The VICE Guide to Right Now

Pulau Komodo Tutup Sementara 2020, Selain Marak Pencurian Komodo Badannya Kerempeng Pula

Penutupan sementara kawasan wisata populer Indonesia ini berlaku selama 12 bulan. Bagus!
Gavin Butler
Melbourne, AU
Pulau Komodo Resmi Ditutup 2020, Selain Marak Pencurian Komodo Badannya Kerempeng Pula
Foto ilustrasi komodo via Shutterstock.

VICE Indonesia sebelumnya melaporkan rencana pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur menutup kawasan wisata unggulan Pulau Komodo selama satu tahun, gara-gara badan hewan eksotis itu kerempeng. Biang keroknya adalah kunjungan turis yang terlalu massif. Karena manusia banyak banget, topografi pulau berubah. Jumlah rusa berkurang, akibatnya komodo kekurangan buruan alami.

Kini, pemerintah menetapkan Januari 2020 sebagai momen dimulainya penutupan satu pulau tersebut hingga 12 bulan berikutnya (walau komodo masih tetap bisa dikunjungi wisatawan di Pulau Rinca dan Pulau Lawar, yang juga masuk kawasan Taman Nasional Komodo). Keputusan itu semakin cepat diambil, karena ternyata pencurian komodo marak banget. Insiden terakhir berhasil digagalkan Polda Jawa Timur akhir pekan lalu. Sebanyak 41 komodo dari Labuan Bajo hendak dikirim lewat jalur laut ke luar negeri lewat pelabuhan Surabaya. Penyelundup menghargai komodo hingga Rp500 juta per ekor. Polisi menyatakan lima bayi komodo berhasil diselamatkan dari tangan para penyelundup.

Iklan

Selain itu, populasi rusa berkurang ditengarai juga akibat andil perburuan manusia di pulau tersebut. "Penyelundupan komodo dan penembakan rusa yang merupakan rantai makanan komodo, merupkan bukti pengawasan kurang," kata Wakapolda Nusa tenggara Timur (NTT) Brigjen Polisi Johny Asadoma kepada awak media.

Skandal pencurian komodo ini memaksa pemerintah pusat, diwakili Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, menyerahkan wewenang pengelolaan sepenuhnya ke Provinsi NTT. Marius Ardu Jelamud, selaku juru bicara pemprov NTT, mengatakan pihaknya sejak awal lebih nyaman jika akses turis disetop lebih dulu.

Sudah terlalu banyak insiden yang merusak ekosistem dialami Pulau Komodo. Mulai dari terbakarnya sabana di Pulau Gili Lawa akibat foto prewedding tak bertanggung jawab, ulah wisatawan dan guide memancing komodo mendekat ke bibir pantai, hingga eksploitasi komodo untuk kepentingan film atau video klip. "Ini menunjukkan kita tidak mampu mengontrol dan mengawasi sebuah taman nasional yang telah diakui dunia," kata Marius saat dihubungi media.

Untuk apa sih menyelundupkan komodo? Menurut keterangan polisi, pelaku adalah pemain kakap. Selain komodo, hewan dilindungi yang mereka kirim ke pasar luar negeri adalah burung kasuari, kakatua jambul, musang, serta binturong Jawa. "Pelaku menjual hewan-hewan ini lewat forum Facebook," kata Frans Barung Mangera, juru bicara Polda Jawa Timur, dalam jumpa pers akhir pekan lalu.

Iklan

Dari Surabaya, komodo dan sekian binatang langka lain akan diambil jaringan penyelundup di Singapura, lalu dijual ke wilayah Asia lainnya—khususnya Tiongkok. "Hewan-hewan ini akan dijadikan obat tradisional. Komodo dipercaya bisa dijadikan obat antibiotik," kata AKBP Rofiq Ripto Himawan yang memimpin tim penangkapan jaringan penyelundup binatang langka tersebut.

Sebagai kadal terbesar di Bumi, dan terbukti sudah bertahan hidup sejak era Dinosaurus, komodo adalah salah satu hewan yang terancam punah di planet kita. Itu sebabnya UNESCO menetapkan Taman Nasional Komodo sebagai cagar alam warisan dunia. Hanya di tiga pulau saja, komodo masih bisa bertahan di habitat aslinya. UNESCO mencatat ada sekitar 5.700 komodo hidup tersebar di seantero taman nasional.

Penutupan sementara diharap bisa menormalkan situasi. Marius menyatakan pemprov NTT dalam periode setahun tanpa turis akan mengupayakan konservasi Pulau Komodo. Turis sendiri masih bisa datang ke Rinca dan Lawar. Harapannya, pemerintah bisa menambah pasokan rantai makanan, serta mengundang tim ahli untuk meneliti perbaikan kondisi bagi hewan kebanggaan Indonesia itu.

"Ketika pemprov diberikan wewenang [menutup], bisa mempermudah ruang gerak kita mengontrol seluruh pergerakkan komodo," ujarnya. "Semua pengawasan kita harus extra ordinary. Tidak bisa biasa-biasa saja."

Iya deh pak. Tutup aja dulu. Manusia emang brengsek.

Follow Gavin di Twitter atau Instagram