Awalnya saya tak ada niat untuk menyantap Tasak Telu. Ketika tiba di kota Medan, Sumatera Utara Oktober lalu, saya yakin akan menghabiskan hari-hari mencicipi masakan khas berbahan babi. Ternyata saya keliru.Saat saya berkeliling kota Medan, amat mudah menjumpai warung-warung yang menawarkan masakan babi. Apapun yang kalian cari, sebut saja babi panggang, sup babi, semur, dan sate. Saat saya bertanya kepada supir kendaraan yang saya sewa kenapa orang Sumatera Utara amat menyukai babi, dia tertawa dan sedikit kebingungan.
Iklan
"Tapi tidak semua masakan Sumatera Utara pakai babi kok," ujar supir saya, seorang pria berbadan gempal di usianya yang pertengahan 30-an. "Kalau kamu ke Berastagi, pastikan kamu mencicipi Tasak Telu. Itu masakan tradisional yang berarti ayam masak tiga."Saya belum pernah mendengar masakan itu. Dan saya penasaran, mengapa ayam bisa berada dalam menu tradisional yang biasanya dikuasai oleh babi. Saat saya bertanya soal Tasak Telu dengan orang-orang yang saya temui di jalanan dan warung-warung yang menjajakan masakan babi, mereka mengernyitkan dahi tanda kebingungan. Beberapa dari mereka bahkan bertanya balik kepada saya. Tak ada satu pun warung di kota Medan yang menjajakan Tasak Telu.Saya sebenarnya tak niat-niat amat mencoba Tasak Telu. Tapi kata-kata supir saya beberapa waktu lalu menggelitik batin saya. Berbekal rasa penasaran saya memutuskan pergi ke Berastagi, sebuah kota di Kabupaten Karo yang terletak 71 kilometer di selatan kota Medan. Jika tidak memiliki kendaraan pribadi, salah satu cara untuk pergi ke sana adalah dengan menumpang mini bus omprengan yang mangkal di terminal.Hari masih pagi ketika saya menemukan satu mini bus yang kebetulan mangkal di terminal Pinang Baris. Bentuknya tak keruan. Catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Pintunya sudah dimodifikasi sehingga bisa membuka 180 derajat. Itulah transportasi andalan warga kelas bawah entah sejak kapan. Mungkin sejak masa presiden Suharto, atau bahkan sebelumnya. Saya tak tahu kapan terakhir kali mini bus tersebut diservis. Saya taksir mini bus tersebut bisa menampung 30-an penumpang.
Iklan
Hanya butuh beberapa menit sampai mini bus tersebut terisi penuh. Dengan cekatan supir langsung tancap gas menembus jalanan kota Medan yang padat pagi itu. Ada anekdot yang beredar di warga kota Medan, jika kamu melihat mini bus itu melaju di jalanan, lebih baik minggir dan kasih jalan. Saya segera tahu alasannya. Supir angkutan macam ini pantang untuk mengalah. Kaki supir seolah tak pernah berhenti menginjak pedal gas.
mini bus omprengan yang saya tumpangi
Selama perjalanan, terjadi dua kali insiden. Pertama ketika mini bus yang saya tumpangi diserempet sesama angkutan, mengakibatkan spion mini bus yang saya tumpangi patah. Kedua ketika mendadak mini bus menyeruduk mobil yang hendak belok ke kanan. Bagian belakang mobil penyok dan lampu seinnya pecah. Saya tak tahu bagaimana para supir tersebut menyelesaikan masalah di jalan. Namun perjalanan tetap dilanjutkan seolah tidak ada yang terjadi.Perjalanan ke Berastagi ditempuh selama dua jam menembus Bukit Barisan - sebuah perbukitan yang terbentang dari selatan hingga utara Pulau Sumatera - dengan jalur menanjak nan berkelok. Di antara rimbunnya pohon mahoni, samar-samar saya bisa melihat kota Medan di kejauhan. Udara sejuk dan dingin seketika itu juga menerjang masuk jendela yang dibuka. Saya menggigil. Di kanan jalan, saya melihat Gunung Sibayak berjajar dengan anggunnya.Lutut saya sakit karena terantuk kursi di depan saya. Ruang untuk kaki teramat sempit. Saya nyaris tak bisa bergerak, bahkan untuk menggerakkan pantat yang pegal saja mustahil. Tapi saya tak bisa mengeluh. Dengan ongkos Rp10 ribu, mana ada lagi angkutan yang bisa mengantar saya dengan jarak sejauh itu?
Iklan
Berastagi adalah kota kecil di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut yang diapit dua gunung, Sinabung dan Sibayak. Kota tersebut seperti potret di dalam kepala tentang kota kecil impian untuk menyepi dan mengasingkan diri serta menghabiskan waktu tanpa khawatir dengan riuh rendah kota besar yang tergesa-gesa. Berastagi adalah tempat sempurna.Saya meregangkan semua otot beberapa menit ketika tiba. Pantat terasa mati rasa. Setelah mendapat kamar penginapan dan membersihkan badan, saya segera lanjut menggendong ransel dan mulai berjalan kaki mencari warung Tasak Telu.Sial. bahkan beberapa orang di Berastagi yang saya tanyai terlihat kebingungan dengan masakan Tasak Telu. Saya terpaksa berkonsultasi dengan Google, sesuatu yang jarang saya gunakan ketika bertualang. Kabar baiknya, cuma ada dua restoran Tasak Telu di Kabupaten Karo. Kabar buruk: jarak warung terdekat 8 km dari tempat saya menginap.***
Warung Neo Cica di Kabanjahe
Warung Neo Cica terletak di kecamatan Kabanjahe. Setelah tak kuasa berjalan kaki dengan medan jalan berdebu dan berbatu, saya memutuskan naik angkot. Dengan ongkos Rp 2 ribu rupiah, saya langsung sampai di depan pintu warung.Warung tersebut sangat sederhana. Lantainya masih berupa tanah. Tidak ada tembok, hanya anyaman bambu bercat hijau. Di luar jendela, Gunung Sinabung masih menunjukkan amarahnya. Asap putih putih keluar dari puncaknya, sebuah peringatan bagi siapa pun agar jangan mendekat.
Iklan
"Anda muslim?" Tanya seorang perempuan di belakang meja dapur.Saya kebingungan. Meski malas dengan pertanyaan macam itu, saya dengan ragu mengangguk. Si perempuan kemudian sibuk meracik sesuatu. Warung tersebut sepi dari pelanggan, mungkin karena belum jam makan siang.Seorang pria tinggi berperawakan besar dengan rambut panjang terikat tiba-tiba muncul dari belakang warung. Berewok tebal menghiasi wajahnya yang keras namun ramah. Namanya Mbore Tarigan. Ia adalah pemilik warung tersebut. Ia lantas turun tangan meracik ayam membantu si perempuan yang ternyata adalah istrinya.
Mbore Tarigan, juru masak di Neo Cica
Tasak Telu adalah makanan khas suku Karo berupa ayam kampung yang dipanggang tanpa bumbu yang kemudian dicincang. Sebagai pelengkap ayam tersebut dihidangkan bersama sup kaldu, cipera, serta getah dan daun singkong goreng bertabur parutan kelapa. Ketiga pelengkap itulah alasan kenapa disebut ayam masak tiga.Cipera sekilas mirip bubur yang sedikit kental. Ia terbuat dari jagung yang ditumbuk halus sebelum disangrai dan dicampur kari dan kulit ayam. Teksturnya lembut dan gurih dengan rasa kari yang tak terlalu kuat.Kunci dari Tasak Telu adalah getahnya. Ia terbuat dari darah ayam, asam jawa, cabai, bawang dan garam. Namun Tasak Telu juga bisa disajikan tanpa darah ayam jika penganut kepercayaan tertentu menghendakinya. Tak heran perempuan di belakang meja tadi menanyakan kepercayaan saya.
Tasak Telu terhidang di depan saya
Meski tak terlalu peduli dengan kepercayaan, saya agak aneh dengan darah ayam. Jadi saya memilih getah tanpa darah ayam. Maklum, perut saya tergolong konservatif dan sulit menerima rasa baru.
Iklan
"Saya juga muslim," ujar Tarigan ketika menghampiri saya. "Coba saja getah darah ayam. Kalau tidak suka enggak usah dihabiskan." Belum sempat saya menjawab, Tarigan buru-buru membawa getah darah ayam ke meja saya. Rasanya sedikit asin, gurih dengan aroma rempah yang menguar.Saat saya meneguk sup kaldu yang disajikan di dalam gelas, gurihnya rasa daging ayam memenuhi rongga mulut. Saya bertanya apakah sup tersebut memakai tambahan penguat rasa."Tentu tidak," jawab Tarigan. "Hanya air rebusan ayam dan bumbu rahasia Karo."Tarigan yang sudah berkeliling pulau Jawa dan Kalimantan, mengatakan bahwa dirinya selalu memasak Tasak Telu di manapun ketika ada kesempatan. "Tasak Telu bisa diterima lidah manapun," ujar Tarigan. "Saat saya memasak ini buat orang Jawa misalnya, seperti ada penyambung cerita."Tapi kenapa Tasak Telu tidak sepopuler Babi Panggang Karo (BPK) yang sudah tersebar di mana-mana? Mengapa sebagian masyarakat tak begitu kenal dengan masakan itu? Bisa jadi alasannya karena sejarah dan budaya.
Mbore Memotong-motong daging, menyiapkan Tasak Telu
"Babi memang sejak dulu sudah lebih populer di tanah Karo," kata Tarigan. "Mungkin karena kebiasaan leluhur sejak dulu. Bisa juga karena karakteristik daging babi yang lebih cocok dimasak dengan tradisi suku Karo."Produksi babi di provinsi Sumatera Utara memang terus meningkat. Dari data Kementerian Pertanian produksi daging babi selama 2015 mencapai 41.378 ton, hanya kalah oleh provinsi Bali. Sementara di tahun yang sama, produksi daging ayam kampung hanya mencapai 16 ribu ton.
Iklan
Tasak Telu biasanya disajikan saat perayaan Merdang Merdem atau Kerja Tahun ketika suku Karo mengadakan hajatan selama satu minggu penuh untuk bersyukur atas selesainya musim tanam padi. Perayaan ini biasanya diadakan oleh semua kampung di Kabupaten Karo."Ini adalah cara kami bersyukur," ujar Tarigan. "Dengan memasak apa yang sudah diberikan kepada kami. Jagung ini pun berasal dari tanah Karo."Saya paham sekarang. Sebuah makanan tidak diukur dari seberapa populernya dia. Bukan pula dari rumitnya cara memasak atau mahalnya bumbu dan bahan. Semua bisa datang dari cara kita memandang cara kerja hidup ini: alam memberi dan patut disyukuri tanpa menyia-nyiakan.
Dua tamu lain di warung Neo Cica
Duduk tak jauh dari saya, dua bapak khidmat betul menandaskan Tasak Telu. Sambil berjalan keluar warung, saya sempat mengintip ke arah kedua bapak itu. Tak ada sisa makanan di piring mereka.
