan makanan unik. Mulai dari hati angsa yang diberi makan buah ara, baso daging lumba-lumba, kakak tua rebus, burung unta panggang, rahim induk babi, serta dengkil unta.

Iklan
1509706725061-ayam

Ayam Isi, salah satu resep di buku Apicius. Foto dari akun Flickr vintagedept.

Hebatnya lagi, berbagai bahan makanan ini bukan sekadar eksotis tapi juga diseleksi ketat. Apicius rela melakukan apa saja demi mendapatkan bahan masakan yang belum pernah dia cicipi. Suatu hari, setelah mendengar ada varian udang yang lezat banget di pesisir Libya, Apicius menyewa kapal, mengumpulkan awak, dan segera berlayar ke sana. Sang hiptser kuliner pertama ini ingin membeli udang dan melihat udang itu dengan mata kepalanya sendiri. Begitu seorang nelayan Libya datang ke kapalnya dan menyuguhkan udang hasil tangkapannya, Apicius langsung memutuskan pulang ke rumah. Alasannya? Udang pantai Libya tak memenuhi standar seleranya. Mantap! Selain reputasi sebagai penulis buku resep pertama di dunia, hubungan dekatnya dengan petinggi Imperium Romawi, dan kegemaran menggelar pesta makan malam jor-joran, jangan lupa pula kalau Apicius punya persedian sestertii—mata uang Romawi—yang melimpah. Dengan semua modal tersebut, layak jika kita mengira kancah kuliner Imperium Romawi bakal terus dikangkangi Apicius sepanjang hidupnya. Sayang, takdir Apicius tak berakhir indah.

1509706809336-pomegranate

Kira-kira ginilah jamuan makan era Romawi dulu. Reka ulang oleh British Museum.

Setelah bertahun-tahun menggelar jamuan makan mewah, Apicius akhirnya sadar—terhitung telat sih—kalau hartanya nyaris terkuras. Uangnya habis gara-gara obsesi menyantap panganan eksotis.

Sebenarnya, sisa uang yang dimiliki Apicius masih cukup dipakai untuk hidup sedikit di atas garis kemiskinan. Tapi, dasarnya kadung snob, Apicius tak mau menghabiskan hidup melahap makanan "mainstream" yang disantap rakyat jelata. Alhasil, dia memutuskan menggelar pesta toga dan menghabiskan semua kekayaaan untuk menggelar makan malam paling mewah pernah dia gelar. Gala dinner modern kalangan jetset Eropa masa kini kalau dibandingkan sama pestanya Apicius rasanya lebih mirip piknik anak SD.

Setelah pesta gila-gilaan itu, Apicius mengakhiri hidupnya menenggak racun. Bukan karena dia takut bakal menghabiskan hidupnya dalam miskin, tapi lebih karena dia takut mati kelaparan (dan terpaksa menyantap makanan rakyat jelata)! Lewat dah semua hipster kuliner kekinian!