Manusia Super

Kajian Ilmiah Buktikan Manusia yang Sanggup Membaca Batin Orang Lain Betulan Ada

Penelitian baru menyimpulkan ada 1 hingga 2 persen responden yang kesulitan membedakan perasaan mereka dengan perasaan orang lain, alias mereka punya kemampuan 'empath'.
Hannah Ewens
London, GB
9.11.18
Gambaran empath, alias orang yang mampu merasakan batin manusia lain
Ilustrasi oleh Joel Benjamin  

Orang yang mengklaim bisa merasakan kondisi emosional, mental atau fisik orang lain dikenal sebagai empath. VICE telah membuat dokumenter tentang manusia macam ini, serta bertemu dengan beberapa orang yang percaya mereka bisa melakukan hal-hal yang kadang diasosiasikan sebagai telepati. Reaksi penonton terhadap dokumenter kami terbagi dua: ada yang mempercayai empath dan percaya mereka sendiri juga bisa digolongkan sebagai empath, lalu ada yang menilai semua itu hanya omong kosong.

Iklan

Tentunya ide bahwa seseorang bisa merasakan perasaan orang lain terdengar seperti kisah sains fiksi, dan tidak didukung oleh bukti ilmiah. Faktanya, kita bahkan belum paham apa penjelasan neurologis di balik manusia dengan 'empati super'. Para peneliti memahami beberapa ide mendasar dan bagian otak mana yang terlibat dalam proses empati, tapi bidang penelitian soal kemampuan macam ini masih sangat baru.

Nah, sebuah penelitian anyar mendukung dasar ilmiah fenomena empath. Penelitian tersebut menyimpulkan sekitar 1 sampai 2 persen responden mereka mengaku mengalami kondisi tersebut. Penelitian ini dilakukan Dr. Michael Banissy, profesor Psikologi di Goldsmiths, dan peneliti pasca-doktoral Dr. Natalie Bowling, yang sudah bertahun-tahun meneliti empati, khususnya mirror-touch synaesthesia.

Sinestesia terjadi ketika indra yang berbeda-beda berbaur menjadi satu. Ada orang yang bisa "mendengar" warna, "melihat" suara, atau "mencecap" kata-kata. Pada kasus mirror-touch synaesthesia, indra penglihatan dan indra sentuhan saling tumpang tindih. Seseorang dengan sinestesia yang melihat orang lain disentuh wajahnya, juga akan merasakan sensasi itu pada wajah mereka sendiri.

Mirror-pain synaesthesia adalah fenomena yang sering terjadi—misalnya ketika kamu melihat seseorang menggaruk badannya dan tiba-tiba kamu merasa gatal (Menurut Bowling, sekitar 30 persen dari populasi mengalami ini). Tapi mirror-touch—yakni kemampuan "merasakan" perasaan orang lain—cukup langka hingga bisa dianggap asing bagi 98-99 persen populasi yang diteliti.

Iklan

Saat melakukan riset tersebut, Banissy melakukan sebuah studi di Museum Ilmu di London dan meminta orang di jalanan mengisi survei tentang tingkat empati mereka dan mengikuti sebuah tes. Pada tes ini, peserta ditepuk di pipi sambil menonton orang lain ditepuk di sisi pipi yang lain.

"Jika kamu mempunyai mirror-sense synaesthesia, kamu lebih mungkin percaya bahwa kamu sebenarnya ditepuk di kedua sisi pipi kamu," kata Bowling. "Orang-orang ini akan kesusahan fokus pada apa yang mereka sebenarnya rasakan, dan mereka cenderung bingung, membuat lebih banyak kesalahan, dan lebih lambat menjawab apakah mereka disentuh atau tidak."

Penelitian ini tidak hanya mengandalkan laporan diri dari subyek, yang sering menjadi argumen kritikan utama perihal empath di dokumenter VICE. Kalau kamu menganggap dirimu sebagai empath, berarti kamu adalah seorang empath. "Susah sekali untuk menyamakan pengalaman orang yang berbeda-beda, jadi kami ingin membandingkan orang menggunakan sebuah tes alih-alih menggunakan penjelasan mereka sendiri tentang perspektif mereka," kata Bowling.


Tonton dokumenter VICE mengenai mereka yang memiliki kemampuan sebagai super empath:


Menariknya, tim peneliti menemukan ada banyak responden memiliki mirror-touch synaesthesia tapi tidak tahu sadar dengan kemampuan tersebut. "Otak manusia terbiasa mengintegrasikan segala hal,” kata Bowling. "Ada denyut jantung, getaran perut, reseptor rangsangan di kulitmu, tapi itu semua dipadukan secara holistik di otak. Kita tidak memikirkan prosesnya." Jadi, kalau selama ini kamu merasakan sensasi orang lain sebagai sensasi yang berasal dari badanmu sendiri, bagaimana cara agar kamu bisa membedakannya?

Tahap kedua riset ini, menurut Bowling, adalah melihat isu-isu sekitar "pemburaman" diri. "Saya menyadari apa yang terjadi di tubuh saya, dan saya juga menyadari seseorang telah melukai tangannya. Bagi kita, kemampuan untuk beralih antara kedua persepsi ini sangat penting agar dapat berempati," katanya. "Jika saya ingin berempati dengan seseorang, aku akan berfokus pada mereka dan bukan diri saya sendiri, dan juga sebaliknya pada situasi lain. Orang dengan kondisi ini tampaknya kesulitan mengendalikan peralihan antara diri mereka sendiri dan orang lain, ataupun sebaliknya.

Ada banyak sekali konsekuensi mental, fisik, dan emosional yang dapat timbul.. Sekarang, kata Bowling, orang dengan mirror-touch melaporkan bahwa mereka sering merasa kewalahan.

Sementara itu, Dr. Banissy baru saja memulai penelitiannya mengenai intervensi untuk mengatasi tingkat empati yang rendah. "Penelitiannya dimaksudkan untuk menemukan cara untuk melatih orang untuk menjadi lebih empatik," ungkap Bowling. "Kami harus memproses dasar ilmiahnya dan menyempurnakan teknik penelitian kami agar dapat digunakan secara konkret dalam kehidupan nyata. Andai bisa dipelajari, kemampuan empath bisa memudahkan kehidupan banyak orang. Ada sesi untuk lingkungan kerja, seperti latihan disiplin dan latihan tentang cara mendengarkan orang lain, bayangkan kalau kami bisa mengajari para manajer dan staf agar efektif dalam berempati dan memahami satu sama lain."

@hannahrosewens

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK