Mikroplastik

Silakan Panik, Tiap Hari Kalian Tanpa Sadar Mengonsumsi Mikroplastik dari Air sampai Seafood

Satu kesimpulan penelitian bahkan bikin kita lebih panik lagi, sebab air keran dan seafood bukan cuma dua sumber masalah yang perlu kita khawatirkan kalau membahas konsumsi tak sengaja mikroplastik. Duh...
20.7.18
Photo by flickr user Yuichi Sakuraba.

Kalau kamu senang makan seafood atau garam, mungkin kamu gak sadar bahwa ada hal lain yang juga kamu konsumsi saat memakan udang atau menggunakan bumbu dapur itu: plastik berukuran sangat mungil, yang dikenal sebagai mikroplastik. Asalnya dari kantung plastik yang terurai di laut, mikroplastik memenuhi air laut.

Ada sekurang-kurangnya lima trilion mikroplastik di samudra, siap ditelan oleh kerang-kerang yang berakhir di piring-piring restoran, atau dikristalkan dalam garam yang ditaburkan di atas steak.

Selama beberapa tahun, sejumlah penelitian menunjukkan betapa umumnya mikroplastik dalam pasokan makanan kita, yang membuat khawatir para konsumen. Bayangan menelan plastik secara tidak sengaja jelas mengerikan, dan beberapa penelitian telah mengeksplorasi dampak-dampak negatif plastik yang tertelan bagi kesehatan, yang bisa mengendap di tubuh kita dan kemungkinan mengganggu sistem kelenjar endokrin kita.


Simak dokumenter VICE mengenai sisi mematikan dari pemakaian asbes yang jarang kita sadari:


Masalahnya, sebuah penelitian terkemuka di bidang mikroplastik mengingatkan betapa partikel-partikel mungil ini boleh jadi bukan yang paling mengkhawatirkan, dalam hal paparan terhadap plastik. Nanna B Hartmann, peneliti senior di Technical University of Denmark, menulis disertasi tentang ekotoksikologi mikroplastik, dan melanjutkan fokus penelitiannya pada topik tersebut.

Awal tahun ini, dia dan tiga koleganya menerbitkan sebuah makalah yang berargumen bahwa penelitian tentang mikroplastik masih sangat awal, dan dibutuhkan lebih banyak penelitian soal dampak partikel ini pada kesehatan sebelum kita memutuskan untuk berhenti makan seafood selamanya. Kita hidup di dunia yang penuh polusi plastik, kata sang peneliti, sementara kebiasaan menggunakan Ziploc dan plastik pembungkus bisa membuat kita tak sengaja mencerna bahan kimia. Kami ngobrol-ngobrol dengan Hartmann soal makalah tersbeut dan mengapa dia percaya kita bisa tetap makan udang—setidaknya untuk saat ini.

Iklan

MUNCHIES: Halo, Nanna. Bisa jelaskan apa itu mikroplastik? Dan sejauh mana mikroplastik mengancam kesehatan manusia?
Nanna B. Hartmann: Mikroplastik adalah plastik berukuran sangat kecil (mikrometer dalam pengukuran milimeter) yang diproduksi secara sengaja (misalnya untuk kosmetik) atau secara tidak sengaja terbentuk dari degradasi atau abrasi plastik yang berukuran lebih besar. Misalnya, kantung plastik, yang akhirnya berakhir di laut karena kita tidak bisa menangani sampah dengan baik. Di laut sampah-sampah plastik ini perlahan terurai dan mengeluarkan partikel-partikel plastik kecil.

Beberapa penelitian menemukan efek mikroplastik pada konsentrasi yang relevan dengan lingkungan. Penelitian lain tidak menemukan dampak ekotoksikologi apapun. Mengenai kesehatan manusia, tak banyak yang kita ketahui soal dampak mikroplastik. Kita perlu, pertama-tama, mencari informasi lebih banyak soal apa dan seberapa besar paparan kita pada plastik.

Di makalahmu, kamu menulis “masalahnya adalah perdebatan soal mikroplastik tidak punya perspektif.” Maksudnya gimana ya?
Yang kami maksud adalah, saat hasil-hasil baru bermunculan dan diliput media, ada tendensi untuk fokus pada kasus-kasus yang sangat spesifik. Misalnya, setelah sebuah penelitian keluar tahun lalu, tiba-tiba ada perhatian besar pada air keran. Selain fakta bahwa metode pengambilan sampel dan analisisnya bukan yang terbaik, debat yang terlalu terfokus pada mikroplastik dari satu sumber saja tidak merepresentasikan paparan mikroplastik secara menyeluruh dari sekeliling kita.

Kalau kamu meninggalkan secangkir kopi di meja selama 10 menit, mungkin sekali bahwa mikroplastik dari udara menempel di cangkir itu—dan ini karena kita dikelilingi materi plastik dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, sweater bulu domba akan melepaskan benang-benang plastik kecil.

Kita terpapar pada banyak plastik pada kemasan makanan, air botolan, dan lain-lain. Apa menurutmu sumber-sumber ini lebih mengkhawatirkan ketimbang mikroplastik?
Saya rasa sebaiknya kita pahami bahwa semua penggunaan plastik berperan sebagai potensi sumber mikroplastik, dan dalam paparan manusia terhadap zat-zat kimia terkait plastik. Karena zat-zat kimia ini, yang dihasilkan dari plastik-plastik yang berukuran lebih besar—seperti bungkus makanan dan air botol kemasan—cenderung lebih mengkhawatirkan daripada kontribusi dari mikroplastik.

Kalau kita fokus pada mikroplastik, konsumsi kita yang mana saja yang perlu lebih diperhatikan? Apakah ada isu-isu yang juga perlu kita cermati?
Inti penelitian kami adalah, jangan terlalu fokus pada mikroplastik. Kami hanya berargumen bahwa kami perlu mempertimbangkan pentingnya beragam paparan alih-alih ‘tersesat’ dalam temuan-temuan individu. Saat mengkomunikasikan temuan kita sebagai ilmuwan, kita perlu mempertahankan perspektif yang lebih luas. Dan tentunya, saat membahas cara mengurangi paparan manusia terhadap mikroplastik dan zat-zat kimia terkait plastik, kita perlu memiliki perdebatan yang lebih luas soal produksi dan penggunaan plastik global.

Oke deh. Terima kasih atas jawabannya, Nanna!


Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.