Budaya Pop

Stan Lee Adalah Sekutu Sejati Kaum Minoritas dan Mereka yang Termarjinalkan

Selain menciptakan banyak superhero ikonik dan mendirikan Marvel, kita harus mengenang mendiang Stan Lee sebagai komikus yang mendukung kesetaraan di AS sejak gagasan itu belum didukung banyak orang.
Stan lee pendiri Marvel Comics.
Foto Stan Lee via Wikipedia Commons  

Sebagai laki-laki muda berkulit hitam yang mencintai komik, berita mendadak meninggalnya Stan Lee pada usia 95, Selasa (13/10) lalu, terus menghantuiku. Stan Lee bukan hanya sosok pencipta karakter ikonik macam Black Panther, X-Men, hingga Spider-Man; Lee juga sekutu bagi orang bukan kulit putih dan tinggal di negara Barat sepertiku, serta semua orang lain yang termarjinalkan oleh masyarakat.

Stan Lee secara terbuka menyampaikan penolakannya terhadap diskriminasi dan rasisme pada 1968. Dalam kolom berjudul 'Stan’s Soapbox'—kolom tajuk rencana seri buletin yang tayang tiap bulan dalam komik terbitan Marvel sepanjang kurun 1965 hingga 2001—Lee menasehati pembacanya.

Iklan

Dia bilang, meskipun orang dari latar belakang ras atau agama berbeda tidak selalu bisa akur satu sama lain, bukan berarti mereka boleh membenci seseorang secara membabi buta.

Aku belum lahir ketika Stan menulis esai tersebut. Tetapi ketika terjadi insiden berdarah di Charlottesville—momen ketika banyak warga kulit hitam di AS, teringat masa lalu perbudakan dan segregasi kejam—Stan Lee me-retweet cuplikan foto kolom lamanya agar dibaca pembaca dari generasi baru.

Sikapnya membuatku salut. Opini Lee yang menolak rasisme dan perilaku bigot tidak menguntungkan dia sama sekali—tidak dulu, tidak pula sekarang. Stan Lee justru berpeluang dicemooh sebagian pecinta komik yang bigot dan rasis, serta dianggap mempolitisasi komik. Tapi dia tetap menuliskannya.

Stan Lee merupakan sosok kreatif yang berjuang dari nol dalam industri komik. Dia meniti karir sejak 1950-an di industri yang sebetulnya dulu sempat tidak menganggap ide-ide ceritanya menarik. Stan Lee mengaku dulu merasa sebagai pecundang yang siap meninggalkan dunia komik sebelum akhirnya bertemu kompatriot macam Jack Kirby, dan mendapat kepercayaan untuk merintis penerbitan bernama Marvel.

Kita harus ingat, Stan Lee adalah laki-laki kulit putih yang punya privilege dalam hal penampilan dan kesempatan untuk mengembangkan karir, setidaknya bila kita ingat kondisi Amerika Serikat pada dekade 50'an. Segregasi masih didukung mayoritas orang kulit putih. Gagasan kesetaraan warga kulit hitam dan kulit putih dianggap bualan saja dan yang menyerukannya setara manusia kurang waras. Tapi Stan Lee justru memanfaatkan privilesenya sebagai kulit putih untuk mengampanyekan positivisme yang tak dapat dilakukan orang lain. Dia tidak ragu memanfaatkan medium komik yang populer buat anak muda untuk menyebarkan gagasan progresif.

Iklan

Tonton dokumenter VICE kekerasan kaum neo-nazi dan pendukung supremasi kulit putih di Charlottesville yang meraih penghargaan Emmy untuk kategori liputan terbaik:


Selama dua puluh tahun terakhir, kita tumbuh besar melihat Stan sebagai cameo film ataupun serial Marvel. Kita sudah terbiasa menyaksikan orang tua berkumis ini muncul di layar selama beberapa detik dan tidak begitu memikirkan sepak terjangnya semasa muda dulu. Kita lupa, Stan Lee adalah sosok yang luar biasa penting dalam perkembangan komik di AS, maupun dunia. Tanpa dia, tidak akan lahir X-Men, tidak ada Spiderman dengan ciri khasnya, serta formula cerita Marvel, di mana pahlawan bisa ragu, takut, dan lebih memilih berkeluarga dibanding menyelamatkan dunia. Stan Lee adalah salah satu komikus pelopor yang ingin menampilkan superhero sebagai manusia biasa.

Ketika aku sempat menulis esai, memuji adanya film hollywood masa kini yang berani menunjukkan aktor kulit hitam sebagai bintang utamanya, tak sekalipun aku menyebut Stan Lee. Aku alpa. Padahal dia termasuk pencipta Black Panther. Namun memang demikian karakter Stan Lee. Dia adalah penghibur sejati, bukan politikus yang ingin jasa-jasanya selalu dikenang.

Stan Lee bersimpati dengan gerakan hak sipil masyarakat kulit berwarna pada dekade 60'an di AS, namun tak pernah meminta pujian untuk simpatinya, bahkan saat dukungannya merusak reputasinya. Dia ikut membuat tokoh-tokoh komik yang mewujudkan semacam Afro-herosime sebagai alternatif untuk cerita-cerita yang tidak memuaskan komunitas kulit hitam di AS selama era diskriminasi. Dia memasukkan pesan-pesan progresif dalam karyanya yang ditujukan kepada penonton dan pembaca berkulit putih yang sebelumnya mungkin tidak begitu peduli pada mereka yang termarjinalkan.

Iklan

X-Men setelah dibaca-baca lagi, rupanya alegori kisah manusia yang takut pada mereka yang berbeda (dalam komik itu yang ditakuti adalah mutan). Komik X-Men adalah simbolisme kecemasan rasial di sekitar gerakan hak sipil dekade 60'an. X-Men merupakan komik alegoris yang terus terbit selama puluhan tahun, sehingga kini simbolismenya juga bisa dimaknai sebagai dukungan bagi komunitas LGBT.

Aku tidak sedang berniat menulis pelajaran sejarah lewat esai ini. Aku hanya ingin mengakui peran seseorang yang benar-benar mengerti artinya menjadi sekutu kaum yang termarjinalkan melalui seninya dan opininya. Stan Lee adalah sosok sehebat itu. Dia tidak memikirkan bagaimana opininya akan dilihat oleh penonton dan pembaca yang diskriminatif, yang tidak menganggap kata-katanya sebagai aspiratif, menguntungkan, dan sangat dibutuhkan. Dia menyampaikan sikap anti-rasisme dan anti-diskriminasi karena dia percaya bahwa itu hal yang baik bagi bumi manusia.

Aku tumbuh besar dengan kecurigaan terhadap orang yang mengakui diri sebagai “sekutu” yang ternyata perjuangannya cuma setengah hati. Aku sudah sering dikecewakan ketika berjuang menuntut kesetaraan hakiki terhadap komunitas kulit hitam. Stan Lee meyakinkanku, bahwa kami, orang berkulit warna yang sudah sering mengalami penindasan, benar-benar tidak sendirian di dunia ini. Kami punya sekutu dari latar kulit putih yang memang progresif. Sikap mendiang semasa hidupnya penting banget bagiku. Dalam tweet saat mengecam insiden Charlottesville dan membagikan opini lamanya, Stan Lee menulis caption yang akan terus kukenang: "Aku percaya sikapku benar dalam situasi sekarang, sama seperti pada 1968 dulu."

Iklan

Stan Lee, kamu membuktikan diri sebagai progresif sejati, sekarang dan selama-lamanya.

Selamat jalan maestro. "Excelsior!"


Follow Noel Ransome di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada