Penjajahan Palestina

Ramai-Ramai Dukung Palestina, Koki Internasional Mundur Dari Festival Kuliner Israel

Lebih dari 90 tenaga ahli industri makanan menandatangani surat terbuka, meminta para koki tidak berpartisipasi dalam Festival 'Round Tables' yang digelar di Tel Aviv.
Foto masakan yang diatur dalam meja simetris dalam Festival Masak Israel
Foto oleh Heidi's Bridge. 

Saat Indonesia sedang merayakan hari pahlawan pada 2018, berbagai koki, staf dapur, petani, dan aktivis mengunggah foto mencolok ke Instagram masing-masing. Gambar tablescape sensual tersebut menampilkan jamuan pesta zeit dan za’atar, penuh hidangan roti khas kota Jenin di Tepi Barat. Tak lupa juga, ada selai kacang dan zaitun Palestina di atas meja makan merah yang menyala.

Foto ini diunggah menandai pembukaan acara festival tahunan keempat Round Tables. Festival makanan ini diselenggarakan Sabtu (10/10) lalu di Ibu Kota Tel Aviv, didukung oleh Kementerian Luar Negeri Israel, disponsori American Express. Ketika festival hendak dimulai, muncul surat terbuka yang ditujukan kepada semua koki yang dijadwalkan menghadiri acara tahun ini. Potongan surat itu yang kemudian mewarnai caption instagram.

Iklan

Setiap orang mengunggah fotonya di Instagram menulis caption seperti ini: “Kami merupakan salah satu dari 70 tenaga profesional yang berkecimpung di industri kuliner yang telah menandatangani surat terbuka kepada Gabrielle Hamilton dan koki internasional lainnya untuk meminta mereka melakukan hal yang tepat, yaitu mengundurkan diri dari festival “Round Tables” yang didanai oleh pemerintah Israel minggu depan. Sebagai koki, petani, dan staf dapur, kami menyadari setiap manusia berhak mendapatkan makanan yang enak dan layak dimakan—dari Turtle Island sampai Palestina. Makanan menyatukan kita semua."

Saat artikel ini ditulis, lebih dari 90 orang dari berbagai negara yang berprofesi di industri makanan telah menandatangani surat dan memberi dukungan mereka. Kurang dari seminggu setelah suratnya dirilis, koki Gabrielle Hamilton dari restoran Prune New York memutuskan tidak menghadiri acara tersebut. Sejauh ini, dia belum membeberkan alasannya kepada publik. Ana Roš, koki di Hiša Franko, Slovenia, juga membatalkan keikutsertaannya. Round Tables tidak menanggapi permintaan kami untuk berkomentar atas sikap para koki.

Situs Round Tables menyebutkan acara mereka merupakan "proyek budaya, anggota kehormatan dari gerakan gastro-diplomacy, yang mendukung diskusi budaya, ekonomi, dan politik melalui gastronomi atau seni memasak." Panitia juga berusaha keras memperkenalkan acaranya melalui slogan "Cara terbaik memenangkan hati dan pikiran seseorang yaitu lewat perutnya.’"

Iklan

Keterangan dari situs resmi kemudian berbunyi, "Kami dengan bangga mengundang para koki internasional… dan membuka kesempatan untuk melakukan diskusi yang bermanfaat, yang pengaruhnya bisa melampaui batas dan waktu."

Bagi yang memprotes acara ini, festival Round Tables hanya bagian dari kampanye diplomasi pemerintah Israel bertajuk Brand Israel yang dimulai sejak 2005. Menurut surat terbuka para pemrotes acara seperti Round Tables masih merupakan bagian dari kampanye ‘Brand Israel’ yang lebih besar membantu pemerintah Israel menormalkan penjajahan rakyat Palestina yang mereka lakukan selama ini. Kementerian Luar Negeri Israel lantas menutupi eksploitasi sumber daya alam Palestina. Festival ini, yang memasukkan khazanah masakan khas Palestina, diharap dapat memperbaiki citra Negeri Zionis itu di hadapan bangsa lain sekaligus menghilangkan, "segala kekejamannya seperti pembantaian dan kejahatan perang terhadap rakyat sipil Palestina."

Surat ini merupakan upaya lanjutan yang dipimpin oleh Palestinian Campaign for the Academic and Cultural Boycott of Israel (PACBI), bagian dari BDS (Boycott, Divestment, Sanctions), yang menggambarkan organisasinya sebagai gerakan yang dipimpin Palestina untuk mendapatkan kebebasan, keadilan, dan kesetaraan. Para penyelenggara melihat peningkatan jumlah tanda tangan dalam surat tahun ini.


Tonton dokumenter VICE mengenai sejarah roti canai yang merekam tragedi perbudakan penduduk Tamil oleh Hindia Belanda:

Iklan

Suratnya sendiri untuk 2018 ditandatangani oleh 90 orang profesional, dari sebelumnya yang hanya mendapat 30 tanda tangan. Ini menandai pergeseran monumental, terutama pada momen-momen yang tidak stabil saat ini, ketika unsur rasisme, seksisme, dan penindasan menjamur di mana-mana.

"Dua tahun terakhir, kami makin paham sikap apatis pada ketidakadilan sangatlah berbahaya," kata Amanny Ahmad, koki dan seniman berdarah Palestina-Amerika, yang ikut menandatangani dan membantu mengorganisasi pengumpulan tanda tangan surat terbuka. "Kita tak bisa lagi bermalas-malasan seperti itu."

Ahmad tumbuh besar di Salt Lake City, AS, dan pernah tinggal di kawasan Tepi Barat. Dia memilih memasak makanan khas Palestina sebagai bentukperlawanan. Menurutnya, apa yang dia lakukan adalah usaha "menantang kolonialisme budaya dan kuliner" dengan mengklaim kembali warisan budaya kuliner nenek moyangnya.

Setahun lalu, Ahmad dan Reem Assil, koki berdarah campuran Palestina, Suriah dan Amerika yang mendirikan Reem’s California and Dyafa serta pernah dinominasikan menyabet anugrah James Beard, berkumpul untuk memasak sajian khas Palestina dalam dua seri makan malam yang disajikan selama dua hari berturut-turut.

Gelaran ini sengaja diadakan sebagai tanggapan terhadap gelaran Round Tables. Seri makan malam tersebut, diorganisir oleh Ora Wise, direktur Dream Cafe at Allied Media Conference; Kimberly Chou, direktur Food Book Fair, bersama Shalva Wise, anggota dewan seniman dan koordinator proyek Jewish Voice for Peace, sengaja diberi nama Asymmetrical Table, yang mengaju pada posisi tak menguntungkan warga Palestina dalam kebijakan-kebijakan pemerintah Israel.

Iklan

"Apa yang saya pelajari dari sejarah Arab—dan apa yang menginspirasi saya dari penjual roti pinggir jalan dan preservasi budaya Arab meski lanskap politiknya tak stabil—adalah segala yang dilakukan masyarakat Arab lewat makanan mereka," kata Assil dalam dokumenter pendek tentang Asymmetrical Table yang belum diluncurkan hingga kini. "Kami sedang berusaha membangkitkan kesadaran mereka. Makanan adalah komponen penting dalam membangun kepercayaan."

Walaupun baru mengenal keberadaan acara Round Table dari gelaran Asymmetrical Table, Assil sudah berkecimpung di aktivisme membela Palestina sejak kuliah dan kini menghabiskan waktunya mendukung berbagai inisiatif komunitas Arab di kawasan Bay Area. Mei lalu, setelah membuka Reem’s California, Assil menerima ancaman pembunuhan dan kekerasan dari pengunjuk rasa sayap kanan pro Israel karena memasang mural aktivis Palestina Rasmeh Odea di toko rotinya.

Tara Besosa-Rodriguez, aktivis asal Puerto Rico dan pendiri El Departamento de La Comida, menandatangani surat terbuka tahun ini sebagai bentuk solidaritasnya terhadap komunitas Arab. Dalam pandangannya, gerakan anti kolonialisme yang dia mulai di Puerto Riko bersama kelompok petani setempat sejalan untuk menciptakan sistem pangan alternatif yang lebih berdaulat sejalan dengan perjuangan rakyat Palestina. Awal tahun ini, di Dream Cafe, Detroit, Besosa-Rodriguez tergerak menjadi sukarelawan dalam brunch pop-up makanan Palestina yang menampilkan Amanny Ahmad. “Itu alasan sebenarnya saya ada di Detroit,” kata Besosa-Rodriguez. “Saya harus bertemu perempuan ini, berbagi makanan buatannya, turut menanggung rasa sakitnya dan merasakan kegigihannya.”

Iklan

Aktivis makanan suku asli, M. Karlos Baca, pendiri koperasi makanan suku asli Taste of Native Cuisine, ikut menandatangani surat terbuka dengan alasan yang sama. "Saya sudah melihat, merasakan dan mendiskusikan lanskap kuliner Palestina dengan teman saya Amanny Ahmad, dan persamaannya dengan makanan suku asli sangatlah melimpah," ungkap Baca. "Pengusiran yang terus menerus dilakukan dengan kekerasan terhadap rakyat Palestina dan bersamaan dengan penghancuran pohon-pohon zaitun menemukan padanannya pada sejarah suku Dinè dan Pueblo yang tinggal di kawasan gurun di barat daya AS dan penghancuran ekosistem padi liar di daerah Great Lakes dan habitat ikan salmon di daerah Coast Salish."

Sebagian besar penandatangan surat terbuka kepada Round Tables tahun ini adalah talenta-talenta penting dalam kancah kuliner, mereka umumnya berupaya untuk mewujudkan keadilan pangan dengan caranya masing-masing. Beberapa di antaranya adalah Daniel Patterson yang rajin mendukung isu-isu terkait akses pangan dan membela koki-koki non kulit putih seperti koki-koki di Reem Assil’s Dyafa; Ben Miller dan Cristina Martinez dari South Philly Barbacoa, yang baru-baru ini diwawancarai Chef’s Table, gigih memerangi ketidakadilan bagi imigran tanpa identitas yang memadai; serta People’s Kitchen Collective, yang memasak untuk memicu kesadaran penikmat sajian mereka.

"Semuanya saling terhubung," kata Wise menandaskan. "Makanan adalah persimpangan segala macam sistem kekuasaan baik dalam ranah ekonomi, politik dan lingkungan. Kami yang berkecimpung di dunia kuliner punya tanggung jawab sebagai pendongeng, pengawal, sekaligus penjaga gerbang karena kami tepat berada di persimpangan itu."

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES