Politik Internasional

Iran Tuding AS dan Israel Dalangi Bom Bunuh Diri Tewaskan Puluhan Prajurit Elitnya

Presiden Hassan Rouhani menduga aksi teroris kelompok separatis Muslim Sunni terhadap anggota Garda Revolusi dibantu konspirasi asing.
15.2.19
Bom Bunuh diri di tenggara Iran tewaskan 27 anggota Garda Revolusi
Suasana lokasi bom bunuh diri di Iran yang menewaskan 27 personel Garda Revolusi. Foto oleh FARS/Getty Images

Pelaku bom bunuh diri menabrakkan mobil berisi bahan peledak ke sebuah bus yang mengangkut anggota Garda Nasional Iran, pada Rabu (13/2) di Provinsi Sistan dan Baluchistan, dekat perbatasan Pakistan dan Afghanistan. Sebanyak 27 personel pasukan elit itu tewas, 13 orang lainnya luka-luka.

Serangan ini mengejutkan, karena Garda Revolusi dianggap sebagai satuan paramiliter elit yang ditakuti warga negara mayoritas Islam Syiah tersebut. Pasukan ini lahir sejak revolusi dipimpin ulama menggulingkan kerajaan di Iran pada 1979. Seiring waktu kekuatannya malah jauh lebih besar dibanding militer resmi—bahkan punya jangkauan intelijen hingga ke berbagai negara.

Iklan

Pelaku terafiliasi dengan organisasi militan bernama Jaish al-Adl (Pasukan Keadilan), yang sejak lama menuntut perbaikan nasib bagi etnis minoritas etnis Baluchis di Iran, yang menganut mazhab Islam Sunni. Organisasi separatis itu mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Presiden Iran Hassa Rouhani menuding aksi teror ini disokong oleh kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan Israel.

"Serangan teror di Baluchistan akan diingat sebagai ‘noda kotor’ pada catatan pendukung utama terorisme di Gedung Putih, Tel Aviv. dan agen-agen regionalnya," kata Rouhani, sebelum menghadiri pertemuan trilateral bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladmir Putin di Sochi.

Pemimpin Spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei, turut menyuarakan tudingan serupa. Dia tidak percaya jika bom bunuh diri itu hanya dilakukan oleh gerakan separatis. "Ada hubungan antara serangan ini dengan aktivitas lembaga intelijen internasional."

Rouhani, Khamenei, dan Komandan Kepala Garda Revolusi Muhammad Ali Jafari berjanji segera membalas para pelaku yang bertanggung jawab. Serangan ini terjadi pada hari yang sama para pejabat dari seluruh dunia berkumpul dalam konferensi di Warsawa, Polandia, yang disponsori AS dan diharapkan bisa menjadi proses dialog perdamaian Timur Tengah.

Walau tidak diagendakan, fokus konferensi tersebut lebih banyak menyorot sepak terjang Iran. Pembahasan mengenai Iran turut diangkat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang memposting sebuah tweet kalau satu-satunya ancaman bagi Negeri Zionis itu di Timur Tengah adalah rezim Syiah Iran:

Iklan

Pengacara pribadi sekaligus juru bicara Donald Trump, Rudy Giuliani, ikut menyiram bensin ke kobaran api. Dia Sengaja memancing kemarahan Teheran, saat dapat kesempatan bicara di sebuah rapat umum anti-Iran di luar stadion utama Warsawa. Giuliani menjuluki pemimpin-pemimpin Iran saat ini adalah "gerombolan pembunuh yang seharusnya tak berkuasa."

Giuliani, setelah ucapannya disorot media, segera meralat posisinya. Dia mengaku bicara sebagai pendukung kelompok oposisi Iran bernama Mujahedeen-e-Khalq, alias M.E.K, bukan mewakili Trump. Apa lacur, pemimpin Iran segera memperhubungkan serangan pada Pengawal Revolusioner dengan pertemuan di Warsawa.

"Apakah sekedar kebetulan bahwa Iran diserbu teror pada hari yang sama #SirkusWarsaw bermulai?" tulis Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di Twitter. "Apalagi saat kelompok teroris-teroris yang sama menyorakinya dari jalanan Warsaw & mendukungnya dengan bot?"

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News