FYI.

This story is over 5 years old.

Game

Aku Terobsesi Sama Game Masak yang Membuatku Terlibat Perang Antar Chef

Konsep game ini sekilas terdengar konyol—tapi seperti hal-hal konyol lainnya, ada faktor mengasyikkan yang membuatmu terserap semakin lama kalian memainkannya.
Cuplikan game Battle Chef Brigade
Semua screengrabs dari game Battle Chef Brigade. 

Hubunganku dengan game cukup rumit. Aku demen banget sama game yang bisa menceritakan sebuah kisah. Aku suka tantangan memainkan pertarungan sulit demi mencari tahu bagaimana ceritanya berlanjut. Sewaktu berusia 13, aku pernah main semua Final Fantasy Tactics di Gameboy Advance SP selama liburan keluarga.

Masalahnya aku bukan gamer, karena aku payah main game apapun. Aku dulu sampai harus menyuruh kakak perempuanku memainkan level boss ketika aku main Zelda. Teman-temanku di kuliah pernah bikin aku mabuk dan menonton aku main Portal seakan-akan kegagalanku setara dengan pertandingan olahraga. Yah… memalukan.

Iklan

Sekarang kalau aku main game, aku hanya main game teka-teki di ponsel—tetapi Battle Chef Brigade adalah pengecualian. Malam pertama aku main game itu, aku begadang sampai jam 2 pagi sebelum aku sadar waktu sudah berlalu.

Battle Chef Brigade, sebuah game yang animasinya luar biasa, mengikuti kisah Mina, perempuan muda asal dunia fantasi Victusia. Orang tua Mina ingin dia membantu mereka menjalankan restoran sederhananya untuk selama-lamanya, tetapi Mina punya rencana lain. Umurnya 21 tahun, dan dia tak mungkin mau disuruh-suruh. Dia ingin menjadi Battle Chef.

Seratus tahun sebelum kejadian di game ini, ada monster-monster yang mulai meneror kaum Victusia. Mereka meruntuhkan pedesaan, mengacaukan pertanian, dan membunuh peternakan dimanapun mereka pergi. Raja Heinrich dan Koki Robuchon melatih pasukan kuliner elit untuk melindungi warga dari makhluk-makhluk bahaya ini yang mengubah mereka menjadi santapan lezat.

Konsep video game ini sekilas terdengar konyol—tapi seperti banyak hal-hal konyol lainnya, ada faktor mengasyikkan yang membuatmu terserap semakin lama kalian memainkannya.

1537994852262-pic-2

Mina bertualang, melarikan diri dari rumah, meraih mimpinya di Battle Chef Academy, dan bahkan menemukan penyakit mematikan yang mengancam stok makanan warga yang menyusut. Dia berteman dengan orang menakjubkan seperti Ziggy si necromancer asal Amerika (yang membuat “Masakan Hantu,” yang mengaitkan banyak hamburger), Kirin si peri, yang juga ahli obat alami dan pecinta kucing, dan Thrash, pecinta keluarga yang lucu, tekun, dan menyerupai Orc. Mina bersaing dengan koki-koki lain demi meraih tempat di Brigade, memburu makanan dan memasak secepat mungkin untuk lulus dari akademi dan menjadi Battle Chef asli.

Iklan

Dunia Victusia memang menyerupai stereotip dunia fantasi. Ada naga dan monster ular raksasa. Mina menguasai sihir angin. Thrash adalah berserker.

Tapi yang membedakan Victusia dengan dunia fantasi lainnya adalah flora dan faunanya. Ketika memburu bahan makanan dalam pertempuran, mungkin Mina harus menemukan tanaman karnivora. Mungkin juga dia harus memberi makan tanaman tersebut agar ia menumbuhkan sayap, menjadi lebih mengerikan, dan menghasilkan bahan makanan dengan poin lebih tinggi.

1537994862688-pic-3

Mina bisa membuat nasi goreng dengan buah angin, sebuah tanaman yang begitu misterius dan langka dan dulu hanya dimakan para raja. Kalau hidangan Mina bertema air (setiap bahan makanan terdiri dari “permata rasa” berbasis unsur), mungkin dia akan bertarung melawan sebuah armarock, makhluk raksasa bertanduk yang menyerupai penyu, memintal dengan kecepatan luar biasa, dan berubah menjadi gasing kematian.

Pertarungan bertema “tanah” akan menangkapmu lengah dengan menentukan tema bahan makanan sebagai buah lantern yang berbasis api dan air. Bahkan ada pertarungan pelangi, dimana kamu harus mendapatkan jumlah yang sama dari setiap unsur untuk menang.

Jelas ini rumit, jadi untungnya cerita Battle Chef maju secara bertahap, dan menjelaskan bahwa game ini menantang tetapi masih dapat dicapai, dan mudah dipahami sekaligus susah. Game ini juga sedikit aneh, tapi Battle Chef tidak sendirian; rupanya ia menjadi bagian dari tren. Food Fantasy, yang dirilis Juli ini, adalah kombinasi game petualangan dan simulasi restoran dimana si pemain dan sekelompok roh-roh berkuasa bernama “jiwa makanan” (mereka diberi nama seperti Tempura, Susu, dan Lobster Boston) berusaha untuk menyelamatkan dunia dari malaikat yang jatuh. Satu saat kamu harus melayani pelanggan, lalu satu saat lagi kamu berada dalam pertempuran yang serupa dengan game-game Final Fantasy yang aku suka banget.

Iklan

Game-game petualangan foodie itu hanya bagian kecil dari dunia gaming lebih luas. Simulasi restoran, teka-teki memasak, dan game pertanian ada dimana-mana di dunia game ponsel. Yang membedakan Battle Chef dan Food Fantasy adalah cerita dan latar belakang fantasi.

Kini orang memasak semakin sedikit dalam kehidupan nyata, jadi game-game kuliner dan pertanian yang membanjiri app store merupakan semacam proksi untuk aktivitas yang dulunya saking mendasarnya sehingga dianggap membosankan.

Ada rasa kepuasan menyajikan makanan kepada orang lain yang tak ada duanya. Tapi seperti blogger makanan aspiratif terburuk, Gwyneth Paltrow, dan orang sok bijaksana ahistoris berharap kita berpikir bahwa membuat pasta dengan tomat dan udang pada hari kerja adalah tugas yang mudah dan cepat, ya.. tidak semua orang bisa begitu.

Jadi ketika kalian memainkan Battle Chef, Food Fantasy, atau game-game masak lainnya, ada kegembiraan luar biasa. Semacam perasaan puas karena kita berhasil mencapai sesuatu. Perasaan itu tentu saja kuterima dengan senang hati.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES