aktivisme

Apakah Piala Dunia Berhasil Mengubah Rusia? Nadya dari Pussy Riot Menulis Opininya

Pussy Riot adalah band punk sekaligus aktivis pro kebebasan yang kemarin menginterupsi jalannya pertandingan final Perancis vs Kroasia. Rusia jadi lebih ramah ketika Piala Dunia berlangsung, tapi aktivis takut itu hanya sementara.
17.7.18

Sebagai bagian dari kolom i-D barunya tentang aktivisme, aktivis punk Rusia Nadya Tolokonnikova melaporkan efek positif dari kelangsungan Piala Dunia terhadap warga Moskow, berikut fakta-fakta yang ditutup-tutupi pemerintahan Putin.

Minggu ini, warga Rusia dari seluruh penjuru negeri mengunggah tulisan blog tentang interaksi hangat mereka dengan penduduk asing, yang ternyata mengejutkan. “Gimana ceritanya saya menerima tamu-tamu hooligan Inggris?” tulis judul sebuah artikel, sebelum sang penulis perempuan tiba di kesimpulan bahwa para hooligan tersebut malah menjadi beberapa orang teramah yang pernah dia temui. Ada banyak artikel serupa yang bersifat hangat dan merayakan, semuanya ditulis oleh warga Rusia biasa—bukan aktivis pro-barat, yang biasa disebut “musuh Rusia”—tak peduli seberapa banyak propaganda anti-Barat yang ditayangkan saluran TV Rusia selama bertahun-tahun. Ironisnya, propaganda anti-Barat ini didukung oleh kaum elit korup yang anak-anaknya diam-diam tinggal dan belajar di sekolah mahal di Eropa dan Amerika. Kebencian terhadap negara barat nampaknya sudah tidak lagi menjamur di antara penduduk Rusia biasa hari ini—tidak sebanyak narasi-narasi yang sering dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat.

Ini bukan berarti kaum blogger dan jurnalis anti-Barat sudah sepenuhnya hilang, tapi saat kelangsungan Piala Dunia, pengaruh mereka menyusut. Mereka tidak lagi menjadi puncak pemberitaan dan mereka tidak lagi terwakili dengan baik di media mainstream milik Kremlin. Dengan kata lain, mereka tidak mendapat legitimasi dari pemerintah.

Ada sebuah kolom yang diterbitkan minggu lalu oleh tabloid nasional Rusia, Moskovsky Komsomolets yang melaporkan: “Perempuan Rusia mempermalukan dirinya sendiri dan negaranya saat Piala Dunia.” Dalam artikel tersebut, penulis Platon Besedin menulis bahwa “sosmed penuh dengan video berisikan perempuan muda dan tua Rusia berlaku seperti PSK tanpa tanggung jawab sosial.” Ini adalah tipe kelakuan slut-shaming dan bukan hal baru, tapi yang membuat insiden ini signifikan adalah bahwa tulisan Platon tidak mendapat banyak dukungan. Justru sebaliknya, lebih dari 25.000 perempuan Rusia menandatangani sebuah petisi yang menuntut sang jurnalis meminta maaf, dan meminta pemerintah menerapkan hukuman kriminal terhadapnya, sesuai dengan Hukum Pidana pasal 282 di Rusia. Sang kolumnis meminta maaf dan perempuan Rusia berseru pada pada publik: kami akan tidur dengan siapapun yang kami mau. Tubuh kami, pilihan kami.

Iklan

Untuk menyoroti masalah yang dihadapi kaum imigran di Moskow, sebuah pertandingan sepakbola antar pengungsi diadakan di Red Square beberapa hari yang lalu. “Ini hanya bisa terjadi saat Piala Dunia diadakan,” ujar jurnalis dan teman baik Pussy Riot, Alexander Chernykh. Para pengungsi dari Suriah, Afghanistan, Kamerun, Pantai Ganding dan Zimbabwe bermain sepakbola dengan aktivis LGBTQ di depan gereja Katedral St. Basil—lokasi di mana biasanya kamu bisa ditangkap dalam hitungan detik karena melakukan aksi aktivisme.

Saya tidak suka sepakbola, tapi saya suka ketika orang merayakannya, ketika orang-orang benar-benar berbahagia, ketika mereka bersatu demi tujuan baik. Sama seperti aktivis lainnya, saya suka bermimpi tentang masa depan alternatif. Dan setelah Rusia mengalahkan Spanyol pada 1 Juli, rasanya ini terasa semakin mungkin. Banyak orang berkeliaran di luar, tertawa, memenuhi plaza dan jalanan, bernyanyi, berteriak, berpelukan. Para polisi pun berlaku baik—ramah dan sopan. Biarpun Rusia juga mengadakan acara publik besar lainnya, kebanyakan sudah teracuni oleh mesin propaganda pemerintah, seperti Victory Day atau Day of Russia.

Para petugas polisi yang saya lihat minggu lalu mengingatkan saya akan Uncle Styopa, The Militiaman, sebuah kartun propaganda Soviet dari pertengahan 60-an, tentang seorang polisi baik yang membantu semua orang. Saya masuk ke stasiun kereta bawah tanah di hari Rusia mengalahkan Spanyol, dan para polisi dan pekerja stasiun yang biasanya galak berteriak, “Masuk gratis! Masuk gratis!” Pintunya dibuka untuk semua orang. Orang-orang menenggak bir di depan para polisi, dan alih-alih menangkap mereka, para polisi dengan ramah menjelaskan pengunjung cara mencapai tempat tujuan masing-masing. Memang, ini sudah pasti efek dari euforia di atas, tapi bayangkan deh kalau kebijakan berbasis kemanusiaan macam ini bisa diterapkan di kepolisian Rusia selamanya.

Saya melihat pekerja dari Asia tengah—beberapa ilegal, dan biasanya dituduh oleh para nasionalis “mencuri pekerjaan orang-orang lokal”—bersorak mengenakan seragam oranye dengan bendera Rusia dilukis di wajah mereka, berpelukan dengan penduduk Moskow yang biasanya kaku. Orang-orang mulai terbiasa nongkrong di jalanan bersama-sama. Ini bukan hal normal untuk Moskow. Bahkan ketika kami harus turun ke jalanan untuk melakukan protes, tidak mudah bagi kami untuk meninggalkan rumah. Saya tidak mengatakan bahwa penduduk Rusia yang merayakan Piala Dunia itu anti-Kremlin, karena ini tidak benar. Tapi kebiasaan ini bisa jadi akan menyusup ke dalam alam bawah sadar kita.

Itu berita baiknya. Berikut berita buruknya: kebijakan Putin belum berubah sama sekali. Sama seperti kasus Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014, perayaan bukanlah sebuah pilihan bagi mereka-mereka yang melakukan protes. Dan biarpun semua ini adalah bentuk perayaan jujur bagi banyak warga Rusia (dan ini membuat saya senang), bagi pemerintah Rusia, ini tidak lebih dari kesempatan lain untuk membangun imej baik demi menyembunyikan realitas kejam; penangkapan massal bagi mereka yang mendukung pengkritik Kremlin, dan penangkapan berbau politik terhadap mereka yang terlibat dalam demo anti-Putin di Chelyabinsk. Lainnya? Narapidana politik Oleg Sentsov—ditangkap di Crimea pada 2014 sebagai aktivis pro-Ukraina—menolak makan selama 54 hari sejauh ini dan menderita di koloni hukuman Yamal. Dia menuntut pelepasan semua warga Ukraina yang ditahan di Rusia sebagai tahanan politik.

Berita lainnya, dua perlima dari warga Rusia mungkin akan mati sebelum menikmati masa pensiun. Umur pensiun Rusia hendak dinaikkan dari 60 menjadi 65 tahun bagi pria, dan 55 menjadi 63 tahun bagi perempuan. Demonstrasi massal melawan kebijakan ini teredam oleh berita-berita tentang Piala Dunia. Pencarian polisi yang invasif dan brutal adalah instrumen tutup mulut lainnya, dan para polisi mendobrak banyak pintu markas para aktivis.

Perbedaan, keterbukaan, dan inklusivitas telah meresap ke dalam diskursus mainstream Rusia berkat Piala Dunia. Kita menyaksikan bahwa penegakan hukum berbasis kemanusiaan ternyata mungkin dilakukan. Perempuan Rusia memproklamirkan bahwa bukan urusan orang lain apa yang mereka lakukan dengan tubuh mereka. Saya berharap sikap-sikap seperti ini bukan hanya berlanjut, tapi berkembang menjadi realitas di mana kamu tidak akan dilukai karena memiliki opini yang berbeda dengan pihak pemerintah. Mungkin saya hanya seorang pemimpi, tapi saya harus terus berharap.